Tentang Kami

Kehadiran teknologi adalah suatu kenyataan yang tidak dapat ditolak oleh masyarakat modern dewasa ini. Ia telah menjadi semacam kebutuhan paling dasar bagi masyarakat kapitalis. Begitu pula dengan keberadaan teknologi informasi. Bagi masyarakat kapital, informasi dan teknologi informasi adalah kembaran yang menjadi urat nadi untuk menjalankan roda perekonomian. Di era modern, kematian dan kehidupan ekonomi, politik dan budaya masyarakat amat ditentukan oleh informasi dan teknologi informasi. Karena itu, masyarakat kapital sering pula disebut dengan “masyarakat informasi”. Tak ayal, penguasaan informasi dan teknologi informasi merupakan kunci untuk dapat mengendalikan dan menciptakan perubahan di tengah masyarakat.

Namun, di tengah derasnya arus informasi yang tidak terbendung, masyarakat telah digiring kepada semacam perilaku konsumtif. Masyarakat disuguhi informasi terus-menerus dalam bentuknya yang dangkal: segala label tapi tanpa identitas, segala berita tapi tanpa sumber, segala isi tapi tanpa kualitas dan karena itu tanpa moral. Maka, informasi yang meluber itu, memungkinkan masyarakat modern menderita ‘obesitas informasi’: kegemukan informasi. Budaya masyarakat semacam ini jika terus berlanjut dapat melahirkan manusia dengan perilaku ‘banal’ atau kedangkalan dalam memperoleh informasi. Selanjutnya, kedangkalan informasi menciptakan kehidupan yang diwarnai ketidaksabaran (impatience), kebringasan, kesensitifan dan keegoisan.

Sementara itu, kecepatan tinggi tanpa interupsi yang menyertai kehadirian informasi telah menjadikan masyarakat tak memiliki waktu luang untuk sekedar mengkonfirmasi kebenaran suatu informasi apalagi menelaah secara mendalam. Hal ini membuka ruang hadirnya kejahatan informasi, khususnya di media sosial dan media online, dan sekaligus memberi peluang bagi ‘parasit-parasit’ kejahatan untuk terus mewartakan informasi yang keliru.

Pada akhirnya, kejahatan informasi menjadi lumrah di tengah-tengah masyarakat. Fitnah akan menjadi kelanggengan. Sesat-menyesatkan diantara sesama masyarakat menjadi budaya. Bunuh-membunuh menjadi tontonan. Maka sebuah masyarakat yang menakutkan, masyarakat skizofrenia yang berkepribadian mayat (nekrofilia): masyarakat gila yang menghalalkan pembunuhan kemanusiaan akan terwujud. Dan cita-cita membangun masyarakat adil makmur yang berjiwa Islam hanyalah utopis.

Untuk mencegah terbentuknya masyarakat skizofrenik yang nekrofilia semacam itulah, islaminesia dihadirkan. Islaminesia yang berasal dari dua gabungan suku kata, islam dan Indonesia yang berarti islam kebangsaan, adalah media informasi yang mengusung persaudaraan dan perdamaian. Dengan menjadikan islam yang ‘rahmatan lil alamin’ dan nasionalisme yang ‘bhineka tunggal ika’, Islaminesia berupaya mengembalikan tatanan kehidupan masyarakat yang rukun dan damai dari hingar bingar dan carut marut informasi yang radikal-provokatif dan fundamentalisme buta demi menciptakan masyarakat yang BERKETUHANAN dan BERKEADILAN. BerkeTuhanan adalah hidup dalam naungan kasih sayangNya sebagai saudara seiman dan berkeadilan berarti hidup rukun dan saling menghormati sebagai sesama manusia.

Karena itu, Islaminesia diharapkan dapat berperan aktif sebagai sebuah dunia informasi alternatif diantara media-media informasi lain untuk membentuk asas keberimbangan informasi. Beberapa bulan terakhir, informasi di media sosial dan media online sedikit banyak dimonopoli dan “dibajak” oleh sejumlah ‘hantu-hantu media’ informasi yang berpaham ekstrimis dan berhaluan teroris. Ideologi anti kemanusiaan semacam ini telah menjadi wabah yang melahirkan penyakit ‘kecemaasan’ (epidemic anxiety) di kalangan masyarakat Indonesia belakangan ini.

Kelahiran Islaminesia menjadi momentum yang tepat untuk memberikan informasi dengan berdasar pada lima asas informasi: berkeadilan, faktual, mencerahkan, berkejujuran dan progresif. Ditengah kegemukan dan kegalauan informasi seperti sekarang ini, diet informasi amat dibutuhkan. Bukan saja mengurangi konsumsi informasi tapi juga memilih informasi yang tepat untuk dibaca. Adapun yang dimaksud dengan 5 asas jurnalisme islaminesia adalah:

• Berkeadilan
Berkeadilan berarti bahwa setiap informasi yang disampaikan tidak didasarkan pada dorongan hawa nafsu untuk membenci sesama, melainkan untuk menjadi penegak kebenaran. Sesuai dengan ayat al-Quran, “Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu menjadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa” (QS. Al-Maidah [5]:8).

• Faktual
Faktual berarti bahwa islaminesia dalam menyampaikan informasi didasarkan pada telaah yang mendalam, bukan pada omongan orang fasik yang tidak jelas. Al-Quran berkata, “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang Fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu” (QS. Hujarat [49]:6).

• Mencerahkan
Mencerahkan dimaksudkan bahwa informasi yang disuguhkan islaminesia diperoleh dari cendekiawan yang ahli sebagai rujukan. Ini berarti, dalam mencari informasi, wajib kiranya mengetahui rujukan yang benar. Sebagaimana firman Allah Swt, “Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui” (QS. An-Nahl [16]:43). Selain itu, informasi yang diberikan oleh islaminesia bukanlah informasi yang sia-sia melainkan merupakan informasi yang meninggalkan bekas kebaikan pada jiwa manusia, “karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan Katakanlah kepada mereka Perkataan yang berbekas pada jiwa mereka” (QS. An-Nisa [4]:63).

• Berkejujuran
Selain mencerahkan, informasi yang diberikan islaminesia juga tidak mengandung manipulasi atau kebohongan. Berkejujuran berarti bahwa islaminesia tidak sekalipun menyimpangkan berita atau menyembunyikan kebenaran informasi. Sebab kejujuran dan kebenaran informasi, selain merupakan perilaku jurnalisme yang sehat, juga merupakan syarat mutlak diperbaikinya amal-amal yang rusak dan diampuninya semua dosa-dosa. Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan Katakanlah Perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. dan Barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, Maka Sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar” (QS. Al-Ahzab [33]:70-71).

• Progresif
Bukan sekedar memberi informasi, namun islaminesia juga merupakan media informasi yang bertujuan untuk membangkitkan gairah umat agar senantiasa menciptakan progres dengan berlomba-lomba untuk melakukan kebaikan (seperti menebar informasi yang benar) di tengah-tengah masyarakat. Sebagaimana perintah Quran, “Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan” (QS. Al-Baqarah [2]:148).