Sambut Panen Raya, Petani Bugis Gelar Ritual untuk Dewa Padi

Islaminesia.com, Untuk menyambut datangnya pesta panen raya, warga Suku Bugis di Polewali Mandar, Sulawesi Barat, menggelar ritual “ Mappangolo Datu Ase”, Jumat (6/10/2017).

Ritual ini merupakan persembahan kepada dewa padi (sang penguasa alam) yang diikuti dengan nyanyian berupa puji-pujian khusus kepada sang Datu Ase dan Indo Ase sebagai pembawa berkah, berupa keselamatan warga kampung dan hasil panen yang melimpah.

Tradisi turun-temurun ini diikuti dengan serangkaian ritual lain seperti maccera ase, mappadendang dan persembahan sesajen berupa telur, nasi ketan, dan kelapa muda kepada Datu Ase dan Indo Ase

Ritual diawal dengan empat wanita berpakaian adat Bugis ini mengantarkan persembahan berupa sesajen kepada Datu Ase, Indo Ase dan dewa penyelamat atau To Manurung.

Sebelum menyerahkan sesajen berupa nasi ketan, telur, dan gula merah yang dilapisi daun waru, seorang Sandro Ase atau dukun padi membacakan doa-doa keselamatan agar warga kampung terhindar dari segala bencana, marabahaya, serta hasil panennya melimpah.

Selanjutnya, sesajen itu dibawa berkeliling tujuh kali di tempat permainan padendang didirikan. Padendang sendiri dipercaya Suku Bugis sebagai salah satu persembahan dan hiburan kepada Datu Ase dan Indo Ase serta To Manurung.

Usai mengelilingi padendang, sang dukun kembali menggelar ritual doa keselamatan kepada warga kampung dan beraharap hasil panen padi warga tahun ini lebih melimpah.

Rangkaian ritual akhir dari “Mappangolo Datu Ase” diakhiri dengan menyerahkan sesajen dan membakar kemenyan serta lilin di salah satu kamar khusus yang hanya dihuni oleh Datu Ase, Indo Ase dan To manurung.

Sementara seorang asisten dukun melantunkan nyanyian berupa puji-pujian agar persembahan dan doa warga kampung ini diterima Sang Penguasa Alam.

Padi raksasa

Dalam ritual itu, terdapat padi raksasa setinggi dua meter lebih dan memiliki tujuh ruas batang panjang.

Padi tersebut disimpan dan dipelihara di salah satu kamar rumah milik Muhamamd Saleh, seorang Sandro Ase atau dukun padi di Desa Tumpiling, Kecamatan Wonomulyo, Polewali Mandar. Padi ini dipercaya sebagai Datu Ase dan Indo Ase atau dewi padi dan induk padi.

Konon padi ini saat dipanen di salah satu lahan milik Maradia Tumpiling atau Raja Tumpiling sekitar tahun 1950 lalu ini memiliki tinggi hingga mencapai atap rumah sang dukun. Namun seiring usia, padi semakin kering. Untuk memperpanjang usianya, Sandro Ase membalut batangnya dengan kain merah.

Batang padi yang tampak lebih tinggi inilah disebut warga sebagai Datu Ase atau Ratu Padi. Sedang padi lainnya adalah Indo Ase atau induk padi.

Dalam mitologi Jawa, Indo Ase sama dengan Dewa Sri. Sedang yang menghuni ranjang kecil yang dibalut kain batik di pusar rumah sang dukun Ase ini dipercaya warga sebagai tempat hunian To Manurung, dewa yang memberi keselamatan kepada warga kampung.

Sang dukun padi, Muhammad Saleh, mengaku merawat padi raksasa ini dengan sepenuh hati. Bahkan ia memeliharanya seperti anaknya sendiri.

Menurut Saleh, mengabaikan perawatan Datu dan Indo Ase bisa berdampak buruk bagi warga kampung, dan hasil panen terserang penyakit.

“Mappangolo Datu Ase itu rutin dilakukan untuk menyambut panen. Ritual ini bermakna doa dan hiburan kepada Datu dan Indo Ase agar ia berkenan memberi berkah panen yang melimpah,” jelas Saleh di sela ritual Mappangolo Datu Ase, Jumat.

Saleh mengatakan, Datu Ase bisa pergi kapan saja dari sebuah kampung jika ia tidak merasa nyaman atau merasa tidak mendapat perawatan yang baik dari warga atau Sandro Ase. (WY/Kompas)

Berikan Tanggapan Anda

komentar untuk artikel ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.