Romahurmuziy: Kesalehan Ritual Lebih Dominan daripada Sosial

Islaminesia.com, Meskipun bukan negara Islam, Indonesia sebagai negara dengan penduduk Islam terbesar di dunia sering dirujuk sebagai negara yang banyak mengadopsi prinsip-prinsip syariah dalam banyak peraturan perundang-undangan. Terbukti bahwa senarai undang-undang bernuansa syariah tentang pernikahan, zakat, haji, wakaf, peradilan agama, jaminan produk halal, dan masih banyak yang lainnya telah menjadi hukum positif yang diperjuangkan kekuatan politik Islam di Indonesia.

Masalahnya, seberapa Islamikah Islam di Indonesia? Hal ini mengemuka dalam paparan Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Romahurmuziy, dalam Rakor Bidang Pendidikan Madrasah Kanwil Kemenag Jawa Barat, di Karawang, Jawa Barat (7/10/2017).

Menyampaikan gagasan dengan tema ‘Toleransi, Negara-Bangsa, Radikalisme dan indeks keislaman’, anggota Komisi XI DPR ini menguraikan hasil penelitian tentang indeks keislaman dunia yang dilakukan Scheherazade S. Rehman dan Hossein Askar, dua guru besar yang beragama Islam dari George Washington University, Amerika Serikat.

Dalam penelitian yang dimuat Global Economy Journal tahun 2010 ini, dinyatakan bahwa negara-negara dengan penduduk mayoritas Islam, ternyata secara ekonomi kalah “Islami” dengan negara yang agama Islam bukan minoritas.

Penelitian bertajuk ‘An Economic Islamicity Index’ itu membandingkan 12 parameter, misalnya soal perlindungan tenaga kerja, rendahnya bunga, adopsi ekonomi bagi hasil, tingkat kemiskinan, dan ketimpangan pendapatan dan penguasaan lahan, ternyata peringkat teratas diduduki oleh Irlandia (1), Singapura (7), dan Norwegia (9).

Negara dengan penduduk mayoritas muslim baru muncul pada ranking ke-33, yaitu Malaysia. Indonesia berada pada peringkat 104, begitupun Turki (71), Saudi Arabia (91), dan Iran (139). Dari indeks itu terbukti bahwa saleh ritual tidak selalu sejalan dengan kesalehan sosial.

“Bagaimana kita menjelaskan, misalnya, Indonesia sebagai negara yang berketuhanan, namun tahun lalu menjadi negara dengan pengakses konten porno tertinggi di dunia. Contoh lain, bagaimana menjelaskan bunga bank di Singapura yang negara sekuler hanya 2 persen, sedangkan di Indonesia, di mana Islam melarang riba, bunga masih pada kisaran 10-11 persen,” ujar mantan Sekjen DPP PPP itu.

“Pendidikan keislaman di Indonesia lebih dominan membangun kesalehan ritual, sementara kesalehan sosial, terkait dengan ajaran Islam yang anti-penumpukan kekayaan, pengentasan kemiskinan dan tidak membiarkan berlangsungnya ketimpangan, jarang dibicarakan,” lanjut pria yang akrab disapa Rommy.

Dominasi saleh ritual inilah menjadikan negeri yang meletakkan ketuhanan pada sila pertamanya tidak risi ketika hanya 26 ribu (0,01 persen) dari 220 jutaan rekening di Indonesia namun nilainya mencapai 46 persen nilai tabungan nasional.

“Padahal Quran jelas mengatakan, jangan engkau biarkan harta itu berputar-putar di antara orang-orang kaya di antaramu,” lanjutnya.

Radikalisme akan tumbuh subur, manakala konsentrasi pengajaran agama hanya dalam rangka membangun kesalehan ritual belaka. Sebab, aspek-aspek ketimpangan sosial sebagaimana terpotret dalam indeks keislaman tadi, mengukuhkan pandangan kaum radikalis bahwa satu-satunya jalan untuk menjawab hal tersebut adalah mengubah negara dengan penduduk mayoritas Islam menjadi negara khilafah.

“Menekan korupsi, perjudian, dan peredaran narkoba, dengan memperluas cakupan pendidikan Islam adalah jihad terbesar yang sangat Islami bagi umat Islam di Indonesia. Jadi, jihad bukan hanya gegap-gempita untuk urusan penistaan agama saja,” tegas pria kelahiran Yogyakarta ini. (WY/Detik)

Berikan Tanggapan Anda

komentar untuk artikel ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.