Myanmar Diduga Sengaja Usir Rohingya secara Permanen

1Islaminesia.com – Sebuah laporan yang dikeluarkan pada Rabu (11/10) di Geneva, Swiss, oleh kantor Hak Asasi Manusia (HAM) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menuduh tentara Myanmar telah menyerang rumah dan desa minoritas Rohingya.

Tidak hanya itu, tentara Myanmar juga diduga berusaha “menghapus bangunan-bangunan bersejarah ” di wilayah Rohingya sehingga secara efektif kawasan itu tidak dikenali lagi.

Laporan oleh tiga anggota tim HAM PBB itu didasarkan pada 60 wawancara perorangan dan kelompok di kamp pengungsi di Cox’s Bazar, Bangladeh, antara 14 dan 24 September 2017.

Menuruta laporan Voice of America dari Geneva, laporan itu menuduh Myanmar menjalankan rencana yang terorganisir, terkoordinasi, dan sistematis untuk menyerang Rohingya.

Serangan itu pun dilakukan secara brutal terhadap etnis minoritas Rohingya yang beragama Islam di Rakhine untuk mengusir mereka ke luar negeri dan mencegah mereka kembali lagi.

Seorang pemantau HAM, Thomas Hunecke, mengatakan, informasi yang dapat dipercaya menunjukkan, pasukan keamanan Myanmar bersama etnis lokal Rakhine, telah melakukan pelanggaran HAM berat terhadap Muslim Rohingya.

Di dalamnya termasuk penghancuran harta benda dan pembakaran tempat tinggal dan desa-desa.

“Kerusakan rumah, ladang, gudang makanan, tanaman pangan, ternak dan bahkan pepohonan, tidak akan memungkinkan warga Rohingya kembali ke kehidupan normal dan mendapat mata pencaharian pada masa depan di Rakhine utara,” ungkap Hunecke.

Hunecke mengatakan, pihak berwenang Myanmar mencoba menghapus tempat-tempat bersejarah dan mengubah Rohingya menjadi daerah terpencil dan tak dikenali.

Lebih dari setengah juta pengungsi Rohingya telah melarikan diri ke Cox’s Bazar, Banglades sejak 25 Agustus 2017 menyusul serangan dari milisi Rohingya ke lebih dari 30 pos keamanan Myanmar.

Para pengungsi mengatakan kepada penyidik PBB, sebelum dan selama serangan, pasukan keamanan menggunakan megafon untuk memperingatkan penduduk desa agar melarikan diri ke Banglades  atau “kami akan membakar rumah kalian dan membunuh kalian.”

Laporan itu mengatakan, operasi pembersihan dimulai pada awal Agustus, jauh sebelum serangan yang dituduhkan itu terjadi pada akhir Agustus.

Tampaknya serangan itu berkorelasi sebagai respons terhadap serangan milis yang sama pada Oktober 2016 terhadap sebuah pos keamanan sehingga sembilan polisi Myanmar tewas.

Kepala HAM PBB, Zeid Ra-ad al-Hussein, menggambarkan operasi pemerintah di Rakhine itu sebagai “pembersihan etnis yang klasik.”

Hunecke mengatakan, tidak ada yang didengar atau dilihatnya bisa membantah kenyataan itu.

Pemimpin de facto Myanmar, Aung San Suu Kyi, telah mengecam pelanggaran HAM yang terjadi di negara bagian Rakhine, namun dia mendapat kecaman internasional yang kuat, karena tidak berbicara lebih kuat mengenai situasi itu. (II/TF/Kompas)

Berikan Tanggapan Anda

komentar untuk artikel ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.