Tauhid Rububiyyah dalam Perspektif Akal dan Wahyu (Bag. 3 Selesai)

Sumber: juita14.student.unidar.ac.id

Sumber: juita14.student.unidar.ac.id

Argumen Tauhid Rububiyyah

Prinsip tauhid (minimal sebagian dari tingkatan-tingkatannya) merupakan sesuatu yang fitri. Tapi berkenaan dengan kefitriannya tidak menyalahi jika dikonstruksi argumen tentangnya. Berdasarkan ini, terdapat ayat-ayat dalam Al-Qur’an yang kandungannya dapat dihitung sebagai argumen atas tauhid. Salah satu dari ayat-ayat itu yang biasanya dipandang sebagai dalil atas tauhid rububiyyah yakni ayat 22 Surah Al-Anbiya:

“Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maka Maha suci Allah yang mempunyai ‘Arsy daripada apa yang mereka sifatkan (QS. Al-Anbiya: 22).

Perlu kami sebutkan bahwa di antara para peneliti, terjadi perbedaan pandangan terhadap ayat di atas tentang bagian tauhid yang mana yang ditetapkannya. Berdasarkan satu pandangan, dengan memperhatikan bahwa ayat ini menafikkan anggapan terdapat banyak Ilah (âlihah), maka natijah dari itu menetapkan tauhid ulûhi. Dari sisi lain, suatu kelompok memandang kandungan ayat ini dalil atas tauhid rububiyyah dan sebagian lainnya memandangnya masuk pada kerangka burhan tamânu’. Dengan memperhatikan keberadaan aspek saling melazimkan antara bagian-bagian tauhid yang bermacam-macam dari satu sisi dan antara mafhum-mafhum ilâh dan rabb dari sisi lain, perbedaan di atas tidak memiliki natijah penting dan kami di sini lebih cenderung memilih pandangan kedua; sebab kami melihat kandungan argumennya lebih sesuai dengan tauhid rububiyyah.

Petikan burhan dari kandungan ayat tersebut adalah: Jika alam eksistensi memiliki lebih dari satu rabb, maka setiap cerminan sistemnya akan saling bertabrakan dan menyebabkan kehancuran. Akan tetapi, kita menyaksikan bahwa alam menjaga keserasian dan keutuhannya, ia memiliki satu sistem yang utuh dan kokoh. Oleh karena itu, alam hanya memiliki satu rabb.

Dalam menjelaskan argumen ini, dapat dikatakan bahwa asumsi keberadaan dua rabb yang mandiri bagi alam, akan memestikan bahwa kita mempunyai dua sistem yang saling mandiri satu sama lain, yang mana masing-masing dari dua rabb yang diasumsikan dapat mempengaruhi alam tanpa izin yang lainnya dan memberi aturan terhadapnya. Dalam bentuk ini, maka akan meniscayakan dua sistem yang berbeda yang berkuasa atas alam eksistensi dan masing-masing dua rabb yang diasumsikan akan mengatur dan mengelola alam sesuai dengan keinginan dan kehendaknya, dan hal ini tidak akan menghadirkan sesuatu kecuali kerusakan dan kehancuran alam. Dengan kata lain, banyaknya pengelola secara dharuri akan menghadirkan perbedaan di dalam kepengelolaan dan perbedaan di dalam kepengelolaan tidak sesuai dengan keserasian, keharmonisan, dan keutuhan bagian-bagian eksistensi.

Oleh karena itu, keteraturan alam dan berkuasanya undang-undang yang tetap serta sistem yang satu, menandakan bahwa alam diatur dan dikelola oleh satu pengatur, dan ini tidak lain adalah prinsip tauhid dalam rububiyyah.

Terdapat dalam riwayat bahwa Hisyam ibnu Hikam bertanya kepada Imam Shadiq, “Apa dalil keesaan Tuhan?” Imam dalam menjawab pertanyaan tersebut berkata, “Keutuhan dan kesinambungan pengelolaan dan sempurnanya ciptaan (menandakan ketunggalan Tuhan), sebagaimana Tuhan berfirman, ‘sekiranya di langit dan bumi terdapat tuhan-tuhan kecuali Allah, maka niscaya keduanya pastilah rusak.’”

Berdasarkan riwayat lain, Imam Shadiq dalam menjawab pertanyaan seorang kafir berkata, “Ketika kita menyaksikan keseimbangan dan keteraturan ciptaan, bintang-bintang yang bergerak (pada porosnya masing-masing) dan pergantian siang dan malam serta bergilirnya matahari dan bulan (mengikuti program dan undang-undang yang tetap), kebenaran pengelolaan dan keutuhan perkara-perkara itu menandakan bahwasanya pengatur mereka adalah satu.”

Pengelolaan Makhluk dengan Izin Khalik

Sebagaimana telah kita ungkapkan sebelumnya, tauhid perbuatan tidaklah bermakna menegasikan secara totalitas perbuatan-perbuatan makhluk Tuhan; akan tetapi dengan makna bahwa perbuatan setiap maujud berada dalam vertikal perbuatan Tuhan dan dengan izin serta kehendak-Nya. Berasaskan inilah, maka Al-Qur’an terkadang menisbahkan pengelolaan kepada maujud-maujud lain, misalnya kepada malaikat, “Dan (malaikat-malaikat) yang mengatur urusan (dunia)”

Tapi pengaturan ini adalah jelas tidak mandiri dan tidak sejajar dengan pengaturan Tuhan; bahkan merupakan pancaran dari pengaturan Tuhan. Dengan demikian, Al-Qur’an menisbahkan dimensi-dimensi rububiyyah Tuhan terhadap makhluk-makhluk-Nya dan pada saat yang sama memandang hal itu sebagai suatu dimensi dari dimensi-dimensi pengelolaan Tuhan. Sebagai contoh, dari satu sisi, memberi rezki dipandang sebagai dimensi perbuatan Tuhan.

“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)” (QS. Hud: 6). (SYS/FH)

Berikan Tanggapan Anda

komentar untuk artikel ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.