Tauhid Rububiyyah dalam Perspektif Akal dan Wahyu (Bag. 2)

Sumber: IslamicWays.net

Sumber: IslamicWays.net

Tauhid Rububiyyah dalam Al-Qur’an

Islaminesia.com—Sebaimana telah diungkapkan makna tauhid rububiyyah adalah bahwa satu-satunya pengelolah, pemberi sistem, dan pengatur hakiki alam eksistensi adalah Tuhan dan kepengelolaan maujud-maujad lain hanya terjadi dalam bayangan kepengelolaan Tuhan. Di sisi lain makna yang bertolak belakang dari itu, yakni sirik dalam rububiyyah adalah bahwa manusia memandang terdapat maujud lain selain Tuhan, yang dalam bentuk mandiri, mempunyai kepengelolaan, memperbaiki, dan mengatur perkara-perkara sebagian dari alam eksistensi.

Dengan memperhatikan penyebaran dari keyakinan kepada rabb-rabb (tuhan-tuhan) yang beragam, salah satu yang menjadi fokus dan inti argumentasi para nabi dengan kaum musyrik, adalah argumen atas tauhid rububiyyah. Sebagai contoh, Al-Qur’an menukilkan bahwasanya Nabi Yusuf as dalam mendakwahi dua orang yang bersamanya dalam penjara, mengatakan: “Apakah rabb-rabb yang terpisah-pisah lebih baik ataukah Allah yang Maha Tunggal lagi Maha Perkasa?” (QS. Yusuf: 39). 

Al-Qur’an menukil dalil yang sangat banyak dari bapak tauhid, Nabi Ibrahim as, dimana bagian paling urgennya adalah tentang tauhid rububiyyah. Sebagai contoh, nukilan Al-Qur’an mengenai kisah dialog Nabi Ibrahim as dengan raja Namrud:

Apakah tidak kamu lihat (ketahui) tentang orang yang membantah Ibrahim tentang Tuhannya yang Allah telah memberikan kepadanya kerajaan? Ketika Ibrahim berkata: Tuhanku yang menghidupkan dan mematikan, ia berkata: aku menghidupkan dan mematikan, Ibrahim berkata: sesungguhnya Allah mendatangkan matahari dari timur maka datangkanlah ia dari barat, maka yang kafir  terkejut dan ternganga, dan Allah tidak memberi petunjuk pada kaum yang zalim” (QS. Al-Baqarah: 258).

Dari kandungan dialog di atas menjadi jelas bahwa Namrud mempunyai pandangan jika Allah itu adalah Tuhannya tuhan-tuhan dan di samping Allah ia juga berkeyakinan terhadap keberadaan tuhan-tuhan lain serta ia juga berpandangan untuk dirinya kedudukan rububiyyah. Nabi Ibrahim as dalam membuktikan bahwa Namrud tidak mempunyai saham dalam pengelolaan alam, mengisyaratkan salah satu dimensi dari dimensi-dimensi rububiyyah Tuhan dan berkata: Tuhanku (yang merupakan satu-satunya pengatur hakiki) mengatur alam ini dengan cara menghidupkan dan mematikan sebagian maujud-maujud. Jelas bahwa maksud Nabi Ibrahim dari menyebutkan dua sifat ini, adalah makna hakiki dari keduanya; akan tetapi Namrud melakukan aksi penipuan dengan memerintahkan di antara narapidana-narapidananya, seorang dibebaskan dan seorang lainnya dibunuh mati, dan berasaskan ini dengan penuh kesombongan memaklumatkan bahwa ia adalah yang mematikan dan menghidupkan.

Kendati pun Namrud di sini  melakukan fazilogik, tetapi pada hakikatnya medan untuk bisa ia melakukan hal itu tidak datang dari sisi Nabi Ibrahim as, oleh karena itu Nabi Ibrahim as lebih memilih mengungkapkan dimensi lain dari dimensi rububiyyah Tuhan yang tidak mempunyai kemungkinan melakukan fazilogik terhadapnya.

Dengan demikian, Nabi Ibrahim as mengisyaratkan pengaturan gerak matahari dan berkata: “Tuhan menerbitkan matahari dari ufuk timur, karena itu jika kamu pengatur alam harus mampu menerbitkan matahari dari ufuk barat.” Di sini Namrud tertegun serta diam tanpa jawaban dalam menghadapi dalil tauhid Nabi Ibrahim as.

Secara lahiriah pondasi hujah Nabi Ibrahim as adalah ini, bahwa asumsi rububiyyah takwini suatu maujud selain Tuhan, memestikan bahwa maujud tersebut dapat campur tangan dalam sistem alam semesta dan ia berasaskan iradah dan kehendaknya dapat merubah sistem yang ada; akan tetapi tidak satupun dari tuhan-tuhan dusta yang mempunyai kekuatan seperti itu.

Al-Qur’an pada tempat lain menukil argumen Nabi Ibrahim as dalam berhadapan dengan orang-orang yang berpandangan terhadap kerububiyyahan benda-benda langit. Dalam argumentasi ini, Nabi Ibrahim as sesuai dengan lahiriah dan untuk menarik perhatian kaum musyrik, menampakkan dirinya seakidah dengan mereka, kemudian memberitahukan kepada mereka ketidakbenaran mazhabnya dengan menunjukkan burhan yang kokoh kepada mereka:

Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: ‘Inilah Tuhanku’, tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: ‘Saya tidak suka kepada yang tenggelam.’ Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: ‘Inilah Tuhanku’. tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: ‘Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat.’ Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: ‘Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar’. Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: ‘Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.” (QS. Al-An’am: 76-79).

Dengan merenungi kandungan ayat tersebut di atas, dapat diperoleh poin yang menjadi perhatian dan penuh ibrah, seperti kalimat: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam“. Dari ungkapan tersebut diperoleh dua poin penting: pertama, maujud yang tenggelam tidak mungkin adalah rabb; sebab rububiyyah berkisar atas poros hubungan takwini dan berkesinambungan antara rabb dan marbub (pengatur dan diatur); oleh karena itu tidak mungkin hubungan ini terputus, meskipun hanya sedetik serta tidak mungkin dinafikan kekuasaan rabb yang meliputi marbub, kendatipun sedikit; sebab keniscayaan rububiyyah hakiki adalah dengan terputusnya hubungan tersebut, maka sisi dan dimensi marbub akan menjadi kacau balau, serta tata tertib eksistensinya akan menjadi rusak berantakan. Kedua, Nabi Ibrahim as pada kedudukan menafikan secara gamblang rububiyyah bintang-bintang, berkata: “Saya tidak menyukai yang tenggelam“. Ungkapan ini menjelaskan hubungan yang dalam antara kecintaan dengan rububiyyah dan uluhiyah. Mungkin saja Nabi Ibrahim as hendak menjelaskan kenyataan ini, bahwa rabb hakiki yang mempunyai kelayakan uluhiyah, dalam bentuk takwini menarik kecintaan manusia kepada-Nya. Oleh karena itu, rububiyyah hakiki senantiasa bersama dengan kecintaan dan dari sisi ini jika hati manusia tidak tertarik ke arah suatu maujud, dimana maujud itu bukan rabb hakiki, dikarenakan tidak mempunyai kelayakan untuk disembah dan diibadahi. (SYS/FH)

 

Berikan Tanggapan Anda

komentar untuk artikel ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.