Merindukan Lahirnya Pemimpin Sejati

right_wayIslaminesia.comMoney politics menjadi salah satu perbincangan yang selalu hadir di setiap momen Pemilu, baik pemilihan legislatif, maupun pemilihan eksekutif seperti pemilihan gubernur dan bupati/walikota. Proses politik yang dilakoni secara abnormal seperti itu, akan membukakan jalan para pemimpin gadungan ke puncak kekuasaan dan menenggelamkan serta tersaruk-saruknya pemimpin sejati dalam koridor massifikasi.

Tanggal 15 Februari 2017 yang lalu, Komisi Pemilihan Umum (KPU) kembali menyelenggarakan pilkada serentak pada 101 daerah di seluruh Indonesia. Setiap daerah yang melaksanakan perhelatan tersebut, tentu berharap akan munculnya pemimpin yang mereka dambakan untuk dapat membawa masyarakatnya menuju kesejahteraan yang diidamkan bersama.

Pentingnya Seorang Pemimpin

Dalam sistem sosial masyarakat kita, posisi pemimpin menjadi sangat vital, terlebih lagi pada masa transisi demokrasi yang kita alami sekarang ini. Dr. Jalaluddin Rakhmat dalam salah satu tulisannya, yang menukil James M. Burns dalam bukunya Leadership, menuliskan bahwa “Salah satu kerinduan yang paling universal pada zaman ini adalah kerinduan akan kepemimpinan yang memikat (compelling) dan kreatif… Para pemimpin raksasa telah melintas cakrawala budaya, politik dan intelektual kita. Sebagai pengikut, kita mencintai dan mengecam mereka. Kita berbaris untuk mereka dan berperan melawan mereka. Kita mati demi mereka dan kita membunuh sebagian mereka. Kita tidak dapat mengabaikan mereka.” Dengan demikian, karena kita selalu merindukan kehadiran pemimpin, maka kita tidak dapat mengabaikannya. Kita mesti menentukan sikap terhadap mereka; cinta atau benci, mendukung atau menentang, menerima atau mempermasalahkan.  

Sedemikian pentingnya kedudukan dan posisi pemimpin, karena pada dirinya arah serta orientasi dari sebuah daerah diamanahkan. Demikian juga, rakyat yang dipimpinnya tentu berharap banyak akan kemajuan, kesejahteraan serta keberkahan akan mereka rasakan. Namun sayangnya, yang dijumpai selama ini dari proses demokrasi yang cenderung liberal, ialah munculnya penguasa-penguasa baru yang menduduki jabatan kepala daerah. Akibatnya, alih-alih mengantarkan rakyatnya ke gerbang kemajuan, kemakmuran dan kesejahteraan, justru yang ditimbulkan adalah kemerosotan diberbagai bidang kehidupan.

Pemimpin Sejati, Akankah Lahir?

Jika memperhatikan pemberitaan beberapa waktu terakhir ini, kita menyaksikan betapa secara bergantian banyaknya pejabat dan kepala daerah, yang harus berurusan dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), hal itu dikarenakan penyalahgunaan kekuasaan yang mereka miliki. Dalam konteks ini, antara pejabat dan kekuasaan, memang nampak sangat nyata memiliki hubungan dan irisan yang begitu kuat. Karenanya, muncul pertanyaan. Seperti apakah pemimpin yang kita dambakan sesungguhnya? Mudji Sutrisno menyebutkan bahwa memang ada perbedaan tajam antara pemimpin dan pejabat. Banyak orang mengira bahwa menjadi pejabat sama dengan menjadi pemimpin. Namun, nurani-nurani jernih masyarakat banyak (rakyat) akan memberikan penilaian yang jujur: apakah ia pemimpin sejati ataukah ia opurtunis-opurtunis yang selama kekuasaan jabatannya, hanya memperkaya diri dan membohongi rakyat banyak. Sebab itu, terjadi perbedaan yang begitu jauh antara “keabadian” makna seorang pemimpin dengan kesementaraan makna temporal seorang pejabat. 

Oleh karena itu, jauh sebelumnya, Sayyidina Husain bin Ali—Cucu Rasulullah SAW—telah mengajarkan kepada kita bahwa sebelum kita “menorehkan cap” kepatuhan pada perjanjian dengan seorang pemimpin, maka kita harus mengetahui dahulu kualitas pemimpin tersebut. Sayyid Husain Fadhlullah menjelaskan kalimat Imam Husain itu sebagai berikut : “Kepada siapa engkau berbaiat? Kepada siapa engkau berjanji? Kepada siapa engkau menjalin kontrak? Sebelum engkau meletakkan tanganmu pada tangan siapa saja, pelajarilah kepribadiannya, pelajarilah perjalanan hidupnya, pelajarilah sikapnya kepadamu, pelajarilah alat-alat penindasan yang dimilikinya terhadapmu. Setelah itu, berhati-hatilah untuk meletakkan tanganmu di atas tangan seorang manusia yang mempunyai semua alat untuk menindas, karena ikatan perjanjian antara engkau dengan dia, akan menjadi sebuah perjanjian yang memberikan peluang kepada yang kuat untuk menindas yang lemah. Jangan letakkan tanganmu pada tangan seorang manusia yang menginginkan agar tangannya berada di atas tanganmu, untuk memaksamu menerima syarat-syarat yang tidak engkau setujui. Bila kejadiannya seperti itu, hendaknya engkau segera menarik tanganmu (dukunganmu). Persoalannya adalah apakah kehormatan masih ada padamu atau tidak, apakah engkau dalam keadaan hina atau tidak.” Secara singkat Sayyidina Husain berpesan: Taatilah seorang pemimpin selama kamu yakin bahwa ketaatanmu kepadanya didasarkan pada hati nuranimu, pada kebenaran yang kamu yakini. Bila ia memaksamu untuk melakukan sesuatu yang tidak kamu yakini sebagai kebenaran, wajib bagimu melakukan perlawanan. Mengapa demikian? Karena tugas seorang pemimpin sejati ialah memperbaiki rakyatnya, baik secara ruhaniah maupun jasmaniah/lahiriah.

Lantas bagaimana kriteria dan ciri dari pemimpin sejati atau pemimpin utama itu? Dalam buku “Filsafat Politik Islam”, Yamani menjelaskan konsep Al-Madinah Al-Fadhilah (Kota Utama) dari Al-Farabi dengan mendakukan bahwa Kota utama adalah kota yang diperintah oleh pemimpin tertinggi yang “… benar-benar memiliki berbagai ilmu dan setiap jenis pengetahuan … Ia mampu memahami dengan baik segala yang harus dilakukannya. Ia mampu membimbing dengan baik sehingga orang melakukan apa yang diperintahkannya. Ia mampu memanfaatkan orang-orang yang memiliki kemampuan. Ia mampu menentukan, mendefinisikan dan mengarahkan tindakan-tindakan ke arah kebahagiaan.” Ringkasnya, mereka adalah orang yang–selain sempurna fisik, mental, dan jiwanya–memiliki keahlian yang sempurna dalam kearifan teoritis dan praktis (al-hikmah al-nazhariyyah dan al-hikmah al-‘amaliyyah) yakni keahlian dalam politik atau pemerintahan.

Pada akhirnya, kita semua tentu berharap, bahwa proses politik yang telah berlangsung dalam Pilkada serentak lalu, bisa berjalan dengan lancar, transparan dan demokratis, hingga pada tahap akhir, dengan tetap memegang prinsi-prinsip nilai, norma-norma, serta aturan-aturan yang telah disepakati bersama. Sehingga apapun hasil yang diperoleh nantinya dapat dipertanggungjawabkan serta akuntabel. Tetapi dari proses tersebut, akankah lahir pemimpin-pemimpin utama dan sejati? Kita tunggu saja. Wallahu a’lam bisshawab.

Oleh: Em Azikin Idris

*Tulisan ini diadaptasi ulang oleh penulisnya, yang sebelumnya dimuat pada Harian FAJAR Makassar, Rabu 15 Februari 2017.

Berikan Tanggapan Anda

komentar untuk artikel ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.