Tauhid Rububiyyah dalam Perspektif Akal dan Wahyu (Bag. 1)

sumber: infoyunik.com

sumber: infoyunik.com

Islaminesia.com—Salah satu bagian dari pembahasan tauhid perbuatan adalah tauhid dalam “rububiyyah” (pengaturan). Sebelum tauhid ini dijelaskan, sebaiknya kita mengulas makna kata “rabb” terlebih dahulu.

Terkadang kata rabb dimaknakan dengan makna murabbi. Meskipun makna rabb dengan makna murabbi (pendidik) adalah dekat, tetapi dua kata ini secara akurat tidaklah satu. Pada salah satu dari penggunaan kata ini, rabb dimutlakkan atas seseorang yang mempunyai ikhtiar terhadap seseorang atau suatu obyek. Dengan demikian setiap kali ia menghendaki, ia dapat campur tangan mengatur dan mengelola perkara dan urusan orang atau obyek tersebut.

Akan tetapi, dengan memikirkan makna di atas menjadi jelaslah bahwa rububiyyah merupakan kemestian dari kepemilikan hakiki; sebab jika suatu maujud bukan pemilik hakiki dari maujud lain, ia tidak akan dapat secara mandiri dan dalam bentuk mutlak mengatur perkara-perkaranya. Dengan demikian rabb dimutlakkan atas pemilikan yang mengatur dan mengarahkan perkara-perkara yang dimilikinya.

Dengan meninjau makna rabb, maka tauhid dalam rububiyyah bermakna bahwa hanya Tuhan pemilik hakiki seluruh eksistensi. Dia yang berhak mengatur urusan-urusan seluruh maujud alam. Kepengaturan-Nya terhadap seluruh alam dalam bentuk mandiri dan tanpa butuh pada rekanan atau izin maujud lain. Jika salah satu dari makhluk-makhluk-Nya, dalam wilayah yang terbatas, melakukan kepengelolaan dan kepengaturan urusan-urusan maujud lain, pekerjaannya ini tidaklah mandiri dan bergantung kepada izin, iradah dan kehendak Tuhan.

Pembuktian Tauhid Rububiyyah

Sekarang setelah makna tauhid rububiyyah sudah jelas, giliran kami mengutarakan dalil akal tentangnya. Di antara dalil-dalil yang bermacam-macam yang dikonstruksi bagi tauhid rububiyyah, kami cukupkan hanya menyebutkan dua dalil:

Dalil pertama: Rububiyyah adalah kemestian dari pemilikan hakiki. Ketika suatu maujud bukanlah pemilik hakiki maujud lain, maka ia tidak akan bisa mengatur urusan-urusannya dalam bentuk mutlak dan mandiri. Dari sisi lain, kepemilikan hakiki bersumber dari aspek kepenciptaan; sebab eksistensi makhluk dan seluruh aspek-aspek eksistensinya adalah di tangan pencipta. Oleh karena itu, rububiyyah merupakan keniscayaan kepenciptaan, dan karena pencipta tunggal seluruh eksistensi adalah Tuhan, maka rabb dan pengatur mutlak alam juga adalah Tuhan dan tidak satupun maujud lain yang memiliki pengaturan mandiri yang sejajar dengan pengaturan Tuhan.

Dalil kedua: Kami sudah utarakan bahwa rububiyyah bermakna pengelolaan perkara sesuatu dan pengaturan terhadapnya. Berasaskan ini, jika diasumsikan keberadaan rabb-rabb yang jamak dalam alam eksistensi, dimana satu sama lain sejajar dan dalam bentuk mandiri melakukan pengelolaan dan pengaturan perkara-perkaranya, maka meniscayakan  kejadian campur tangan dan kepengelolaan masing-masing dari mereka serta mendapatkan kekuasaan pada sistem khusus dalam alam. Dari sisi lain, kenyataan yang disaksikan dan tidak mungkin diingkari bahwasanya alam eksistensi diatur di bawah kekuasaan satu sistem dan sistemik serta perkara-perkara alam bergerak ke arah keteraturan dan keselarasan.

Dengan demikian, kesatuan sistem pengelolaan alam dan pengaturan harmoni serta keselarasan bagian-bagiannya yang bermacam-macam, menunjukkan atas ketunggalan pengelola dan pengatur serta melukiskan bahwasanya rabb hakiki alam, adalah satu dan tunggal. (SYS/FH)

(Bersambung)

Berikan Tanggapan Anda

komentar untuk artikel ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.