Tauhid Perbuatan dalam Sorotan Argumen

 

Sumber: InfoUnik.Org

Sumber: InfoUnik.Org

Argumen Pembuktian Tauhid Perbuatan

Islaminesia.com—Secara telaah dan tinjauan, ketelitian yang seksama terhadap sifat-sifat kesempurnaan Tuhan dari satu sisi, dan perenungan terhadap hubungan alam eksistensi dengan penciptanya dari sisi lain, maka tauhid perbuatan dengan mudah dapat diafirmasikan serta dibuktikan. Pada hakikatnya tauhid perbuatan dapat dikembalikan kepada dua proposisi berikut ini:

  1. Tuhan mustahil dalam melakukan perbuatan-Nya bersekutu dan berserikat;

  2. Tidak ada satu pun dari maujud-maujud alam adalah pelaku mandiri; akan tetapi seluruh perbuatan dan karya mereka, hingga tingkatan yang lebih atas, dinisbahkan dan disandarkan kepada Tuhan.

Untuk membuktikan proposisi pertama, cukup dengan memperhatikan sifat-sifat kesempurnaan Tuhan. Dalam pembahasan sebelumnya telah jelas bahwa Tuhan adalah wajibul wujud dan sempurna mutlak serta tidak ada jalan sama sekali bagi kekurangan dan keterbatasan dalam dzat-Nya. Dari sisi lain, secara aksiomatis, asumsi Tuhan butuh pada maujud lain (dalam melakukan pekerjaan-Nya), tidak sesuai dengan kesempurnaan mutlak-Nya; sebab akal menghukumi bahwa maujud yang dalam perbuatannya butuh kepada yang lain, dibandingkan terhadap maujud yang tidak butuh demikian ini, adalah kurang dan tidak sempurna. Oleh karena itu, kemestian asumsi kebersekutuan maujud lain dalam terjadinya perbuatan Tuhan, meniscayakan kekurangan dan keterbatasan dzat Tuhan dan ini tidak sesuai dengan kesempurnaan mutlak Tuhan.

Untuk membuktikan proposisi kedua dengan perantara hubungan wujud-wujud mumkin dengan dzat wajibul wujud, dapat dipaparkan sebagai berikut:

  1. Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya bahwa Tuhan adalah penyebab seluruh sebab-sebab dan maujud-maujud lainnya semuanya adalah akibat-Nya;

  2. Berasaskan makna yang dalam tentang sebab, apa yang bergantung terhadapnya, tidak lain adalah totalitas eksistensi akibat. Dengan ungkapan yang lebih akurat, akibat adalah identik dengan kebergantungan kepada sebab;

  3. Perbuatan suatu wujud pada dasarnya merupakan efek wujud tersebut dan merupakan hal-hal yang menyertainya dan bergantung kepadanya.

Dengan memperhatikan mukadimah-mukadimah tersebut di atas, maka menjadi jelaslah bahwa maujud-maujud mumkin, sebagaimana secara asas keeksistensian mereka bergantung kepada wajibul wujud, dalam perbuatan-perbuatan mereka juga tidak mempunyai kemandirian; sebab perbuatan-perbuatan mereka bukanlah sesuatu kecuali efek-efek dzat mereka. Konklusinya, sebagaimana maujud-maujud kontingen (mumkin) di dalam asas keeksistensian tidak mandiri dari wajibul wujud, dalam perbuatan-perbuatan dan efek-efeknya juga adalah bergantung dan tidak mandiri dari wajibul wujud.

Dengan demikian telah terbukti bahwa: Pertama, Tuhan dalam perbuatan-perbuatan-Nya tidak butuh dari bantuan dan sekutu; dan kedua, tidak ada satu pun maujud selain-Nya dalam merealisasikan pekerjaan dan perbuatan yang mandiri sendiri.

Tauhid dalam Kepenciptaan

Salah satu bagian dari tauhid perbuatan adalah tauhid dalam kepenciptaan; yakni keyakinan bahwa satu-satunya pencipta hakiki hanyalah Tuhan dan seluruh eksistensi lain adalah makhluk-Nya serta kepenciptaan mereka tidak mempunyai sisi kemandirian, akan tetapi mengikuti iradah dan kehendak Tuhan.

Tauhid dalam kepenciptaan menjadi jelas lewat perenungan terhadap hubungan maujud-maujud kontingen dengan wajibul wujud. Seluruh alam imkan merupakan akibat Tuhan dan tanpa perantara atau dengan perantara tercipta oleh Tuhan. Dari sisi bahwa dalam alam wujud hanya ada satu wajibul wujud di mana Dia adalah sebab bagi seluruh sebab-sebab dan seluruh maujud-maujud lain merupakan akibat-Nya, maka dalam alam wujud juga hanya ada satu pencipta dan pemberi eksistensi, sementara maujud-maujud lainnya seluruhnya merupakan ciptaan dan makhluk-Nya.

Akan tetapi berasaskan tauhid perbuatan sebagaimana yang dijelaskan, tauhid dalam kepenciptaan tidak bertentangan dengan kenyataan bahwa sebagian makhluk-makhluk Tuhan menciptakan objek-objek khusus; sebab hal ini dalam kevertikalan kepenciptaan Tuhan dan dalam wilayah kehendak serta dengan izin-Nya, dan sama sekali tidak memiliki sisi kemandirian. Oleh karena itu makna dari tauhid kepenciptaan adalah penafikan terhadap kemandirian kepenciptaan maujud-maujud lain selain Tuhan. (SYS/FH)

 

Berikan Tanggapan Anda

komentar untuk artikel ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.