Bersyukur atas Karunia Allah SWT

Sumber: noormuslima.com

Sumber: noormuslima.com

Islaminesia.com—Segala sesuatu atau semua kenikmatan yang kita rasakan, adalah merupakan karunia yang datang dari Allah SWT. Karunia Ilahi selalu menyertai manusia dalam setiap keadaan. Kalau sekejap saja karunia Ilahi itu dihentikan dari kita, maka keadaan akan sangat buruk. Allah SWT berfirman, “Maka kalau tidak ada karunia Allah dan rahmat-Nya atasmu, niscaya kamu akan tergolong orang yang rugi.” (QS. Al-Baqarah: 64)

Sebelumnya, kita perlu tahu bahwa karunia Allah itu terdiri atas karunia yang bersifat umum dan karunia yang sifatnya khusus. Karunia-karunia umum, Allah sediakan untuk semua makhluk-Nya, tanpa ada kekhususan. Sehingga, tidak bisa dikatakan bahwa hujan milik kalian, ilmu milik yang lain. Surga milik satu kelompok sedangkan kelompok lain ahli neraka. Atau dalam bahasa yang lain, bahwa pada nikmat atau karunia yang bersifat materi, tidak ada pengkhususan. Semua makhluk mendapatkan jatahnya, entah itu orang baik atau orang buruk, si mukmin ataupun si kafir, binatang dan seluruh makhluk hidup. Jadi, kaum kafir Timur dan Barat juga menikmati karunia Allah yaitu karunia-karunia materi. Akan tetapi, karunia-karunia Allah tidak hanya berupa materi namun juga berupa non materi (spiritual dan ruhani), di mana untuk jenis ini orang-orang yang ingkar tidak akan mendapatkannya.

Nikmat dan karunia ruhani, wilayah, iman dan takwa, tidak akan diberikan kepada seorang yang bukan arif. Karunia semacam ini tidak diperuntukkan kepada sembarang orang. Yang berhak mendapatkannya adalah orang yang di jalan Allah, yang harakah-Nya menuju kepada-Nya secara ikhtiyari dan yang memperoleh keberkahan ruhani.

Dengan demikian, untuk mendapatkan karunia-karunia itu harus sesuai dengan himmah (harapan, kesungguhan) dan kepatutan yang menerimanya.

Sebagian jiwa manusia memiliki kepatutan yang sempurna dan himmah yang tinggi. Mereka mengamalkan ma’arif, akhlak, fikih dan muamalah Islam. Mereka juga hidup normal sebagaimana manusia yang lainnya. Sebagian yang lain, tidak mempunyai himmah yang tinggi dan kepatutan yang sempurna dalam menikmati semua karunia Allah. Ketika mereka tidak memperolehnya, bukan lantaran Allah memberikan nikmat-Nya kepada orang-orang khusus. Ibaratnya adalah karunia-karunia Allah itu seperti hujan. Apabila tanah yang dihujani tidak menumbuhkan tanaman, hal itu bukanlah keterbatasan hujannya. Akan tetapi dikarenakan keterbatasan tanah itu sendiri.

Syukur atas Karunia 

Bersyukur adalah kunci bertambahnya rezeki dan keberkahan yang Allah SWT turunkan kepada hamba-hamba-Nya. Sebaliknya, kufur terhadap nikmat dan karunia akan menghancurkan rezeki. Sebagai makhluk ciptaan, kita harus senantiasa bersyukur kepada Tuhan atas karunia dan keadaan, baik ketika suka maupun duka, lapang maupun sempit. Janganlah menjadi seperti orang-orang yang menyembah Allah SWT di lidah saja. Ketika mendapat nikmat dan kebaikan, mereka merasa tenang. Saat ditimpa musibah, mereka berpaling. Sungguh mereka itulah orang-orang yang merugi di dunia maupun di akhirat. Dan sungguh yang demikian adalah kerugian yang nyata. Allah SWT berfirman di dalam Surah Ibrahim ayat 7, “Dan ingatlah tatkala Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambah kenikmatan kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari nikmat-Ku maka pasti azab-Ku sangat berat.’”

Ketahuilah bahwa bersyukur kepada Allah akan melahirkan sifat qana’ah (merasa cukup), sedangkan kufur nikmat melahirkan sifat tamak dan rakus. Bersyukur mendatangkan ketenangan bagi jiwa, sedangkan sifat tamak mendatangkan kecemasan dan keluh kesah. Bersyukur kata Al-Ghazali, ialah “Menggunakan nikmat dan karunia Allah SWT untuk menaati-Nya serta menjaga agar tidak menggunakan nikmat-nikmat-Nya itu untuk maksiat kepada-Nya.” (Ihya ‘Ulum Al-Din). Dengan demikian, tasyakkur yang benar ialah bila kita masukkan takbir dalam menggunakan nikmat-nikmat Allah. Kita gunakan karunia hidup kita untuk membesarkan asma-Nya, menjunjung tinggi syariat-Nya, menghidupkan agama-Nya dan menyayangi hamba-hamba-Nya. Kita gunakan nikmat dan karunia berupa kekuasaan, kekayaan, dan pengetahuan untuk sebesar-besarnya mewujudkan kehendak Allah di bumi. Rasulullah SAW bersabda, “Hendaklah kamu berbahagia bila mempunyai hati yang bersyukur, lidah yang berzikir dan istri (suami) mukminin(at) yang membantunya dalam urusan akhirat.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah). (EmHR/FH)

 

Berikan Tanggapan Anda

komentar untuk artikel ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.