Tauhid Sifat dalam Kerangka Argumen Rasional

wallpaper allah

wallpaper allah

Islaminesia.com—Terdapat beragam argumen yang sudah dikonstruksi oleh ahli teologi dan filosof sebagai dalil pengafirmasian tauhid sifat. Sebagian dari dalil dan argumen tersebut berlandaskan pada premis-premis yang sulit. Di sini kami cukupkan dengan menyebutkan tiga dalil yang mempunyai tingkat kesulitan lebih sedikit:

 

Argumen Pertama

Dalil ini berlandaskan pada dua premis pokok :

  1. Kesempurnaan mutlak Tuhan meniscayakan bahwa bentuk penyifatan terhadap-Nya adalah paling sempurnanya sisi penyifatan;

  2. Paling sempurnanya bentuk penyifatan adalah bahwa dzat sesuatu, dengan dzatnya sendiri. Yakni sifatnya tidak butuh pada terjadinya penyifatan di luar dari dzat.

Konklusi: Kesempurnaan mutlak Tuhan meniscayakan bahwa dzat suci Dia, tidak butuh pada keberadaan sifat di luar dari dzat, yang menjadikan Dia tersifati dengan sifat-sifat tersebut.

Hasil dalil ini adalah keidentikan sifat-sifat dengan dzat, dari sisi bahwa Tuhan mempunyai seluruh kesempurnaan-kesempurnaan maka keniscayaan Dzat-Nya adalah identik dengan seluruh sifat-sifat sempurna-Nya. 

Dikatakan bahwa premis-premis dalil ini adalah badihi dan tidak butuh dengan pengafirmasian. Dengan menganalisa makna dari kesempurnaan mutlak akan menjadi jelas bahwa komprehensi ini meniscayakan suatu maujud yang diketahui sebagai sempurna mutlak, dalam seluruh sisi. Dia adalah sempurna, hatta dari sisi adanya sifat-sifat baginya. Dari sudut ini, akal dengan melihat keidentikan dzat dengan sifat, menghukumi bahwa dzat tersebut tanpa butuh pada sesuatu di luar dirinya mempunyai sifat-sifat sempurna tersebut.

 

Argumen Kedua

Premis-premis dari dalil ini diuraikan sebagai berikut:

  1. Dzat Tuhan adalah wajibul wujud dan sebab dari seluruh sebab-sebab. Semua maujud-maujud (tanpa perantara atau dengan perantara) merupakan akibat dari-Nya;

  2. Seluruh kesempurnaan-kesempurnaan wujud akibat (seperti hidup, ilmu, kudrah, iradah dan lainnya), dalam bentuk lebih sempurna terdapat dalam dzat sebab;

  3. Jika sifat-sifat Tuhan berada di luar dari dzat-Nya, maka dzat Tuhan akan kosong dari semua bentuk kesempurnaan.

Dengan menggabungkan dua premis pertama, akan dihasilkan bahwa dzat Tuhan memiliki seluruh kesempurnaan-kesempurnaan, dan setiap kali hasil ini disertakan dengan premis ketiga, maka dihasilkan bahwa sifat-sifat Tuhan tidak di luar dari dzat-Nya, bahkan identik dengan dzat-Nya.

Dalil ini dapat dijelaskan dalam bentuk yang lebih mudah: Jika sifat-sifat dzat Tuhan yang merupakan kesesuaian kesempurnaan-kesempurnaan wujud-Nya, berada di luar dari dzat-Nya, maka meniscayakan bahwa dzat Tuhan kosong dari setiap bentuk kesempurnaan; sementara “kewujuban” wujud-Nya  dan ke-sebab-an-Nya dari seluruh sebab-sebab memestikan bahwa pada dzat-Nya, tanpa butuh pada sesuatu di luar dari dzat-Nya, memiliki seluruh kesempurnaan-kesempurnaan. Oleh sebab itu, kewujuban wujud-Nya dan ke-sebab-an-Nya dari seluruh sebab-sebab meniscayakan bahwa sifat-sifat Tuhan adalah identik dengan dzat-Nya.

 

Argumen Ketiga

Jika sifat-sifat Tuhan adalah tidak identik dengan dzat-Nya maka kita menghadapi dua kemungkinan:

  1. Sifat Tuhan adalah bagian dari dzat-Nya;

  2. Sifat Tuhan berada di luar dari dzat-Nya.

Kemungkinan pertama adalah batil; sebab berujung pada terangkapnya dzat Tuhan; padahal sudah ditetapkan dalam pembahasan tauhid zat bahwa dzat Tuhan dari seluruh sisi adalah tidak berangkap.

Dalam kemungkinan kedua juga kita mengarah pada dua asumsi: apakah sifat yang diasumsikan di luar dari dzat, adalah wajibul wujud, ataukah mumkinul wujud. Asumsi pertama memestikan multiplisitas wajibul wujud dan ini menyalahi tauhid dzat “waahidi”. Dalam asumsi kedua, yakni kemungkinan sifat Tuhan adalah mumkinul wujud, dapat dipersoalkan bahwa apa penyebab  sifat ini? Dengan memperhatikan  bahwa setiap wujud kontingen, apakah tanpa perantara ataukah dengan perantara, merupakan akibat dari satu wajibul wujud, jika penyebab sifat Tuhan adalah wajibul wujud lain, maka memestikan multiplisitas wajibul wujud yang bertentangan dengan tauhid dzat. Dengan demikian, asumsi yang hanya tersisa adalah bahwa sifat Tuhan di luar dari dzat Tuhan dan merupakan akibat dari dzat Tuhan. Hal ini meniscayakan bahwa Tuhan, dengan asumsi “faaqid” (tidak punya) sifat hidup atau sifat kuasa, pertama menjadikan hidup dan kuasa di luar dari dzat-Nya dan kemudian dalam bayangan ciptaan dan akibat-Nya, memiliki sifat hidup dan kuasa. Tetapi asumsi ini sangat tidak rasional; sebab (sebagaimana telah kami isyaratkan sebelumnya) berasaskan suatu kaidah akal, sebab tidak bisa tidak memiliki kesempurnaan-kesempurnaan akibatnya dan tidak mungkin si pemberi sesuatu adalah tidak memiliki itu; oleh karena itu tidak mungkin dzat yang tidak mempunyai hidup dan kuasa, menjadi pencipta hidup dan kuasa.

Dengan demikian menjadi jelaslah bahwa seluruh kemungkinan-kemungkinan asumsi yang diutarakan tentang berbedanya dzat dan sifat Tuhan, adalah tidak rasional dan batil; dalam konklusi, dzat Tuhan dan sifat-sifat-Nya mempunyai satu misdak yang tunggal, sementara komprehensi-komprehensi sifat yang multiplisitas, semuanya menggambarkan wujud yang satu. Dengan ungkapan lain, akal manusia mengabstraksikan dari wujud Tuhan yang satu, tunggal dan tidak terbatas, kepada-Nya sifat-sifat yang multiplisitas, seperti ilmu, kuasa dan hidup serta mempredikasikan semua sifat-sifat itu atas dzat-Nya, tanpa terdapat perbedaan dan multiplisitas di antara misdak sifat-sifat ini.

 

Perbedaan Komprehensi Sifat

Hingga kini sudah ditetapkan kesatuan sifat-sifat dan dzat Tuhan dalam wujud luar dan sudah ditegaskan bahwa sifat-sifat (sifat-sifat dzat) Tuhan, tidak berbeda dengan dzat-Nya dan bukan bagian dari-Nya serta di antara mereka terdapat keidentikan wujud.

Aspek lain dari tauhid sifat yang sampai sekarang belum kami paparkan dalil penetapannya, adalah perbedaan komprehensi di antara sifat-sifat Tuhan. Untuk menetapkan prinsip ini, yakni perbedaan kekomprehensian sifat, biasanya seseorang merujuk kepada perenungan dalam penemuan-penemuan syuhudi dan batinnya dari komprehensi-komprehensi sifat-sifat dan penggunaan-penggunaan leksikal nama-nama mereka. Dengan perenungan terhadap komprehensi-komprehensi seperti “alim”, “kuasa”, “berkehendak” dan sifat lainnya, kita mendapatkan bahwa mafhum-mafhum ini satu sama lain adalah berbeda. Salah satu bukti dari masalah ini adalah bahwa berasaskan pemahaman umum ahli setiap bahasa, lafaz-lafaz yang menunjukkan atas mafhum-mafhum ini adalah tidak sinonim; misalnya, ketika seseorang yang berbahasa arab menyebut Tuhan dengan lafaz-lafaz seperti, “tahu”, “kuasa”, “pengasih”, dan “pengampun”, ia mendapatkan kenyataan ini bahwa ia tidak menggunakan lafaz-lafaz sinonim, dan ia tidak melakukan pengulangan komprehensi yang satu. Oleh karena itu, teori “kesatuan kekomprehensian sifat-sifat Tuhan” dengan penggunaan bahasa secara umum dan pengertian secara umum masyarakat, tidak sesuai dengan komprehensi-komprehensi sifat-sifat ini. Karena itu pandangan yang benar adalah perbedaan kekomprehensian sifat, kendatipun secara misdak dan wujud luar seluruhnya identik dan satu dengan dzat. (SYS/FH)

 

Berikan Tanggapan Anda

komentar untuk artikel ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.