Musuh yang Tak Kasat Mata

Sumber: annida-online.com

Sumber: annida-online.com

Islaminesia.com— Adalah salah seorang lelaki memimpikan setan dalam tidurnya, sedang membawa sejumlah besar tali yang beraneka ragam warna dan bentuk di lehernya. Ia bertanya kepadanya, “Apa yang anda lakukan dengan semua tali ini?”

Setan menjawab, “Aku berkeliling ke sana-sini untuk menjerat anak Adam dan menjerumuskan mereka dalam tipu dayaku. Maka aku tarik mereka melalui perantaraan tali ini.

Namun lelaki itu bertanya lagi, “Mengapa tali-tali itu berbeda-beda warna dan bentuknya?”

Setan menjawab, “Sebab bagi setiap manusia ada tali yang sesuai untuknya. Ada yang memerlukan tali yang kuat karena kuatnya keimanannya, dan ada pula memerlukan tali yang lemah, karena lemah imannya. Sedangkan warna-warna adalah kiasan dari berbagai macam bentuk ketergelinciran manusia menuju tali-tali setan.

Kisah di atas dalam realita kehidupan praktis hari ini benar adanya. Setan dan pembantu-pembantunya dari setan manusia dan teman-teman yang jahat telah memperdaya manusia, kaum muda-mudi. Di antara mereka ada yang diperdaya setan melalui syahwat dan rayuan-rayuan wanita, dan ada pula sekelompok manusia yang ditembus oleh setan melalui kebimbangan dan rasa malunya menjalankan syariat agama. Keras kepala dan kefanatikan merupakan tempat masuk yang lain dari tempat-tempat yang dimasuki setan.

Allah SWT mengingatkan seluruh manusia bahwa godaan setan mengitari diri mereka. Setan sejak awal menunjukkan permusuhan dengan Adam. Firman Allah dalam QS. Yasin: 62, “Sesungguhnya setan itu telah menyesatkan sebagian besar di antaramu. Maka apakah kamu tidak memikirkan?”

Setan menyerang dari segala arah, sebagaimana pengakuannya dalam al-Quran, “Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kiri dan kanan mereka. Dan engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur” (QS. Al-A’raf: 17).

Mengenai penafsiran empat arah ini Imam Baqir berkata: “Maksud kedatangan setan dari muka ialah bahwa alam akhirat yang akan datang, ditampakkan oleh setan sebagai hal biasa (bukan hal luar biasa) dimata manusia. Maksud kedatangan dari belakang ialah setan mengajak manusia untuk mengumpulkan harta benda sebanyak-banyaknya dan menolak mengeluarkannya demi menunaikan kewajiban yang hak, sehingga timbul sifat kikir dalam diri mereka. Kedatangannya dari arah kanan artinya bahwa setan membuat mereka mengabaikan perkara-perkara spiritual dengan menimbulkan rasa ragu dan bimbang dalam diri mereka. Kedatangannya dari arah kiri ialah setan menampakkan kesenangan material dan kenikmatan syahwat di mata mereka.”

Boleh jadi setan hadir di sisi kita saat sedang sendiri, maka hendaklah selalu siaga dan membela diri terhadap musuh yang tak terlihat mata ini, yang setiap saat menyerang tanpa dapat diprediksi. Sebagaimana keterangan riwayat hadis mengatakan, “gerak setan terselubung dalam diri manusia seperti darah yang mengalir dalam urat-urat tubuh.”

Allah SWT tidak menghalangi setan mewas-wasi manusia. Namun, bukan berarti Allah SWT tidak membekali manusia untuk membela diri. Pertama, Allah SWT telah mengaruniai manusia daya akal, dengan akal ia mampu menghadang semua was-was setan, terutama apabila manusia dalam bimbingan-Nya. Kedua, Allah SWT telah menanamkan kesucian dan kecendrungan pada kesempurnaan diri manusia sebagai faktor-faktor kebahagiaan baginya. Ketiga, Allah SWT telah menugaskan para malaikat mengilhami kebaikan bagi manusia untuk membantunya mengusir was-was setan.

Memang setan dan para pengikutnya tidak terlihat secara kasat mata. Tetapi kita dapat melihat jejak mereka, yaitu di setiap tempat pertemuan dosa, sarana maksiat, kesenangan dunia, dan perhiasan dunia. Di saat kecenderungan bergejolak dan api emosi terbakar, di situlah kehadiran setan. Kondisi demikian dengan telinga hatinya, manusia seakan mendengar suara was-was setan dan dengan mata hatinya jejak setan akan terlihat.

Oleh karena itu, dalam perjalanan panjang menuju kebahagiaan juga untuk mencapai ridha Ilahi, manusia akan melewati jalan-jalan sulit dan berjuang melawan musuh besar ini. Para setan senantiasa menggoda dan bersembunyi untuk mengajak pada kemaksiatan, sehingga manusia takkan mampu menempuh jalan itu sendirian. Kita mesti berharap pada kasih sayang Allah SWT, bersandar, tawakkal serta memohon perlindungan kepada-Nya.

Sayyidina Ali bin Abi Thalib dalam sebuah riwayat mengajarkan, bila setan mewas-wasi salah seorang dari kalian, hendaklah berlindung kepada Allah dengan mengucapkan: “Amantu billah mukhlishan lahud din” (aku beriman kepada Allah dengan memurnikan agama dan ibadahku kepada-Nya). (EH/JN)

Berikan Tanggapan Anda

komentar untuk artikel ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.