Membangun Kesadaran Multikultural

Sumber: sinarharapan.co

Sumber: sinarharapan.co

Islaminesia.com—Indonesia adalah negara dengan masyarakat yang majemuk. Keragaman suku, budaya, agama, dan bahasa adalah sebuah kekayaan yang harus disyukuri bangsa ini. Kemajemukan dengan aspek yang sangat beragam, yang di sisi lain menuntut sebuah harmonisasi sosial. Keragaman ini harus tetap dijaga pada koridor-koridor tertentu agar tidak pecah dan berujung pada sebuah konflik antar kelompok yang berbeda. Diperlukan pencegahan  atas disharmoni sosial sehingga dampak buruk yang dihasilkannya dapat ditekan.

Dalam catatan Setara Institute, sepanjang tahun 2015 tercatat 197 peristiwa pelanggaran kebebasan beragama/berkeyakinan dengan 236 bentuk tindakan yang tersebar di seluruh Indonesia. Dibandingkan dengan tahun lalu, angka ini menunjukkan kenaikan yang cukup signifikan. Kemudian pada 2014, jumlah pelanggaran lebih sedikit: 134 peristiwa, dan tindakan pelanggaran sejumlah 177 tindakan. Setara Institute membedakan antara peristiwa dan tindakan. Dalam satu peristiwa (event) bisa saja terjadi berbagai bentuk tindakan (act). Peristiwa tertinggi terjadi pada bulan Juni dengan 31 kasus. Dilanjutkan Oktober dengan 27 peristiwa. Tertinggi ketiga terjadi di bulan Januari dan Februari dengan masing-masing 2 peristiwa. Sebaran peristiwa pelanggaran kebebasan beragama yang tertinggi terjadi di Jawa Barat dengan 44 peristiwa. Disusul Aceh dengan 34 peristiwa, Jawa Timur 22 peristiwa, DKI Jakarta 20 peristiwa, dan Yogyakarta 10 peristiwa. [1]

Beberapa laporan dari data di atas, cukup memperkuat kesimpulan terhadap sikap masyarakat Indonesia yang ternyata belum cakap dalam mengelola kemajemukan terhadap sesama umat beragama. Sikap keberagamaan yang ekslusif, fanatik, ekstrim dan fundamentalistik adalah sekian dari penyebab yang mengakibatkan meningkatnya kasus pelanggaran kebebasan beragama. Hal ini tentu sangat menganggu dan merisaukan. Sebab, kebebasan beragama dan berkeyakinan adalah hak setiap warga negara Indonesia yang sudah dijamin oleh konstitusi negara ini.

Dari sikap yang eksklusif tersebut, bibit-bibit intoleransi tumbuh subur. Indonesia dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika hanya akan menjadi sejarah yang gagal mempertahankan kekayaan keragaman masyarakatnya. Keragaman yang meniscayakan perbedaan dipandang sebagai sebuah masalah yang harus diselesaikan dengan kekerasan tanpa mempertimbangkan jalan yang lebih arif. Pada titik ini, Indonesia harus berbenah untuk menghadapi permasalahan tumbuh dan berkembangnya sikap ekslusifisme di masyarakat.

Proses yang menjadikan masyarakat bersikap ekslusif–beberapa diantaranya—ternyata telah dibangun sejak dini, dengan cara menanamkan klaim bahwa hanya agamamulah yang mutlak kebenarannya, sehingga agama yang lain dianggap melenceng dan menyesatkan. Dari pendidikan agama yang demikianlah, bibit intoleransi tumbuh. Agama yang harusnya menyejukkan dan arif dalam menanggapi segala macam persoalan menjadi kering dan asing. Nilai universal dan cinta kasih dalam agama menjadi terutupi akibat sikap ekslusif ini.

Oleh karena itu, dalam suatu masyarakat yang kaya akan keragaman, harus dibangun sebuah kesadaran multikultural yang terbuka (inklusif), toleran, dan saling menghormati. Membangun kesadaran multikulturalisme merupakan sebuah keniscayaan bagi negara yang memiliki keragaman dalam masyarakatnya. Setidaknya ada 3 alasan pentingnya membangun multikulturalisme. Pertama, multikulturalisme dapat  menumbuhkan solidaritas kebangsaan dengan basis pengakuan terhadap  keanekaragaman agama, suku, dan budaya. Sebaliknya, eksklusifisme hanya akan menumbuhkan sikap intoleransi yang menyebabkan rapuhnya  perahu kebangsaan. Kesetaraan dalam  konteks  kebangsaan akan menumbuhkan nasionalisme.

Kedua, multikulturalisme akan menumbuhkan pentingnya nilai-nilai kemanusiaan. Multikulturalisme tidak hanya mengangkat hak-hak komunitas, melainkan juga hak asasi setiap individu yang memberikan ruang kepada setiap individu untuk mengekspresikan pandangan dan keyakinannya. Ketiga, multikulturalisme dapat menjadi kekuatan kultural yang berfungsi untuk mengantisipasi konflik sektarian. Kesediaan untuk menerima pihak lain akan menghancurkan kecurigaan dan kebencian terhadap yang lain. Setiap konflik bersumber dari kecurigaan dan kebencian, maka multikulturalisme berperan untuk membangun kesadaran pentingnya melihat kelompok lain sebagai potensi, bukan ancaman. [2]

Belajar dari pengalaman, kesadaran multikultural yang terbuka (inklusif) ini harus dibangun sejak dini sebagai lawan dari sikap keberagamaan yang ekslusif, sehingga cita-cita persatuan bangsa bisa terwujud tanpa harus mengorbankan keragaman masyarakat Indonesia.

Referensi:

[1], http://www.rappler.com/indonesia/143823-wahid-institute-11-juta-orang-indonesia-kekerasan-agama

[2], Zuhairi Misrawi, Kesadaran Multikultural  Dan Deradikalisasi Pendidikan  Islam: Pengalaman Bhinneka  Tunggal Ika Dan Qabul Al-akhar, Jurnal Pendidikan Islam: Volume I, Nomor 2, Desember 2012/1434

 

Oleh: M. Mario Hikmat. A

*Ingin opini anda di-publish di Islaminesia.com? Silahkan kirimkan tulisan anda ke email redaksi islaminesia@gmail.com. Terimakasih

 

Berikan Tanggapan Anda

komentar untuk artikel ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.