Cinta dan Isyq dalam Al-Qur’an dan Riwayat

Sumber: haidarkhotir.blogspot.com

Sumber: haidarkhotir.blogspot.com

Islaminesia.com—Cinta dalam Al-Qur’an dan riwayat ditemukan penggunaannya dalam beberapa ayat dan riwayat, di mana kadang menyifatkan hubungan yang sangat erat antara mukmin dengan Tuhan atau hubungan antara mukmin satu dengan mukmin lainnya. Misalnya ayat, “Orang-orang yang  beriman sangat besar cintanya kepada Allah.” (QS. Al-Baqarah: 165)

Dalam ayat 9 Surah Al-Hasyr digambarkan kecintaan mukmin kepada mukmin lainnya, yakni kaum Anshar terhadap kaum Muhajirin: 

Dan orang-orang (Anshar) yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah ke tempat mereka. Dan mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (Muhajirin) atas dirinya sendiri, meskipun mereka juga memerlukan. Dan siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 9)

Di ayat-ayat lainnya Tuhan mengungkapkan kecintaan-Nya terhadap orang-orang yang bertobat, muhsin, muttaqin, muthahhirin, dan muqsithin. Sebagaimana disebutkan dalam ayat-ayat berikut ini:

Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang bertaubat dan mencintai orang yang menyucikan diri.” (QS. Al-Baqarah: 222)

Dan Allah mencintai orang-orang muhsin (berbuat baik).” (QS. Al-Baqarah: 195)

Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang muttaqin (orang-orang bertaqwa).” (QS. Al-Imran: 76)

Dan Allah mencintai muthahhirin.” (QS. At-Taubah: 108)

Sesungguhnya Allah mencintai muqsithin (orang-orang yang berbuat adil).” (QS. Al-Maidah: 42)

Dalam riwayat disebutkan bahwa Buraid berkata, saya berada bersama Imam Baqir, seorang musafir dari Khurasan yang telah melewati perjalanan panjang dengan berjalan kaki untuk dapat berjumpa dengan Imam Baqir. Ia melepaskan sepatunya dan kakinya mengalami luka-luka (melepuh). Dia berkata, “Demi Tuhan, Dia tidak membawaku dari tempat di mana saya datang kecuali kecintaan terhadapmu, Ahlulbait.” Imam Baqir berkata, “Demi Tuhan, jika sebongkah batu cinta pada kami, maka Tuhan akan mengumpulkannya bersama kami.” Lantas beliau berkata, “Apakah agama, sesuatu selain cinta?”

  

Cinta dan Penyembahan

Para sufi dan kaum urafa memiliki perbedaan dengan kelompok-kelompok lain dalam hal metode pengetahuan dan pengungkapan pengetahuan. Dalam artian, di samping bersandar pada akal mereka juga bersandar pada dzauq dan bashirah (pengalaman dan pengetahuan batin). Di mana untuk mencapai bashirah dan makrifat batin dibutuhkan mujahadah dan riyadah. Di samping itu mereka juga memandang dalam hal tujuan dan kebagaimanaan beribadah berbeda dari para abid dan para zahid. Mereka beranggapan bahwa para abid dan para zahid masih mencari keuntungan dalam beribadah pada Allah SWT. Para abid beribadah karena menginginkan balasan dunia dan akhirat, sementara para zahid tidak menginginkan balasan dunia, tetapi menginginkan akhirat. Akan tetapi, urafa beribadah tidak dikarenakan keinginan dunia dan akhirat, tetapi karena kecintaaan mereka pada Tuhan sehingga mereka beribadah pada-Nya. Sebagaimana dinukil dari Amirul Mukminin Ali bahwa beliau berkata, “Aku beribadah pada-Mu bukan karena takut akan neraka-Mu dan bukan karena menginginkan surga-Mu, akan tetapi karena Engkau pantas untuk disembah, maka Aku beribadah pada-Mu.”

Seorang pesalik di jalan Tuhan mestilah terbekali dengan pengetahuan yang memadai tentang yang ditujunya. Karena pesalik berkehendak pada Tuhan, maka ia membutuhkan makrifat Ilahiah. Dari sinilah terbangun iman dan keyakinan yang kokoh terhadap Tuhan yang akan melahirkan cinta terhadap-Nya. Jadi, dasar iman yang baik adalah makrifat yang baik. Sementara dasar dari cinta adalah pengetahuan dan kepercayaan terhadap yang dicintai. Cinta pada Tuhan mestilah dibarengi dengan ketaatan dan ibadah pada-Nya. Dari sinilah kemudian Tuhan akan memberikan ilmu hudhuri serta penyaksian terhadap Jalal dan Jamal-Nya.

Sembahlah Tuhanmu sehingga keyakinan datang padamu. Penyembahan yang didasari cinta terhadap Rabb menghadirkan keyakinan, di mana keyakinan tersebut natijah dari mujahadah serta riyadah siang dan malam dari pesalik. “Barangsiapa bersungguh-sungguh di jalan Kami niscaya Kami tunjuki mereka jalan-jalan Kami.” Dengan jalan-jalan itulah penapak spiritual akan meraih tajallitajalli Ilahiah serta meraup sifat-sifat dan asmaul husna-Nya. Mereka inilah yang diharapkan dapat menuntun dan membimbing masyarakat serta menyebarkan akhlak mulia Islami, seperti yang diteladankan Rasulullah SAW dan keluarganya. (SYS/FH)

Berikan Tanggapan Anda

komentar untuk artikel ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.