Jejak Tragedi di Mina

minaIslaminesia.com—Mina menjadi salah satu lokasi penting yang wajib dikunjungi oleh para jamaah untuk melengkapi ritual ibadah hajinya setelah wukuf di Arafah. Karena di lokasi inilah para jamaah harus melontar jumrah atau melakukan pelemparan batu sebagai tanda perlawanan manusia dari godaan setan.

Nabi Ibrahim kala itu digoda sebanyak tiga kali oleh setan untuk mengurungkan niatnya mengikuti perintah Allah agar mengurbankan putranya (Ismail as). Sebagai simbol perlawanan terhadap godaan setan, jamaah harus melakukan tiga kali pelemparan, yaitu jumrah Ula (disebut juga jumrah sughrah), jumrah Wusta (jumrah Tsaniyah), dan terakhir adalah jumrah aqabah (jumrah Tsalitsah).

Namun, sayangnya di Minalah tercatat beberapa kali tragedi yang menghilangkan banyak nyawa tamu Allah. Dimulai dari Tragedi Mina Desember 1975 terjadi kebakaran, akibat ledakan pipa gas yang menewaskan 200 jamaah haji. Saat itu tenda yang digunakan di Arafah dan Mina dibuat tak kedap api. 

Kebakaran kembali terjadi pada Mei 1995, dikarenakan kompor yang meledak. Peristiwa ini menyebabkan jatuhnya korban jiwa dari jamaah haji asal India.

15 April 1997, Mina kembali dilanda kebakaran yang mengakibatkan 343 jamaah tewas dan 1.500 lainnya terluka. Korban pada peristiwa ini lebih banyak, karena sebagian besar korban mengalami kehabisan napas dan terjebak di dalam tenda-tenda yang terbakar. Sejak peristiwa tersebut, pemerintah Arab Saudi sebagai pengelola ibadah haji, secara bertahap mengganti tenda di Mina dengan tenda permanen yang tahan api.

Tragedi yang paling memilukan hati terjadi pada musim haji 1411 H/1990 M, tepatnya pada 2 Juli 1990. Pada waktu Dhuha, jamaah haji dari berbagai negara saling berdesakan dan bertubrukan di mulut terowongan Al-Muaishim, Mina. Tubrukan berasal dari sebagian jamaah dari Haratul Lisan, dengan jamaah yang baru selesai melempar jumrah Aqabah. Tercatat sebanyak 1.426 jamaah meninggal dalam insiden tersebut. Jamaah haji asal Indonesia yang meninggal sebanyak 659 orang dalam insiden tersebut. Tragedi ini menjadi insiden paling berdarah dalam sejarah haji.

Sebagai respon atas tragedi ini, presiden Soeharto mengirim tim ke Arab Saudi yang dipimpin oleh Menteri Agama Munawwir Syadzali dan mengusulkan agar terowongan Al Muaishim dibuat ganda. Usulan tersebut diterima oleh pemerintah Arab Saudi, sehingga pada musim haji 1991, terowongan ganda sudah bisa dimanfaatkan.

Namun, hal ini tidak menjadikan pelaksanaan ibadah haji di tahun berikutnya nihil insiden berdarah. Terbukti di tahun 2004, jamaah dari berbagai negara yang berburu waktu afdhal tak terkendali, sehingga terjadi benturan antar jamaah. Tragedi Mina ini menewaskan 251 jamaah haji.

Kemudian hal serupa kembali terjadi pada 12 Januari 2006. Sebanyak 362 orang tewas, dua orang di antaranya warga negara Indonesia. Sejak insiden Jamarat tersebut, pemerintah Arab Saudi membangun tempat pelemparan Jamarat berlantai empat. 

Tragedi Mina terbaru, terjadi pada 2015 lalu. Peristiwa terjadi di jalan 204 yang menjadi jalur bagi rombongan yang akan melakukan Jumrah di Mina. Di tengah-tengah jamaah yang berjalan, serombongan jamaah di depan berhenti tiba-tiba. Desakan jamaah dari belakang terus mendorong untuk bisa maju ke depan. Akibatnya rombongan jamaah di depan terinjak-injak, karena desakan rombongan jamaah yang datang belakangan.

Tragedi ini setidaknya menyebabkan 2.177 jamaah meninggal dunia. Akan tetapi beberapa kalangan memperkirakan jumlah korban yang wafat terus bertambah karena besarnya jamaah yang menjadi korban.

Jumlah jamaah wafat terbesar berasal dari Iran dengan 465 jamaah haji meninggal. Lalu Mali 254 jamaah haji meninggal. Nigeria 199 jamaah meninggal. Kamerun 76 jamaah meninggal, Niger 72 jamaah meninggal, Senegal 61 jamaah meninggal, Pantai Gading dan Benin masing-masing 52 jamaah meninggal. Dari Indonesia tercatat 126 jamaahnya yang meninggal dari peristiwa ini. (II/SS)

Berikan Tanggapan Anda

komentar untuk artikel ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.