Haji: Upaya Kembali dan Menghampiri Tuhan*

hajjjIslaminesia.com—Dari sekian banyak ibadah, haji adalah puncak ibadah ritual yang sangat didambakan bisa dilakukan setiap muslim. Kita bisa saksikan bagaimana antusiasme masyarakat dalam melaksanakan ibadah yang satu ini pada setiap tahunnya. Selain karena pahalanya yang sangat besar, orang-orang yang berhaji akan dianggap oleh Allah sebagai tamu-tamuNya. “Orang yang beribadah haji dan umrah adalah tamu-tamu Allah serta mengaruniakan mereka ampunan,” demikian kata sebuah hadis.

Haji merupakan ritual ziarah Kabah dan kegiatan manasik yang dilakukan di sepanjang abad dan masa, dalam berbagai macam dan bentuknya. Kabah adalah rumah pertama yang dibangun dengan tujuan agar manusia beribadah dan menyembah Allah. Dan Kabah merupakan titik pusat pertama yang menarik para ahli ibadah menuju Allah SWT. Allah berfirman:

 Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi  bagi semua manusia. Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; Barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia. Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa yang mengingkari kewajiban haji, maka sesungguhnya Allah Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam. (QS. Ali Imran: 96-97)

Ibadah haji menggambarkan kepulangan kita kepada Allah, yang mutlak, tidak terbatas dan tidak ada yang menyerupaiNya. Pulang kepada Allah menunjukkan suatu gerakan yang pasti menuju kesempurnaan, kebaikan, keindahan, kekuatan, pengetahuan serta nilai-nilai.

Dr. Ali Syariati dalam bukunya “Hajj” berujar, “Wahai manusia, semua malaikat bersujud kepadamu; namun melalui perjalanan waktu dan pengaruh kehidupan sosial, maka engkau pun telah banyak sekali berubah. Engkau telah mengingkari janjimu untuk hanya menyembah kepada Allah Yang Mahakuasa. Engkau malah menjadi pemuja berhala-berhala yang sebagian di antaranya ciptaan manusia. Wahai engkau yang tercipta dari lumpur! Cari dan ikutilah Ruh Allah. Terimalah undangannya, tinggalkan kampung halamanmu untuk ‘menjumpai’ Dia yang sedang menunggumu! Eksistensi manusia tidak akan bermakna jika mendekati Ruh Allah tidak menjadi tujuannya. Singkirkan dirimu dari segala tuntutan dan ketamakan yang memalingkanmu dari Allah. Maka bergabunglah dengan kafilah haji yang dilakukan umat manusia sepanjang zaman untuk ‘menjumpai’ Allah Yang Mahakuasa.  Wahai manusia, kembalilah ke asalmu. Tunaikan ibadah haji dan temuilah ‘Sang Kekasih’ terbaikmu yang menciptakanmu sebagai sebaik-baiknya makhluk, dan Dia sedang menantikan kedatanganmu. Tinggalkan istana-istana kekuasaan, gudang-gudang kekayaan dan kuil-kuil menyesatkan. Menyingkirlah dari kawanan yang gembalanya adalah serigala, lalu bergabunglah dengan rombongan Mi’ad yang sedang mendatangi rumah Allah atau rumah umat manusia.” 

Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah. Sebab itu, haji harus ditunaikan semata-mata mengharap ridha Allah. Oleh karena kewajiban menunaikan ibadah haji berasal dari Allah dan milik Allah (ungkapan ini khusus dalam masalah haji, karena ungkapan ini tidak disebutkan sehubungan dengan masalah shalat, puasa, dan hukum-hukum lainnya), maka melaksanakannya harus semata-mata lantaran Allah. Bila seseorang mengadakan perjalanan menuju Mekah dengan tujuan melancong, berniaga, dan sebagainya, maka haji seperti ini tidak mengandung rahasia. Sebab, haji tersebut bukan perjalanan menuju Allah. Rahasia terpenting haji adalah bahwa haji merupakan sebuah perjalanan menuju Allah, karena diungkapkan dalam kalimat:

Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia kepada Allah… (QS. Ali Imran: 97)

Pada buku “Hikmah dan Makna Haji”, Syaikh Abdullah Jawadi Amuli menjelaskan bagaimana orientasi dan tujuan begitu penting dalam perjalanan ibadah haji. Ia lalu mengatakan bahwa para manusia suci telah meriwayatkan dari Rasulullah SAW, tanda-tanda diterimanya amal ibadah orang yang berhaji. Beliau bersabda apabila seseorang mendapatkan hidayah menunaikan ibadah haji dan berziarah ke Baitullah, dan ketika kembali dia menjadi orang yang saleh, tidak melakukan maksiat lagi, dan menjauhkan diri dari kesalahan, maka hal itu merupakan tanda-tanda bahwa hajinya diterima (oleh Allah SWT). (Namun) apabila setelah berziarah ke Baitullah dia tetap melakukan perbuatan dosa dan maksiat, maka hal tersebut merupakan tanda hajinya ditolak (mardud). Ini merupakan salah satu rahasia haji. Sebab, rahasia-rahasia ibadah kita akan nampak nyata di hari penampakan batin. Pada hari itu, semua manusia paham bahwa amal perbuatannya diterima atau ditolak. Jika seseorang di dunia telah mencapai tingkatan (iman) sehingga bisa memahami hajinya diterima atau ditolak, maka ia telah sampai pada rahasia-rahasia haji. Dia akan meneliti mengapa amal ibadahnya diterima atau ditolak.

Dalam Surah Adz-Dzariyat ayat 50, difirmankan, “Maka segeralah kembali (menaati Allah)”, beberapa tafsiran menyatakan bahwa yang dimaksud dengan perjalanan (kembali) menuju Allah dalam ayat ini adalah ibadah haji. Maka sejatinya, haji adalah perjalanan khusus. Di sini, kembali kepada Allah diartikan bahwa manusia harus meninggalkan selain Allah dan mencariNya. Namun, bila seseorang menunaikan haji dengan tujuan yang lain, maka ini adalah perjalanan meninggalkan Allah, bukan kembali kepada Allah. 

Imam al-Sajjad Zainal Abidin berkata kepada Zuhri, muridnya, “Berapakah jumlah peziarah haji tahun ini?” Zuhri berkata, “Empat ratus ribu atau lima ratus ribu orang.” Kemudian Imam as-Sajjad membukakan tabir gaib bagi Zuhri, sehingga ia melihat hakikat batin orang-orang yang menunaikan ibadah haji. Ternyata, mereka terlihat sebagai binatang. Saat itulah Imam al-Sajjad berkata, “Betapa sedikit orang yang berhaji dan betapa banyak suara gemuruh teriakan.”

Akhirnya,manusia harus istiqamah atas perjanjiannya dengan Tuhan di saat berhaji. Memelihara ikrarnya yang diucapkan di hadapan Tuhan di saat menunaikan haji. Dengan begitu, niscaya Dia akan wajibkan apa yang Dia janjikan untukmu kelak di hari kiamat. Semoga Allah memberkahi perjalanan semua tamu-tamu Allah yang berangkat ke tanah suci di tahun ini dari belahan dunia manapun mereka berasal. Semoga Allah memelihara perjalanan mereka dan menjadikan haji mereka haji yang mabrur. Aamiin Ya Rabbal Alamin.

Oleh : Em Azikin Idris

* Tulisan ini sebelumnya dimuat  pada Harian Pare Pos edisi Sabtu, 10 September 2016.  

Berikan Tanggapan Anda

komentar untuk artikel ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.