Bersahabat dalam Pandangan Islam

Sumber: rajakata.net

Sumber: rajakata.net

Islaminesia.com—Manusia adalah makhluk sosial, olehnya itu memerlukan interaksi di antara sesama manusia. Salah satu model interaksi tersebut ialah dengan jalan berteman atau bersahabat. Dalam masyarakat, ini merupakan cara alami untuk menjalin hubungan dengan sesama saudara dan orang-orang yang layak dijadikan sahabat. Dan Islam memberikan perhatian yang begitu besar terhadap masalah ini.

Islam mempunyai pandangan tentang persahabatan dan memilih teman. Persahabatan adalah persaudaraan. Setiap orang yang menjadi saudara Anda di dalam agama adalah sahabat Anda. Mereka mempunyai hak-hak atas Anda, dan Anda pun mempunyai hak-hak atasnya. Termasuk ke dalam hak-hak itu adalah saling menjaga dikala terjadi musibah, saling menghormati dan menghargai, menjaga lidah dan tangan untuk tidak saling menyakiti, saling menghibur dan memperlakukan dengan baik. Sayyidina Ali Kw berkata, “Teman adalah kerabat yang paling dekat.”

Di dalam kehidupan ini, tidak semua manusia adalah sahabat dan teman Anda. Sebagaimana juga tidak semuanya musuh Anda. Oleh karena itu, Anda perlu mengetahui pedoman untuk membedakan antara sahabat/teman dan musuh. Sayyidina Ali bin Abi Thalib Kw berkata, “Sahabat kamu ada tiga dan musuh kamu juga ada tiga. Sahabatmu adalah: sahabatmu sendiri, teman dari sahabatmu dan musuh dari musuhmu. Musuh kamu ialah: musuhmu sendiri, musuh sahabatmu dan teman musuhmu.” Yang harus diperhatikan di sini adalah bahwa bersahabat dengan siapapun dalam pandangan Islam tidak diperkenankan. Karenanya, memilih teman atau sahabat perlu dilakukan dengan terencana. Sebab, persahabatan berarti kehidupan bersama.

Untuk sahabat-sahabat yang sangat dekat, memilihnya harus lebih cermat. Pada umumnya, penyebab gagalnya orang-orang dalam melanjutkan persahabatan, karena mereka salah dalam memilih sahabatnya. Dan, kegagalan pemilihan itu disebabkan sikap tergesa-gesa. Rasulullah SAW pernah bersabda, “Kenalilah orang-orang melalui teman-teman mereka, karena setiap orang berteman dengan seseorang yang membuat dirinya merasa senang.” Sayyidina Ali berkata, “Setiap orang cenderung pada yang serupa dengannya.” Atau dalam kesempatan lain beliau berkata, “Orang-orang baik tidak bersahabat kecuali dengan orang yang sejalan dengan mereka, dan orang-orang buruk tidak suka berteman kecuali dengan orang yang serupa dengan mereka.” Selain itu, Amirul Mukminin juga mengingatkan kita untuk tidak bersahabat dengan orang yang bodoh, orang kikir, yang suka maksiat dan yang suka berbohong. Dalam Nahjul Balaghah beliau berkata, “Hindarilah olehmu bersahabat dengan orang bodoh, karena dia bermaksud menguntungkanmu namun justru merugikanmu. Hindari olehmu bersahabat dengan orang kikir, karena dia akan mengabaikanmu mana kala kamu sangat memerlukannya. Hindari olehmu bersahabat dengan orang yang suka maksiat, karena dia akan menjualmu dengan unta betina. Hindari olehmu bersahabat dengan orang yang suka berbohong, karena dia akan mendekatkan sesuatu yang jauh dan menjauhkan sesuatu yang dekat.”

Teman yang baik memiliki peran dan fungsi dalam kehidupan. Baik untuk kehidupan duniawi maupun kehidupan ukhrawi kita. Sahabat sejati kita adalah penolong kita dalam hidup ini. Karenanya, orang yang mempunyai banyak sahabat adalah orang yang mempunyai banyak penolong dalam menghadapi gejolak kehidupan. Sebaliknya, orang yang mempunyai sedikit sahabat, atau tidak mempunyai sahabat sama sekali, adalah orang yang paling menderita dalam menghadapinya, karena ia hidup sendirian. Hendaknya kita menjadi orang yang pintar mencari sahabat atau teman. Jika kita hidup di sebuah negeri, cobalah untuk mempunyai sahabat di setiap tempat. Karena di dalam persahabatan yang luas terdapat: kesempatan untuk menyebarkan nilai-nilai yang baik, bantuan dalam menghadapi tantangan kehidupan serta kebahagiaan sosial yang tidak dimiliki oleh orang yang mempunyai sedikit sahabat atau tidak mempunyai sama sekali. Dalam sebuah syair disebutkan “Mempunyai seribu orang sahabat tidaklah banyak, namun mempunyai satu musuh amatlah banyak.”

Dalam ilmu akhlak, disebutkan bahwa salah satu sarana pendukung dalam penyucian diri ialah tidak bergaul dengan teman yang buruk. Mengapa?  Sebab manusia adalah maujud yang suka menerima pengaruh dan suka mengikuti. Banyak sekali sifat, kebiasaan, dan perbuatan seseorang terpengaruh dan berasal dari orang lain yang mempunyai hubungan dengannya. Lebih khusus teman dekat, mereka mempunyai pengaruh yang besar sekali. Berteman dengan orang-orang yang berakhlak buruk akan menyeret manusia kepada kerusakan dan akhlak yang buruk. Begitu juga sebaliknya, berteman dengan orang-orang yang saleh dan berakhlak baik akan mengajak manusia kepada kesalehan dan akhlak yang baik juga. Oleh karena itu, keberadaan teman yang baik mampu membantu manusia dalam proses menyucikan diri sekaligus bisa menjadi perantara dalam mengdiagnosis diri kita dari berbagai sifat-sifat yang buruk.

Inilah Islam yang telah membuka pintu persahabatan bagi kita, setelah sebelumnya Allah SWT memberikan kemampuan bersosialisasi kepada kita dan menjadikannya sebagai sesuatu yang fitrah bagi kita. Maka berteman dan bersahabatlah. (EmHR/FH)

 

Berikan Tanggapan Anda

komentar untuk artikel ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.