Ketenaran dan Kedermawanan Sang Legendaris Muhammad Ali

aliIslaminesia.com – Muhammad Ali barangkali termasuk salah satu orang paling terkenal di Bumi ini. Coba tanyakan pada orang yang Anda temui, apakah mereka tahu siapa Ali. Kebanyakan akan mengenalnya sebagai juara tinju sejati.

Saking tenarnya, Ali sendiri pernah berkata, “Terjunkan aku dengan parasut ke jalanan di Cina, dan semua anak akan mengenal siapa aku.”

Sejak awal karir tinjunya, Ali sudah menyebut dirinya “The Greatest”, yang terhebat, dan orang tidak menyangkalnya. Ia adalah pemegang sabuk juara dunia kelas berat tinju tiga kali.

Selain memenangkan 56 pertandingan dan hanya 5 kali kalah, Ali juga pernah mengalahkan nama-nama besar seperti Sonny Liston, George Foreman, dan Joe Frazier.

Dalam hal rekor dan pencapaian di atas ring, mereka yang dekat dengan tinju bisa saja berdebat soal siapa yang terhebat.

Ali sendiri selalu menyebut Sugar Ray Robinson, yang hanya sekali kalah dari 131 pertandingan profesionalnya, sebagai yang terbesar.

Namun bila kita bertanya soal siapa tokoh olahraga yang paling dikenal dalam sejarah, tak ada satu nama pun yang melampaui Ali.

Ali populer bukan saja karena kecepatan dan permainan tinjunya di atas ring, tapi juga berkat gaya dan kepandaiannya berbicara. Ia piawai merangkai kata membentuk puisi untuk menantang lawan-lawannya.

Salah satunya yang terkenal adalah kalimat yang diucapkan menjelang pertandingan melawan George Foreman: “Float like a butterfly, sting like a bee, his (George) hands can’t hit what his eyes can’t see.”

Lalu saat menghadapi Sonny Liston, Ali berujar, “”If you like to lose your money, be a fool and bet on Sonny.”

Bahkan kepada Joe Frazier dia menyebutnya si buruk muka, yang tidak cocok jadi juara. “Frazier sangat buruk sehingga ia seharusnya mendonasikan wajahnya ke Badan Urusan Hewan Liar,” ujar Ali.

Walau begitu, kata-kata yang dilontarkan Ali selalu mempunyai tujuan. Bisa jadi itu upaya membuat lawannya kalah mental, bisa juga sebagai promosi atas pertarungannya.

Soal ejekan terhadap Frazier misalnya, Ali kemudian memberi keterangan setelah pertandingan. “Saya mengatakan banyak hal (buruk) yang memang harus saya sampaikan saat itu. Saya tidak seharusnya menghina dia (Frazier). Saya minta maaf untuk itu. Itu semua sebenarnya untuk mempromosikan pertandingan ini.”

Ali juga mempunyai tujuan dalam setiap pertandingan tinjunya. Dalam sebuah wawancara, Ali berkata, “Aku selalu memiliki tujuan setiap kali naik ring. Aku harus menjadi juara. Dengan menjadi juara aku lebih mudah memperjuangkan hak-hak kaumku dan membantu orang lain.”

Memperjuangkan kesetaraan

Ali sejak lama dikenal getol memperjuangkan kesetaraan bagi orang-orang berkulit hitam di Amerika. Hal itu tak lepas dari diskriminasi yang ia terima semasa kecil. Bahkan setelah menjadi juara Olimpiade pun perlakuan itu masih ia terima.

Suatu ketika, setelah memenangkan medali emas tinju di Olimpiade Roma, Ali masuk ke restoran burger di Louisville, kota kelahirannya. Namun penjaga restoran menolaknya dengan mengatakan bahwa mereka tidak melayani nigger (sebutan untuk orang hitam).

Peristiwa itu begitu kuat terekam dalam ingatannya, sehingga membuat Ali begitu kuat berjuang untuk membela kaum hitam. Salah satunya dengan menjadi juara dunia, sehingga suaranya didengarkan.

“Perbedaan warna tidak membuat seseorang menjadi jahat. Hati, jiwa, dan pikiran yang menyebabkannya,” ujar Ali.

Keyakinan itu juga yang membuat Ali menolak ikut berperang di Vietnam. Ia menganggap perang itu merupakan penindasan terhadap orang kulit berwarna oleh orang kulit putih.

“Mengapa mereka harus menyuruhku mengenakan seragam dan pergi 10.000 mil dari sini lalu menjatuhkan bom dan peluru ke orang-orang berwarna di Vietnam, sementara orang-orang yang disebut Negro di Louisville diperlakukan seperti anjing dan tidak berhak atas hak mereka yang paling sederhana?”

“Tidak, saya tidak akan pergi ke sana membantu membunuh orang lain hanya untuk meneruskan dominasi tuan-tuan putih terhadap orang-orang berwarna. Ini adalah hari di mana semua kejahatan itu harus diakhiri,” kata Ali.

Ali juga menyebut bahwa tidak ada seorang pun tentara VietCong yang menghinanya dengan sebutan negro, beda dengan orang-orang di negaranya sendiri.

Dalam perjuangannya melawan dominasi kulit putih itu, ia menggelar banyak pertandingannya di negara-negara berkembang, seperti di Zaire saat melawan Foreman dengan tema “Rumble in the Jungle”, melawan Frazier di Filipina dalam “Thrilla in Manila”, termasuk bertanding melawan Rudi Lubbers di Indonesia tahun 1973. Semua itu dilakukan salah satunya agar mata dunia tertuju ke negara-negara itu.

Setelah pensiun dari ring tinju, Ali semakin banyak melakukan kegiatan sosial. Ia banyak melakukan perjalanan sebagai duta kemanusiaan, termasuk ke Korea Utara dan Afghanistan. Juga mengirimkan bantuan obat-obatan ke Kuba.

Salah satu perjalanannya dalam misi kemanusiaan adalah bersama lembaga Global Village Champions Foundation, tahun 1990-an ke Jakarta.

Diceritakan Direktur Media Sosial yayasan itu, Jackie Bigford, saat di Jakarta, Ali bersama direktur yayasan, Yank Barry, menuju McDonalds untuk sarapan. Saat itulah ia dikenali, sehingga ia dikerumuni dan diikuti puluhan orang.

Melihat banyaknya orang di sekitarnya, Ali akhirnya memberi sarapan gratis untuk semua yang ada di restoran itu.Cerita tentang kedermawanan Ali dan hal-hal baik yang dilakukan itulah yang membuat dia dikenang, lebih dari sekadar juara dunia.

Tahun 1998, Ali ditunjuk sebagai Pembawa Pesan Perdamaian PBB oleh Sekjen Kofi Annan. Tahun 2005, ia dianugerahi Medal of Freedom, penghargaan tertinggi bagi warga sipil di AS karena menjadi tokoh yang menginspirasi dunia.

Man for Others

Apakah Muhammad Ali bisa melakukan semua itu karena ia seorang juara dunia?

Saat merenungkan pertanyaan itu, saya menemukan cerita di halaman Facebook keponakan saya tentang seorang guru yang mengajarkan kedermawanan dan kemurahan hati bagi sesama. Namanya Hardjosudiro, guru di SMA Kolese John De Britto Yogyakarta.

Pak Hardjo (80) semula berniat melelang motor tuanya untuk menutup biaya pembuatan sumur di rumahnya. Berita soal lelang itu didengar murid-muridnya yang kini sudah menjadi pengusaha. Mereka pun menyelenggarakan lelang.

Hasilnya, motor tua Pak Hardjo terbeli seharga Rp 37 juta. Tak dinyana, guru kimia itu meneruskan kebaikan yang ia terima dengan menyumbangkan hasilnya, Rp 20 juta kepada dua yayasan anak difabel Bakti Luhur di Malang, Jawa Timur, dan Yogyakarta. Dalam ketidakpunyaan, ia memberi kepada yang lain.

“Membantu sesama yang membutuhkan itu harus karena saya sering dibantu. Kalau uang sebanyak buat saya semua, mau untuk apa? Saya sudah tua, akan lebih berguna bagi yang membutuhkan,” tuturnya.

Cerita soal Pak Hardjo ini menjadi viral di media sosial dan menjadi inspirasi bagi banyak orang. Saya membayangkan, kelak orang akan mengenang guru ini sebagai orang baik, seperti halnya Muhammad Ali juga lebih suka dikenang seperti itu.

Dalam wawancara dengan David Frost tahun 1974, Frost bertanya kepada Ali, “Bagaimana kamu ingin dikenang bila kamu sudah tiada nanti?”

Kata Ali, “Aku ingin mereka berkata: ia adalah orang yang mengambil beberapa cangkir cinta, satu sendok kesabaran, satu sendok kemurahan, sejumput kebaikan, menyisipkan sebagian humor, perhatian, dan kemudian mencampurnya dengan harapan dan kebahagiaan. Lalu menambahkan kepercayaan dan mengaduknya baik-baik. Ia membawa campuran itu sepanjang hidupnya, dan membagikannya pada setiap orang yang ditemuinya.” (II/AA/Kompas)

Berikan Tanggapan Anda

komentar untuk artikel ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.