Islam Agama Cinta

love islam“Agama adalah mengenal Allah (ma’rifatullah). Mengenal Allah adalah berlaku dengan akhlak (yang baik). Akhlak (yang baik) adalah menghubungkan tali kasih sayang (silaturahim). Dan silaturahim adalah memasukkan rasa bahagia di hati saudara (sesama) kita.”

-Rangkaian hadis yang dijalin oleh Syaikh Yusuf Al-Makassari

Banyak orang yang mengalami kekeringan makna dalam hidupnya. Hal ini dikarenakan ia tidak mengetahui tujuan dan jalan yang mesti ia tempuh untuk membebaskan kehidupannya dari belenggu yang sangat menyiksa. Disaat tidak ada lagi yang bisa ditempati untuk menyandarkan harapan-harapan hidup, Agama hadir untuk membebaskan jeratan-jeratan yang membuat manusia jatuh pada kehampaan makna dalam hidupnya.

Agama yang hadir dengan ajaran yang penuh cinta kasih, kemudian menjadi jalan keluar dari jeratan-jeratan yang membelenggu kehidupan manusia. Manusia yang dulunya dihantui kegelisahan akhirnya kini secara perlahan bisa tertolong, dan dengan ajaran cinta kasih jugalah agama mampu mengantar manusia menemukan kebahagiaan dalam lorong-lorong perjalanan hidupnya

Islam sebagai agama cinta selalu hadir untuk mempromosikan kedamaian hidup bagi manusia dan seluruh unsur alam semesta. Hubungan yang terjalin antara Tuhan, manusia dan seluruh alam merupakan ikatan yang selalu dlimpahi kasih sayang. Dengan demikian, sudah seharusnya hubungan kasih itu dijaga oleh semua generasi yang mengaku dirinya beragama Islam. Adapun persoalan terkait orang-orang yang beragama Islam tetapi kerap didapati melakukan tindakan intimidasi dan kekerasan terhadap kelompok atau individu lain, diindikasikan bahwa pemahamannya tentang ajaran Islam masih perlu diperdalam dan diperbaiki lagi. Karena sesungguhnya Islam tidak pernah sama sekali bersepakat terhadap tindakan yang jauh dari cinta dan kasih sayang.

Dalam buku ISLAM Risalah Cinta dan Kebahagiaan mengatakan bahwa, Setiap muslim perlu melakukan penggesran paradigma dalam keberagamaannya. Paradigma keagamaan Islam sebagai agama yang berorientasi hukum (law oriented) harus digeser ke paradigma Islam sebagai agama yang berorientasi cinta (love oriented). Paradigma Islam sebagai agama yang berorientasi hukum kerap menimbulkan beberapa permasalahan. Perbedaan penafsiran terhadap teks-teks utama dalam ajaran ini berkonsekuensi melahirkan mazhab-mazhab Fiqh dalam Islam. Dan seringkali perbedaan dalam urusan fiqh ini dijadikan alasan beberapa kelompok yang gagal memahami inti ajaran islam untuk mengawali perpecahan antar sesama muslim. Mereka mulai memonopoli kebenaran ajaran ini dengan mengklaim bahwa hanya mazhab yang diyakini oleh mereka yang benar dan mampu mengantar kepada keselamatan.

Padahal seperti yang kita ketahui bersama, perbedaan dalam penafsiran teks merupakan sebuah hal yang niscaya, tak perlu dipermasalahkan dan mesti ditoleransi. Sebab semua orang berhak untuk menafsir sesuai dengan kadar pengetahuannya masing-masing. Dan kalaupun ternyata didapati kekeliruan, sudah seharusnya hal itu didiskusikan dengan cara-cara yang damai, bukan malah tergesa-gesa untuk menyalahkan dan menyulut pertikaian.

Oleh karena itu paradigma Islam sebagai agama yang berorientasi hukum mesti digeser ke paradigm Islam yang berorientasi cinta. Hal tersebut dilakukan agar wajah Islam yang selama ini terus tereduksi oleh wacana Islamophobia bisa kembali menampilkan wajah Islam yang senantiasa dilimpahi cinta-kasih dan kedamaian. Upaya ini juga dilakukan demi meminimalisir apa yang disebut oleh Edi AH Iyubenu dengan istilah clash of fiqh, yang belakangan ini kerap mengganggu kehidupan dan persaudaraan umat Islam.

Umat Islam kemudian sudah seharusnya mendaulat diri sebagai agen untuk menebarkan cinta kasih dan kedamaian. Sebagaimana Nabi Muhammad SAW yang disebut Nabiyyurrahmah, Nabi yang penuh kasih sayang. Kasih sayangnya tidak hanya untuk orang muslim saja, tetapi untuk semua, bukan hanya untuk manusia, tetapi juga untuk seluruh alam semesta. Seorang muslim juga bertugas untuk menampilkan Islam sebagai agama yang sejuk dan penuh kasih sayang dengan menunjukan akhlak yang baik dalam berperilaku sehari-hari. Sesungguhnya Rasulullah melembutkan hati orang-orang yang keras bukan dengan pedang dan perang melainkan dengan akhaknya yang mulia dan menyejukkan. Dan hanya dengan seperti ini Islam akan dapat menampilkan wajahnya sebagai agama yang Rahmatan lil-‘alamin, Rahmat bagi alam semesta.

Islam adalah Agama Cinta. Agama yang mampu mengantarkan umat manusia kepada kebahagiaan dengan semangat persaudaraan yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Tidak dengan kekerasan ataupun tindakan kejahatan. Islam adalah agama penuh kasih sayang, yang membebaskan manusia dan seluruh alam semesta dengan mengutamakan keselamatan serta menomorsatukan perdamaian (Achmad Nurcholish, 2012). Wallahua’lam bi al-shawab.

Oleh: M. Mario Hikmat A.

Ingin opini anda di-publish di Islaminesia.com? Silahkan kirimkan tulisan anda ke email redaksi islaminesia@gmail.com. Terimakasih.

Berikan Tanggapan Anda

komentar untuk artikel ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.