Problematika dalam Kebebasan Beragama

aaaaaaIslaminesia.com – Terdapat hal paradoks dalam wacana kebebasan beragama dalam Islam. Disatu sisi Islam memberikan ruang bagi kebebasan beragama secara luas kepada umat manusia, termasuk didalamnya adalah “pindah agama.” Disisi lain, Islam juga memberikan konsep murtad yang menolak adanya kebebasan memilih agama. Konsep yang kedua ini sering dijadikan dalih untuk memberikan penilaian atas sikap melawan bentuk-bentuk pindah agama.

Tentu saja hal paradoks ini perlu dibongkar secara luas untuk menggelontorkan semangat pluralisme dalam Islam. Hal itu disebabkan pluralisme membutuhkan kebebasan memilih dalam beragama bagi setiap orang dan menolak kebenaran tunggal hanya dalam agama tertentu, misalnya Islam. Dari sini, pandangan tentang ketidakbolehan “pindah agama”, tentu saja bertentangan dengan pluralisme agama.

Islam memberikan pilihan bebas dalam beragama. Islam tidak membenarkan adanya paksaan dalam memasuki agama tertentu. Setidaknya ada tiga argumentasi yang dapat dikemukakan untuk itu: Pertama, Al-Quran secara jelas mengemukakan soal kebebasan agama ini dengan diktum “kebebasan memeluk agama”, sebagai berikut:

“Tidak ada paksaan dalam memeluk agama. Sungguh kebenaran telah tampak nyata perbedaanya dengan kesesatan. Maka barang siapa melawan kekuatan syaitan (kekuatan penindas) dan beriman kepada Allah, maka ia betul-betul berpegang pada pegangan yang kuat dan tak akan putus” (QS. 2:256).

Dalam ayat ini, secara jelas dinyatakan bahwa tidak ada paksaan dalam memeluk agama, khususnya dalam konteks ini adalah Islam. Hal ini dapat dilihat dari sebab turunnya ayat ini. Setidaknya ada dua versi tentang turunnya ayat ini meski sama-sama berkaitan dengan kasus orang Anshar. Versi pertama diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Ibnu Abbas, yang berkata “ada seorang perempuan Islam yang kehidupannya kekurangan dan menghidupi anak yang beragama yahudi. Ketika terjadi pengusiran Bani Nadzir, anak itu ikut didalamnya, padahal ia anak seorang perempuan Anshar”. Orang Anshar berkata, Kami tidak bisa mencegah anak-anak kami, dan turunlah ayat ini”.

Versi kedua diriwayatkan Ibnu jarir dari Muhammad Bin Ishaq bin Abi Muhammad Al-Jarsi, dari Zaid Bint Tsabit dari Ikrimah atau dari Said dari Ibnu Abbas yang berkata, Ayat ini diturunkan berkaitan dengan kasus seorang laki-laki Anshar dari bani Salam bin Auf yang memilki dua orang anak, dan kedua anaknya beragama Nasrani, sementara laki-laki (yang jadi ayah itu) adalah seorang Muslim. Laki-laki itu berkata kepada Nabi, “sungguh saya telah memaksa kedua anak saya, tetapi keduanya tetap memeluk agama Nasrani”, maka turunlah ayat ini.

Jelas hal ini merupakan sebuah kasus yang sangat penting yang justru terjadi di masa Nabi. Dari situ terlihat bahwa Nabi pun tidak memaksakan agamanya untuk dipeluk oleh orang Yahudi dan Orang Nasrani. Kalau akhirnya didalam Al-Quran terjadi perdebatan atau bantahan antara Muhammad disatu sisi dengan kelompok Yahudi dan Nasrani di sisi lain, adalah sesuatu yang wajar dalam situasi memperebutkan kepentingan untuk menguasai Makkah dan Madinah sebab tiap-tiap komunitas mendeklarasikan diri sebagai “agama yang benar”.

Hanya Saja, yang jelas bahwa dari ayat diatas yang sebenarnya menjawab persoalan-persoalan perbedaan agama, pemaksaan agama dan pemaksaan untuk memilih agama., kenyataannya sangat dikecam oleh Al-Quran. Al-Quran betul-betul elegant dan bervisi pluralis, dengan mengatakan “tidak boleh ada paksaan dalam memeluk agama Islam”. Sukar diingkari bahwa pemilihan agama adalah bagian dari kebebasan seseorang, yang dipresentasikan oleh anak (Yahudi dan Nasrani) seorang Anshar di atas, yang tidak memeluk agama ayahnya dan diperbolehkan oleh Rasul.

Kedua, Al-Quran juga sangat elegant memberikan sikap terhadap agama lain, dengan memberikan kebebasan terhadap agama lain dengan mengatakan, “bagimu agamamu, bagiku agamaku”. Ayat ini secara lengkap disebutkan dalam Surah Al-Kafirun, sebagai berikut:

Katakanlah (Muhammad): “Hai orang-orang kafir. Saya tidak akan menyembah Tuhan yang engkau sembah. Engkau juga tidak akan menyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak menyembah seperti cara kamu menyembah, dan kamu juga tidaklah menyembah seperti caraku menyembah. Bagimu agamamu bagiku agamaku.” (QS. 109:2-7)

Tentang surah ini, As-Suyuthi meriwayatkan dari Thabrani dari Ibnu Hatim yang bersumber dari Ibnu Abbas berkata, “Datanglah orang-orang Quraisy kepada Nabi dengan menawarkan harta yang banyak agar Muhammad menjadi yang terkaya di Makkah, dan memberi perempuan cantik yang disukai asal Muhammad tidak mencaci maki tuhan kami, dan kami akan menyembah Tuhannmu (Muhammad) selama setahun”. Rasul menjawab, “Lihat saja hingga Tuhanku menurunkan Wahyu padaku, dan turunlah surah ini”.

Di sini, Al-Quran membebaskan orang-orang Makkah untuk memeluk agamanya sendiri, dalam konteks orang-orang Makkah belum melakukan kekerasan fisik dan pengejaran terhadap Muhammad. Tetapi perkembangan selanjutnya, orang-orang Makkah ini melakukan kekerasan terhadap pengikut-pengikut Muhammad dan melakukan penindasan. Dengan jelas disini dikatakan ketika orang-orang Makkah belum atau tidak melakukan kekerasan dan penindasan, maka dibebaskan agama itu. Hanya saja, agama orang-orang Makkah yang mewarisi tradisi Ibrahim dikecam oleh Muhammad karena digunakan untuk melegitimasi penindasan terhadap orang-orang miskin.

Ketiga, setidaknya ada tiga hal yang bisa dianggap bahwa Muhammad tidak memaksakan agamanya kepada orang lain, yang dapat dikatakan sebagai visi teologis kebebasan memilih agama, termasuk dalam hal pindah agama. Tiga hal ini adalah: 1) Muhammad hidup serumah dan diasuh oleh mereka yang tidak mengikuti ajaran Muhammad dan juga tidak menentang ajaran Muhammad. Figur seperti Abu Thalib, dalam situasi kecaman-kecaman Muhammad yang menimbulkan kemarahan para Aristokrat Makkah, sangat berharga bagi Muhammad meskipun ia bukan pengikut Muhammad. Disini Muhammad juga memberi kebebasan kepada pamannya untuk memilih agama; 2) Muhammad meminta bantuan kepada Penguasa Ethiopia yang kala dipegang oleh raja yang masuk federasi Romawi yang beragama Kristen, bernama Negus. Hal ini terjadi ketika Hijrah pertama, dan ketika Muhammad yang berada di Makkah mendapat tekanan fisik dan penindasan. Dari kasus ini jelas bahwa Muhammad juga tidak apriori kepada agama lain, bahkan meminta bantuan dan diterima secara baik oleh pemerintah Ethiopia; 3) Muhammad di Madinah mengadakan perjanjian Madinah yang secara jelas memberikan pengakuan atas agama-agama lain, sebagai satu umat di Madinah yang harus mempertahankan Madinah dari musuhnya. Ketika satu komunitas diserang, maka mereka harus saling membantu. Dan, di Madinah inilah banyak kaum Anshar yang didalam keluarganya berbeda-beda agama.

Dari beberapa argumentasi inilah, secara jelas Islam tidak mengabsahkan pemaksaan dalam memilih agama. Pemilihan agama diserahkan kepada masing-masing individu untuk memeluknya, atau bahkan tidak memeluk agama formal sekalipun, asal memiliki millah yang hanif seperti Ibrahim, di perbolehkan. Paradigm kebebasan dalam memilih agama inilah hal yang paling mendasar dalam keyakinan pribadi seseorang yang diberikan Islam: bervisi Pluralis. (II/AA/PS)

Rujukan: Jurnal Kajian Ilmu-ilmu Islam (Nur Khalik Ridwan)

Berikan Tanggapan Anda

komentar untuk artikel ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.