Membunuh Sakralitas Agama

Sumber: yesmuslim.blogspot.com

Sumber: yesmuslim.blogspot.com

Islaminesia.com–Perjalanan manusia selalu memiliki tendensi untuk sampai kepada keselamatan. Sesuai dengan fitrahnya, manusia selalu menghindari apa saja perilaku yang dapat mengancam keselamatan dirinya. Bisa kita lihat dalam kehidupan sehari-hari, bahwa tidak ada manusia yang ingin celaka, semuanya ingin selamat dan mendapat kebahagiaan.

Dalam beberapa ajaran agama, kedamaian, dan cinta kasih merupakan pelajaran inti yang harus dipahami para penganutnya. Karena hanya dengan kedamaian dan cinta kasihlah keselamatan dapat tercapai. Sedangkan kekerasan dan kejahatan pasti tidak akan mampu mengantarkan manusia kepada keselamatan. Dengan demikian, jika ada ajaran agama yang menimbulkan kebencian, kekerasan, bahkan perpecahan umat, menurut hemat penulis merupakan kesalahpahaman akan ajaran inti dari setiap agama.

Sebagai sebuah jalan, agama harusnya mampu mengantarkan para penganutnya untuk sampai kepada keselamatan. Namun pada perkembangannya, tidak sedikit orang yang gagal paham dalam menafsirkan ajaran-ajaran agama. Sehingga keselamatan yang diidamkan dari ajaran agama pun kian menjauh dari kenyataannya. Kesalahpahaman dalam menafsir ajaran agama berdampak pada terkikisnya sakralitas agama dan kesimpulan paradoks yang dihasilkannya. Menurut John Effendi, kesimpulan paradoks agama pada suatu waktu memproklamirkan perdamaian, jalan menuju keselamatan, persatuan dan persaudaraan. Namun pada waktu yang lain menempatkan dirinya sebagai sesuatu yang dianggap garang-garang menyebar konflik, bahkan tak jarang, seperti dicatat dalam sejarah, menimbulkan peperangan. Alhasil Keberagamaan yang harusnya bersifat transenden harus terjebak pada realitas keagamaan yang bersifat imanen.

Menurut penulis, setidaknya ada tiga faktor yang akhir-akhir ini menyebabkan seseorang bisa salah paham dalam menafsirkan ajaran agama, antara lain:

  1. Ketidakjelasan Tujuan dalam Beragama

Ketika orang tua saya beragama Islam, maka secara langsung saya juga menjadi penganut ajaran Islam. Jika dilihat secara lebih kritis, keberagamaan kebanyakan orang hanya merupakan warisan dari orang tuanya yang bersifat dogmatis, bukan merupakan proses pencarian secara mandiri tentang makna apa yang terkandung dalam ajaran agama. Dan kebanyakan dari mereka tidak mau pusing untuk mempertanyakan kembali mengapa saya harus beragama? Betulkah ajaran agama yang saya anut selama ini? Atau apa tujuan saya beragama? Menurut hemat saya, ketidakjelasan tujuan akan mengantarkan pada ketidakjelasan apa yang sebenarnya mau dicapai. Alhasil, dari fenomena tersebut, ajaran agama yang seharusnya memiliki kedalaman makna, hanya bisa terpahami pada bagian-bagian luarnya saja.

  1. Belajar Agama pada Orang yang Salah

Dalam mempelajari agama, seseorang harus belajar kepada orang yang telah paham dengan pokok-pokok ajaran agamanya, yang keilmuannya sudah diakui oleh orang-orang di sekitarnya, dan kemudian pengetahuannya tersebut ia praktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Belajar agama tidak bisa dengan sembarang orang, apalagi yang belum cukup paham terhadap agama tersebut. Misalnya, ketika kita ingin menanyakan tentang bagaimana hukumnya melaksanakan salat subuh dengan kunut. Kita mestinya menanyakannya kepada seorang ustaz yang sudah teruji pengetahuannya tentang agama, bukan malah menanyakannya kepada orang yang baru saja belajar agama, ataupun kepada orang yang salat subuh pun jarang dia lakukan. Seperti halnya jika kita sedang sakit, kita mesti menanyakannya kepada seorang dokter yang sudah bertahun-tahun belajar tentang penyakit, bukan menanyakannya kepada seorang arsitek bangunan ataupun kepada sarjana teknik perkapalan.

  1. Belajar Agama Setengah-Setengah

Jika anda ingin belajar agama, maka pelajarilah agama seutuhnya dan jangan setengah-setengah. Hasil pengamatan saya, belakangan ini banyak orang-orang yang mempelajari agama bukan karena kepentingan akidah dan syariat agamanya, melainkan karena adanya suatu kepentingan yang bersifat duniawi. Sebagai contoh, banyak yang tiba-tiba belajar tentang hukum jual-beli menurut Islam, karena jual-beli syariah akhir-akhir ini merupakan tren yang mampu menarik lebih banyak konsumen dalam meningkatkan produktivitas. Kemudian, setelah mereka memahami tentang hukum jual-beli, mereka memutuskan untuk mengistirahatkan diri belajar tentang agama.

Dari fenomena tersebut, bisa disimpulkan bahwa ada orang yang pilih-pilih dalam mempelajari ajaran agama. Misalnya ia seorang pedagang, maka ia hanya mempelajari agama untuk persoalan terkait hukum-hukum dalam berdagang. Jika ia seorang politikus, maka ia hanya mencari tahu tentang bagaimana berpolitik menurut hukum agama. Orang-orang tersebut merasa cukup untuk mempelajari agama sesuai dengan kebutuhannya. Padahal, agama harusnya dipelajari secara utuh dan menyeluruh, tidak boleh ada kata cukup dalam belajar agama.

Kesalahpahaman dalam beragama yang terjadi belakangan ini digambarkan oleh T.S.Elliot sebagai era kecemasan. Era di mana agama dapat mengakibatkan keteransingan dan kekeringan akan nilai-nilai agama. Sakralitas yang terkandung dalam ajaran agama kian tersisih oleh laku yang sebenarnya sangat jauh dari anjuran agama.

Hadirnya beberapa lembaga keagamaan malah memenjarakan agama pada kesempitan makna yang dikandungnya. Menjadikan agama hanya sebagai kumpulan ritus-titus formal yang kaku, tidak berjiwa, dan tidak membebaskan. Kumpulan kebohongan tentang masa lalu dan masa depan, kumpulan ilusi tentang diri, manusia, dan tuhan. Padahal sejatinya, seperti yang dikatakan Asghar Ali Engineer, agama Islam hadir sebagai penggerak umat dalam melakukan transformasi sosial, membebaskan budak dari penindasan, mengatur aktivitas ekonomi yang berkeadilan, serta yang lebih penting adalah memberikan semangat untuk berjuang melawan kejahatan kemanusiaan.

Oleh Karena itu, agama harus dipahami secara utuh dan menyeluruh sebagai sesuatu yang revolusioner, agar dalam kehidupan ini kita bisa mencapai keselamatan yang telah dijanjikan agama melalui kitab-kitabnya. Kita harus memantapkan tujuan dalam belajar agama, tidak boleh belajar setengah-setengah, dan harus belajar pada orang yang diakui keilmuanya tentang agama. Ini adalah upaya untuk meminimalisir kesalahpahaman tentang ajaran agama, agar sakralitas agama yang kini telah terkoyak dimakan peradaban bisa kita kembalikan ke tempat asalnya. Upaya mengembalikan agama pada kesakralannya memang bukan sesuatu yang mudah, tapi usaha itu harus tetap konsisten dijalankan dan selalu diperjuangkan. Wallahu a’lam bishawab.

Oleh: M. Mario Hikmat A.

Ingin opini anda di-publish di Islaminesia.com? Silahkan kirimkan tulisan anda ke email redaksi islaminesia@gmail.com. Terimakasih.

Berikan Tanggapan Anda

komentar untuk artikel ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.