Memaknai Sebuah Revolusi

Sumber: khairul-anas.blogspot

Sumber: khairul-anas.blogspot

Islaminesia.com–Merupakan konsekuensi logis, bahwa segala maujud yang bersifat materi pasti mengalami perubahan wujud, baik secara substansial maupun secara aksidental. Berbicara mengenai perubahan wujud, tidak terlepas dari pengaruh gerak yang melingkupi maujud tersebut. Gerak yang mempengaruhi perubahan bentuk suatu maujud dibagi menjadi dua, yaitu gerak substansial dan gerak aksidental. Gerak substansial merupakan sebuah keniscayaan, tidak ada ikhtiar untuk melawan gerak tersebut, contohnya proses menuanya seorang manusia, perubahan pada pucuk menjadi daun sempurna kemudian menguning dan selanjutnya gugur, dan masih banyak lagi contoh gerak subtansial yang biasa kita saksikan. Gerak aksidental adalah gerak yang di dalamnya terdapat kehendak untuk memilih tindakan apa yang harus direalisasikan. Gerak ini dimiliki oleh makhluk hidup, seperti hewan dan manusia. Misalnya gerak hewan yang menuntunnya untuk memenuhi dahaga dan laparnya, gerak hewan yang mempertahankan diri dari musuh, gerak seorang manusia yang berpindah dari tempat yang satu menuju ke tempat lain, berburu, bertani, berbudaya, berbangsa, kemudian melahirkan peradaban.

Gerak aksiden dilandasi oleh dua faktor, faktor insting dan faktor akal sadar. Puncak gerak yang dilandasi oleh akal sadar akan berujung pada sebuah revolusi. Revolusi yang sangat jelas telah ditulis dalam sejarah perjalanan lahirnya Islam. Oleh Rasulullah SAW yang berhasil mewujudkan puncak interaksi sosial yang berasaskan keadilan dan kemanusiaan di tanah Madinah Al-Munawwarah.

Secara umum, revolusi dimaknai sebagai pemberontakan yang dilakukan oleh sekelompok orang di suatu wilayah terhadap tatanan sosial yang ada untuk diganti dengan tatanan sosial yang baru, dengan kata lain, revolusi berarti pemberontakan terhadap keadaan yang menguasai dan bertujuan untuk menegakkan keadaan yang lain. Berdasarkan konteks tersebut, ada dua hal yang menjadi faktor terjadinya revolusi, yang pertama kemarahan dan ketidakpuasaan terhadap keadaan yang ada, dan yang kedua keinginan akan keadaan yang didambakan. Akumulasi dari dua faktor tersebut akan mempercepat terjadinya revolusi.

Ketika relasi revolusi dikontekskan dengan defenisi tersebut, maka yang terpahami menjadi penyebab pemberontakan sangat erat kaitannya dengan penguasaan faktor produksi atau bersifat ekonomikal. Pandangan ini meyakini bahwa segala bentuk revolusi yang terjadi selama ini, apapun bentuknya mulai dari Revolusi Perancis, Revolusi Kebudayaan China, dan Revolusi Oktober Rusia, hakikat dan sifat dari semua revolusi tersebut sama yaitu bersifat keekonomian dan materiil. Penganut paham ini menganggap bahwa rasa ketidakpuasan tidak lain adalah ketidakpuasan terhadap penerapan keadilan ekonomi yang kemudian memendar menjadi kemarahan kolektif yang puncaknya pada penggulingan terhadap penguasa yang dianggap sebagai penindas, selanjutnya bermuara pada suatu tujuan yaitu menerapkan keadilan ekonomi yang dianggap ideal.

Pemberontakan yang diasosiasikan dengan ekonomi artinya tidak terlepas dari persoalan isi perut. Pemberontakan seperti ini tidak hanya terbatas pada pemberontakan manusia, tapi binatang pun ketika dibiarkan kelaparan, seringkali memberontak kepada manusia atau binatang lainnya, bahkan terhadap tuannya.

Dalam banyak kasus, revolusi juga sering dikategorisasi ke dalam bentuk revolusi yang bersifat manusiawi. Revolusi seperti ini biasanya membenturkan keadaan yang menguasai dengan hak-hak asasi manusia yang seakan-akan tidak dipedulikan oleh rezim yang berkuasa, seperti meniadakan hak kebebasan atau hak untuk menentukan nasib sendiri, serta hak untuk berpendapat. Revolusi dengan pahaman ini cenderung liberal dan demokratis. Revolusi ini sering ditandai dengan teriakan-teriakan yang mengatasnamakan hak asasi manusia, kesetaraan gender, perlindungan anak, dan lain-lain.

Yang luput dari pandangan umum, revolusi yang lahir dengan landasan ideologikal. Yaitu bila suatu masyarakat percaya terhadap suatu aliran pemikiran, dan menganggap bahwa aliran yang diyakininya berada dalam bahaya dan menjadi suatu sasaran penyerangan yang merusak, mereka menjadi marah terhadap pengerusakan atas aliran pemikiran yang diyakininya. Bagi orang-orang ini, revolusi tidak ada hubungannya dengan perut kenyang, atau kebebasan politik. Karena meskipun mereka merasa mendapatkan kebebasan politik dan perut mereka kenyang, namun jika mereka menganggap bahwa aliran keyakinannya tidak dihormati, maka mereka akan bangkit melawan dan memberontak. Revolusi yang sesungguhnya adalah revolusi yang melampaui semua yang bersifat materi. Revolusi yang lahir karena kehendak untuk menciptakan tatanan ideal dalam interaksi sosial masyarakat.

Revolusi biasanya mempertemukan dua masyarakat yang disebut kaum borjuis dengan kaum proletar, dimana kaum borjuis bertindak sebagai penindas atau golongan kaya, sedangkan kaum proletar bertindak sebagai rakyat yang tertindas yang menuntut haknya terhadap kaum borjuis. Tapi berbeda dengan revolusi yang berlandaskan Ideologi, pertarungan bukan antara kaum kaya dengan kaum miskin, melainkan semua elemen masyarakat sama-sama memperjuangkan sebuah aliran yang mereka yakini. Dan ketika sebuah aliran atau ideologi diperjuangkan, maka hal-hal yang bersifat materil mudah didapatkan. Berkaca pada revolusi Islam yang dibawa oleh Rasulullah, semua elemen masyarakat ikut memperjuangkan apa yang diperjuangkan oleh Rasulullah, mulai dari budak kerajaan, sampai pada bangsawan. Dengan memperjuangkan apa yang diyakininya, budak bisa memperoleh kemerdekaannya, orang miskin bisa dengan mudah mendapatkan makanan, bangsawan memahami posisi kebangsawanannya. Puncak kejayaan Islam di masa Rasul telah mengajarkan kepada kita semua seperti apa tatanan sosial yang ideal dalam Interaksi sosial masyarakat. (PS/FH

Sumber rujukan: Falsafah Pergerakan Islam (Murtadha Muthahhari)

Berikan Tanggapan Anda

komentar untuk artikel ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.