Bukti Kasih Rasulullah SAW

Sumber: suarasurabaya.net

Sumber: suarasurabaya.net

Islaminesia.com–Alkisah, pada zaman Rasulullah SAW hidup seorang pengemis Yahudi buta. Setiap hari ia mengemis di salah satu sudut pasar di Kota Madinah. Ia selalu berseru kepada orang-orang yang berlalu-lalang di pasar tersebut, “Jangan dekati Muhammad! Jauhi dia! Jauhi dia! Dia orang gila. Dia itu penyihir. Jika kalian mendekatinya maka kalian akan terpengaruh olehnya.”

Hampir setiap hari pengemis itu di temani oleh seseorang di sampingnya. Orang tersebut dengan lemah lembut dan kasih sayang menyuapi pengemis yang hampir tidak pernah berhenti menghina dan merendahkan Muhammad SAW. Orang tersebut hanya terdiam saat teriakan makian dan hinaan itu keluar dari mulut pengemis. Ia terus menyuapi makanan ke mulut pengemis itu hingga habis.

Sampai pada suatu hari, seseorang yang selama ini menemaninya dan berbelas kasih menyuapinya dengan sabar tak datang. Hingga kemudian, datanglah orang lain yang membawa nasi bungkus dan menawarkan diri untuk menyuapinya. Ia adalah sahabat Rasulullah SAW.

Setibanya di pasar, sahabat marah mendengar hinaan yang senantiasa keluar dari mulut pengemis itu. Meski demikian, ia berusaha untuk bersabar dan terus menyuapi pengemis buta yang tak henti-hentinya menghina Nabi. Namun, bukan rasa terima kasih yang diperoleh sahabat, jusru penyangkalan dan hardikan keras dari pengemis tersebut.

Kau bukan orang yang biasa memberiku makanan,” hardik si pengemis buta.

Aku orang yang biasa,” kata sahabat.

Tida! Kau bukan orang yang biasa ke sini untuk memberiku makanan. Apabila dia yang datang, maka tak susah tangan ini memegang dan tak susah mulutku mengunyah. Dia selalu menghaluskan terlebih dahulu makanan yang akan disuapinya ke mulutku.”

Mendengar perkataan pengemis buta tersebut, sahabat tak kuasa membendung rasa harunya. Air matanya tumpah tak tertahankan, dadanya turun naik, ia menangis terisak-isak.

Sahabat Nabi Muhammad SAW itupun berkata, “Memang, benar, Aku bukan orang yang biasa datang membawa makanan dan memberimu suapan atas makanan itu. Aku memang tidak bisa selemah lembut orang itu. Ketahuilah bahwa Aku adalah salah satu sahabat orang yang setiap hari menyuapimu tersebut. Orang yang dulu biasa ke sini dan memberimu makan dan menyuapimu telah wafat. Aku hanya ingin melanjutkan amalan yang ditinggalkan orang tersebut, karena Aku tidak ingin melewatkan satu pun amalannya setelah kepergiannya.”

Si pengemis buta Yahudi tersebut terdiam dan bertanya siapa orang yang selama ini memberinya makan dan juga menyuapinya.

Ketahuilah, bahwa Ia adalah Muhammad, Rasulullah SAW. Orang yang setiap hari kau hinakan dan kau rendahkan di depan orang banyak di pasar ini,” jawab sahabat kepada pengemis buta itu.

Si pengemis Yahudi yang buta itu tertegun. Tak ada kata kata yang keluar dari mulutnya, namun tampak bibirnya bergetar. Air matanya perlahan jatuh membasahi pipinya yang berkeriput.

Si pengemis buta tersadar, betapa orang yang selama ini ia hinakan justru memperlakukannya dengan lemah lembut dan penuh kasih sayang. Ia justru malah merasa lebih hina dari apapun yang ada di dunia ini.

Selama ini aku telah menghinanya, memfitnahnya, bahkan saat Muhammad ada di sampingku sedang menyuapi aku. Tapi dia tidak pernah memarahiku. Dia malah dengan sabar melembutkan makanan yang di masukkan ke dalam mulutku. Dia begitu mulia.” Kata pengemis buta dalam tangisnya.

Pada saat itu juga, Si Pengemis Yahudi buta bersaksi di hadapan sahabat, mengucapkan dua kalimat syahadat ‘La ilaha illallah, Muhammadar Rasulullah.’ Si Pengemis buta memilih memeluk Islam setelah cacian dan sumpah serapahnya kepada Muhammad SAW dibalas dengan kasih sayang oleh Nabi yang mulia. (II/Islaminesia)

Berikan Tanggapan Anda

komentar untuk artikel ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.