AS Sembunyikan Keterlibatan Saudi di Serangan Teror 9/11

1Washington, Islaminesia.com – Dugaan Pemerintah Barack Obama menyembunyikan keterlibatan Arab Saudi dalam serangan teror 11 September di menara kembar WTC semakin menguat.

Sejumlah mantan penyelidik dan agen FBI blak-blakan menyebut Duta Besar Arab Saudi untuk AS, Pangeran Bandar bin Sultan seharusnya menjadi tersangka teror 9/11. Namun, hal itu ditutupi dengan dalil ‘kekebalan hukum’ yang dimiliki diplomat Saudi.

’28 halaman’ penyelidikan yang disensor karena diduga di dalamnya menyebut keterlibatan Saudi kini mengundang desakan untuk dirilis oleh pemerintah AS.

AS takut apabila membongkar dokumen tersebut akan mengalami imbas ekonomi mengingat banyaknya investasi Saudi di AS. Dugaan ini bergulir setelah Saudi mengancam untuk menjual seluruh asetnya di AS jika Pemerintah Obama membongkar hasil penyelidikan kasus teror 9/11.

Hal ini menjadi bumerang bagi pemerintah AS, karena di lain pihak warganya mendesak semua laporan penyelidikan di ungkap.

Pihak Joint Terrorism Task Forces (JTTF) di Washington dan San Diego yang basis operasinya untuk beberapa pembajak asal Saudi juga mengungkapkan hasil penyelidikannya yang menunjuk ke Kedutaan Saudi di Washington dan konsultan Saudi di Los Angeles.

Bukti yang jelas sebenarnya telah dikumpulkan dari file FBI dan CIA, khususnya mengenai dua pembajak pesawat asal Saudi yang menetap di San Diego.

Penyidik yang bekerja dengan JTTF di Washington mengeluh tidak bisa menyelidiki Pangeran Bandar (Duta Besar Saudi kala itu) karena Pemerintah AS sendiri yang memberikan perlindungan.

Mantan agen FBI, John Guandolo mengatakan “Duta besar Arab mendanai dua pembajak 9/11 melalui pihak ketiga.”

“Dia harus diperlakukan sebagai tersangka teroris, sebagaimana seharusnya anggota lain dari kelas elite Saudi yang Pemerintah AS tahu saat ini mendanai jihad global,” protesnya.

Mantan Pejabat Kepolisian Fairfax County, Roger Kelly juga berkeluh “FBI menutup telinga mereka setiap kali kita menyebut Saudi’. Ia menilai hal ini terlalu politisi sehingga sulit menyentuh tersangka yang notabenenya adalah Arab Saudi. (II/TF)

 

Berikan Tanggapan Anda

komentar untuk artikel ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.