Al-Quran dan Pluralitas dalam Masyarakat

1Islaminesia.com – Sulitnya orang-orang menerima keberagaman adalah salah satu tanda kemunduran peradaban manusia. Hal ini diperparah dengan hadirnya suatu kelompok yang mengklaim diri paling benar sehingga, merasa pantas menyematkan kata kafir atau sesat bagi kelompok yang berbeda keyakinan dengannya. Menurut Prof. Quraish Shihab, siapapun yang ingin menghapus keberagaman, maka ia bermaksud mengakhiri kehidupan.

Keberagaman adalah sebuah keniscayaan dan  tidak dapat dihindarkan. Al-Quran dengan jelas menggambarkan bahwa bagaimana Allah menurunkan hujan, lalu menumbuhkan beragam pepohonan yang menghasilkan beragam jenis buah dengan berbagai bentuk dan rasa, memelihara beragam binatang, gunung-gunung dan manusia yang dijadikan dari berbagai bangsa dan suku. Semua hal tersebut merupakan tanda-tanda kebesaran Allah SWTyang patut untuk di pahami.

Keberagaman yang dijelaskan dalam al-Quran hanya mampu dipahami oleh orang-orang yang mengetahui. Orang-orang yang tidak menyadari adanya keberagaman, tentu tidak akan mengetahui keberagaman, dan orang-orang yang tidak mengetahui, bukan termasuk orang yang kagum serta takjub kepada Allah SWT. Sebab keberagaman adalah keniscayaan,  maka ia ada di tengah-masyarakat, sehingga yang perlu dilakukan adalah mencari titik temu antar keberagaman yang ada.

Setiap masyarakat tentu memiliki nilai-nilai yang dianggap baik, bisa jadi dalam konteks tertentu yang seseorang anggap baik, belum tentu baik bagi kita. Firman Allah SWT “Begitulah Allah menjadikan setiap masyarakat menganggap baik apa yang mereka anggap baik, maka jangan memaki mereka walaupun mereka itu tidak menyembah Allah karena jika engkau memaki mereka, mereka akan memaki balik,..”. Jika kamu memaki, maka akan terusik kedamaian.

Setiap orang apapun agamanya, bahkan yang tidak beragama sekalipun mendambakan kedamaian, paling tidak damai pasif. Sebagai umat beragama yang hidup dalam suatu bangsa, tentu memiliki nilai-nilai sebagai konsekuensi dari keyakinan masing-masing. Orang yang beragama kristen memiliki nilai yang bisa jadi berbeda dengan nilai-nilai yang dianut orang Islam, tetapi menariknya menurut beliau adalah Allah SWT memerintahkan untuk saling bekerja sama. Misalnya, bagi umat Islam dalam QS. Al-Maidah ayat 2 terdapat perintah bekerja sama, yang konteksnya ditujukan kepada kaum musyrik. Umat Islam bisa bekerja sama dengan kaum musyrik, kata Allah, tentunya dalam hal kebaikan dan kebenaran.

Lebih lanjut Prof. Quraish Shihab menjelaskan bahwa keberagaman umat beragama dijelaskan Allah dalam Q.S.Saba’, “Nabi diperintah Allah untuk menyampaikan, kami (umat islam) atau kamu boleh jadi berada dalam kesesatan atau dalam  petunjuk, boleh jadi kami yang sesat, boleh jadi kamu yang sesat, boleh jadi saya yang benar, boleh jadi kamu yang benar. Kalian tidak diminta mempertanggung jawabkan dosa-dosa kami, kami tidak diminta mempertanggung jawabkan apa yang kalian kerjakan. Tuhan yang akan menghimpun kita dan memberi keputusan siapa yang benar dan yang salah”. Jadi, tak usah saling menyalahkan dan mengklaim diri paling benar.

Perlu dipahami bahwa tindakan kita sebagai umat islam terdapat dua cara menyikapi keberagaman dalam konteks beragama. Pertama, “sikap ke dalam” dalam artian karena kita meyakini ajaran Islam, maka sikap kita ke dalam diri adalah meyakini 100% bahwa ajaran Islam benar, itu berkaitan dengan kemantapan hati seseorang akan keyakinannya. Kedua, “sikap ke luar” artinya, jika dikontekskan hubungan keluar dengan kondisi masyarakat yang plural, jangan pernah mempersalahkan keyakinan orang lain yang berbeda, yang perlu dilakukan adalah menghormati keyakinan mereka. Karena yang paling patut untuk menilai hanyalah Allah SWT.

Allah SWT telah menunjukkan cara-cara bergaul antar sesama umat manusia dengan perbedaan prinsip-prinsip agama. Begitupula dalam pergaulan sesama muslim yang juga sering terdapat perbedaan-perbedaan. Marak terjadi adanya oknum-oknum yang mengatasnamakan agama dan merajalela menyandangkan sebutan sesat dan kafir bagi kelompok yang berbeda dengannya. Padahal keragaman adalah suatu hal yang mutlak, dan tidak bisa dihindari. Kita harus menghormati orang lain, walaupun dalam pandangan kita mereka itu salah. Mengutamakan sikap hormat, karena bagaimanapun menghormati pendapat bukan berarti menyetujui.

Pemikiran seseorang tidak bisa lepas dari perkembangan masyarakat, ilmu pengetahuan dan budaya. Begitupun islam, pemahaman masyarakat tentang Islam di masing-masing daerah berbeda-beda. Kita tidak bisa menyeragamkannya, selama tidak menyalahi prinsip dasar ajaran Islam. Selama semua menggunakan Al-Quran dan Sunnah. Prof.Quraish Shihab menganalogikannya seperti ini “Tuhan tidak bertanya 5 + 5 = berapa, karena jawabannya hanya satu yaitu 10. Hal yang Tuhan tanyakan 10 itu berapa + berapa? Bisa 1+9, 2+8, 3+7, 4+6, dst. Tujuan kita adalah Tuhan, walaupun jalan kita berbeda-beda. Jika orang-orang mengatakan banyak jalan menuju Roma, maka lebih banyak lagi jalan menuju surga. Syaratnya satu yaitu melalui jalan-jalan penuh kedamaian. Begitu anda menemui jalan yang tidak damai, teror, maki-memaki, itu bukan ajaran islam. “Setiap perbedaan yang tidak menimbulkan percekcokan itu adalah ajaran Islam, sedangkan setiap perbedaan yang mengatasnamakan Islam tapi menimbulkan percekcokan itu bukan ajaran Islam”. (Radaksi)

Berikan Tanggapan Anda

komentar untuk artikel ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.