Tafsir Surah Al-Falaq (Bagian 2)

Sumber: channel4.com

Sumber: channel4.com

Islaminesia.com—Pada bagian pertama surah ini, kita telah menjelaskan secara umum mengenai perintah Allah SWT untuk berlindung kepada-Nya dari segala bentuk kejahatan. Adapun pada bagian kedua ini, kita akan menjelaskan secara spesifik terkait kejahatan yang mengharuskan kita meminta pertolongan dan perlindungan kepada Allah SWT.

Jika kita memperhatikan kejahatan-kejahatan yang diceritakan dalam Al-Quran, maka kita akan menemukan satu poin penting yang terkandung dalam cerita tersebut, yaitu Allah SWT ingin mengajarkan kita terkait masalah pergolakan antara hak dan batil. Artinya, selama bumi ini masih dihuni oleh manusia, maka perseteruan antara hak dan batil akan tetap ada. Oleh sebab itulah, Allah SWT mengisahkan kejahatan-kejahatan yang terjadi di masa lalu agar kita menjadikannya sebagai bahan renungan dan mengambil pelajaran-pelajaran penting lalu mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari, sebagaimana kata pepatah “guru terbaik adalah masa lalu”.

Selain itu, Allah SWT juga menginginkan hamba-Nya untuk berserah diri kepada-Nya dalam kondisi apapun, karena sebaik-baik penolong dan pelindung adalah Allah SWT. Sebagaimana kisah Nabi Ibrahim yang berserah diri kepada Allah SWT sehingga ia selamat dari kobaran api.

Oleh sebab itulah, dapat kita simpulkan bahwa manusia harus senantiasa meminta pertolongan dan perlindungan hanya kepada Allah SWT, bukan selain-Nya. Kejahatan tidak akan pernah menang melawan kebenaran yang terorganisir dengan baik, karena kebenaran bersama Allah SWT.

Tafsir Ayat Kedua & Ketiga

مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ . وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ 

“Dari Kejahatan apa-apa yang telah Allah SWT ciptakan (Mahluk). Dan Dari Kejahatan Malam apabila gelap gulita.” (QS. Al-Falaq: 2-3)

Surah Al-Falaq ayat kedua hingga kelima murni menjelaskan bentuk-bentuk kejahatan. Kata ما حلق yang bermakna apa-apa yang telah Allah SWT ciptakan mengisyaratkan segala bentuk kejahatan yang bersumber dari makhluk (ciptaan), seperti manusia, binatang, tumbuhan, jin, setan dan segala sesuatu yang bisa menyebabkan kejahatan. Dari pemaknaan inilah sehingga muncul perbedaan pendapat terkait kata الفلق pada ayat pertama.

Dalam Tafsir Jalalin juga disebutkan bahwa yang dimaksud مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ adalah kejahatan dari hewan, baik itu hewan yang punya tanggung jawab (manusia), maupun hewan yang tidak punya tanggung jawab (binatang) dan benda-benda, seperti racun dan selainnya (Tafsir Jalalain, hal. 762)

Allamah Thabathaba’i dalam kitab tafsirnya menyebutkan bahwa yang dimaksud مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ adalah dari kejahatan sesuatu yang memiliki potensi untuk berlaku jahat, seperti manusia, jin, hewan, dan segala sesuatu yang bisa menyebabkan kejahatan. 

Setelah memutlakkan segala bentuk kejahatan dari Makhluk-Nya, Allah SWT kembali menjelaskan sumber kejahatan, tapi dalam bentuk yang khusus, yaitu kejahatan malam apabila masuk waktu gelap gulita. Yang dimaksud kejahatan malam dalam ayat ini adalah kejahatan yang terjadi pada malam hari yang tidak kita sukai atau mencelakai kita.

Sebagaimana yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari, kebanyakan kejahatan dilakukan pada malam hari, seperti santet, mencuri, pelecahan, pembunuhan, dan lain sebagainya. Atau kejahatan yang dilakukan binatang, seperti digigit ular atau kalajengking. Fenomena seperti ini sudah lazim bagi kehidupan manusia. Kejahatan-kejahatan ini sudah berlangsung lama, jauh sebelum masa Rasulullah SAW. (MH/FH)

 

Berikan Tanggapan Anda

komentar untuk artikel ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.