Penafsiran Misoginis Terhadap Perempuan

sumber: www.feministezine.com

sumber: www.feministezine.com

“Tidak akan pernah memuliakan perempuan kecuali laki-laki yang mulia, dan tidak akan pernah merendahkan perempuan kecuali laki-laki yang rendah juga.”

Islaminesia.com—Begitulah ungkapan mulia sang Rasul, Nabi kita Muhammad SAW puluhan abad yang lalu. Namun, apa yang terjadi kemudian hingga saat ini adalah perlakuan yang tidak semestinya terhadap kaum perempuan? Karena sistem sosial seringkali memang tidak adil dan menindas perempuan. Perempuan memikul beban yang cukup berat dalam masa industri sekarang ini. Padahal, di zaman Rasul dan Khulafaur Rasyidin, peranan perempuan cukup besar dalam masalah-masalah sosial.
Dewasa ini, ada banyak pandangan dari berbagai tokoh dan pemikir, termasuk sebagian pandangan keagamaan yang sangat menyudutkan kaum perempuan. Di antara pandangan yang merendahkan tersebut adalah:
a. Sigmun Freud, tokoh psikoanalisis. Ia pernah mengatakan bahwa, “Aku sudah meneliti jiwa wanita selama 20 tahun, dan aku sampai pada sebuah pertanyaan besar dan membingungkan, apa sebetulnya yang diinginkan wanita?”
b. Gustav Lebon, sosiolog Perancis. Dia mengatakan bahwa, “Perempuan itu kurang intelek.” Karena katanya otak perempuan mirip dengan otak gurilla.
c. Aristoteles, sang filosof Yunani, juga pernah berkata, “Perempuan adalah manusia yang belum selesai dan tidak lengkap. Manusia yang lengkap adalah pria.”
d. Schopen Hower, seorang filosof juga pernah berkata, “Makin banyak saya kenal wanita makin cinta saya pada anjing.”
Dalam teks keagamaan pun, kita juga bisa temukan semacam tafsir misoginis, berupa penafsiran yang menyudutkan kaum perempuan. Karena sebagiannya seringkali disampaikan secara sepotong-sepotong alias tidak utuh atau tidak lengkap. Beberapa contoh tentang hal ini di antaranya, hadis yang berbunyi:
– “Bila seorang perempuan menyakiti suaminya, Allah tidak akan menerima shalatnya dan semua kebaikan amalnya sampai dia membuat suaminya senang.” Sampai di situ hadis tersebut dipotong, padahal masih ada kelanjutannya, yaitu: “Begitu pula laki-laki menanggung dosa yang sama seperti itu bila ia menyakiti dan berbuat zalim kepada istrinya.” Pertanyaannya, mengapa dilakukan hal seperti itu? Hal ini tidak lain dilakukan untuk memuluskan kepentingan lelaki.
– Riwayat lain menyebutkan, “Sekiranya manusia boleh sujud kepada manusia lain, aku akan memerintahkan istri untuk sujud kepada suaminya.” Hadis ini diriwayatkan dalam Sunan Abu Dawud. Namun, Bukhari dan Ahmad meriwayatkan hadis berikut, “Ketika Aisyah ditanya apa yang dilakukan Rasulullah SAW di rumahnya, ia berkata: “Nabi melayani keperluan istrinya menyapu rumah, menjahit baju, memperbaiki sandal dan memerah susu.”” Anehnya, hadis ini jarang disebut oleh para ustadz atau muballigh, karena bertentangan dengan “kepentingan laki-laki.”
– Ada juga hadis berbunyi, “Siapa yang sabar menanggung penderitaan karena perbuatan suaminya yang jelek, ia diberi pahala seperti pahala Asiyah binti Mazahim.” Sesungguhnya sebelum teks itu, Nabi berkata, “Barangsiapa yang bersabar (menanggung penderitaan) karena perbuatan istrinya yang buruk, Allah akan memberikan untuk setiap kesabaran yang dilakukannya, pahala seperti yang diberikan kepada Nabi Ayyub as.”
– Atau juga ungkapan bahwa, “Kebanyakan penghuni neraka itu adalah perempuan.” Seseorang bertanya tentang kebenaran hadis itu kepada Imam Ja’far. Fakih besar abad kedua hijriah itu tersenyum dan berkata, “Tidakkah Anda membaca ayat Al-Quran, “Sesungguhnya Kami menciptakan mereka sebenar-benarnya; Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan, penuh cinta dan berusia sebaya.” Di surga lebih banyak bidadari daripada laki-laki mukmin.” Secara tidak langsung, Imam Ja’far menunjukkan bahwa hadis itu tidak benar.
Teks-teks agama yang merendahkan perempuan apalagi menyandarkan pada ucapan Nabi SAW, mungkin perlu dikritisi dan dipertanyakan. Apakah betul seperti itu? Sebab, saat Nabi SAW diutus justru beliau datang untuk membebaskan belenggu penindasan yang dialami oleh kaum perempuan. Karena begitu banyak ayat turun membela perempuan, maka di zaman Nabi, para sahabat memperlakukan istri mereka dengan sangat sopan. Mereka takut, kata Abdullah, wahyu turun mengecam mereka. Barulah setelah Nabi meninggal, mereka mulai bebas berbicara dengan istri mereka. Sayyidina Umar, ayah Abdullah, menceritakan bagaimana perempuan sangat bebas berkomentar kepada suaminya pada zaman Nabi.
Melalui Rasulullah SAW, Islam telah mengakhiri praktik-praktik penindasan terhadap kaum perempuan, dan sekaligus melakukan usaha emansipasi yang pertama dalam sejarah. Dan karena itulah, dalam The Story of Civilization, Will Durant, menulis tentang jasa Nabi Muhammad SAW dalam meningkatkan dan memperbaiki hak-hak kaum perempuan. Semoga kaum perempuan sekarang ini, sudah dapat menikmati kemerdekaannya dan tidak lagi mengalami penindasan dan diskriminasi. Wallahu a’lam bisshawab. (EmHR/SS)

Berikan Tanggapan Anda

komentar untuk artikel ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.