Keberagamaan yang Patologis

sholatIslaminesia.com—Di awal tahun baru ini, masyarakat Indonesia dan dunia dikejutkan lagi dengan aksi biadab dan terorisme yang terjadi di Jalan Thamrin Jakarta. Betapa tidak, peristiwa tersebut menambah daftar panjang pencitraan buruk terhadap sebuah ajaran agama, karena perilaku penganutnya. Kejadian dan perilaku tersebut serta semacamnya, boleh jadi membenarkan ungkapan Psikolog yang menganggap tidak ada bukti yang kuat bahwa orang-orang beragama lebih sehat mentalnya daripada orang-orang yang tidak beragama. Meskipun, menurut Gordon W. Allport, untuk bisa menyatakan demikian, kita harus mendefinisikan lebih dahulu apa arti beragama.

Ada dua macam cara beragama. Pertama, yang ekstrinsik, memandang agama sebagai sesuatu untuk dimanfaatkan dan bukan untuk kehidupan, something to use but not to live. Agama digunakan untuk menunjang motif-motif lain. Orang yang beragama dengan cara ini, melaksanakan bentuk-bentuk lahiriah dari agama, tetapi tidak pada yang batiniah atau yang substansial. Kata Allport, cara beragama seperti ini memang erat kaitannya dengan penyakit mental. Keberagamaan semacam ini tidak akan melahirkan masyarakat yang penuh kasih sayang. Namun sebaliknya, akan memunculkan kebencian, kedengkian, serta fitnah yang terus-menerus akan terjadi. Kedua, yang intrinsik, dianggap menunjang kesehatan jiwa dan kedamaian masyarakat, agama dipandang sebagai comprehensive commitment yang mengatur seluruh hidup seseorang. Cara beragama seperti ini, terhunjam ke dalam diri penganutnya. Dengan begitu mereka mampu menciptakan lingkungan yang damai dan penuh kasih sayang.

Dr. Jalaluddin Rakhmat dalam sebuah tulisannya bercerita tentang dua sosok Feuerbach, yang sekaligus pula menggambarkan dua perspektif tentang agama. Anselm von Feuerbach, seorang ahli hukum terkenal, memiliki pandangan tentang agama dengan mengatakan, “Agama, dalam bentuk apa pun dia muncul, tetap merupakan kebutuhan ideal umat manusia.” Baginya, peranan agama menentukan setiap bidang kehidupan. Manusia tanpa agama, tidak dapat hidup sempurna. Berikutnya adalah Ludwig von Feuerbach, anak dari Feuerbach tua. Ia tersohor sebagai filosof materialis yang mempersetankan agama. “Der Mensch ist, war er iszt” adalah ucapannya yang sering dikutip. “Manusia adalah apa yang ia makan.” Jadi, makanan menentukan kehidupan manusia, termasuk kehidupan beragamanya.

Apa yang kita saksikan dan rasakan mengenai kehidupan beragama kita belakangan ini? Keberagamaan kita sudah semakin memprihatinkan. Amatilah fenomena tumbuh suburnya kelompok-kelompok radikal, intoleran, yang sudah begitu terbuka dan berani dalam melakukan aksi-aksi terror, serta kekerasan dengan mengatasnamakan agama. Mereka tidak siap melihat kenyataan masyarakat yang beragam dan pluralistik. Mereka mengklaim sebagai pemilik kebenaran satu-satunya. Mereka ingin memaksakan pandangan keberagamaannya kepada semua orang. Yang tidak mau dan tidak sama dengan pandangan mereka, maka harus berhadapan dengan tuduhan sebagai ahli bid’ah, sesat dan kafir. Dan jika sudah sampai pada tahapan tersebut, mereka merasa berhak melakukan apa saja yang diinginkan, karena melaksanakan amar makruf dan nahi mungkar. Mereka merasa manusia paling mulia dan paling suci. Sebuah patologi agama dan keberagamaan yang sakit.

Suatu hari, para sahabat membincangkan seseorang yang mereka kenal sangat saleh dan rajin beribadat. Mereka sebut namanya dan sifat-sifatnya di hadapan Nabi SAW. Beliau diam. Belum selesai mereka membicarakannya, orang itu muncul. Sahabat berteriak. “Itulah orangnya!” Nabi SAW bersabda, “Kalian telah membicarakan seseorang yang tampak di wajahnya sentuhan setan.” Tidak berapa lama kemudian, orang itu mendekat, berdiri di antara para sahabat, dan tidak mengucapkan salam. Rasulullah SAW bertanya kepadanya, “Demi Allah, apakah Anda berkata dalam hati ketika berdiri di depan majelis ini, ‘Tidak ada seorang pun di sini yang lebih utama dan lebih baik dari diriku’.” Ia menjawab, “Memang benar begitu.” Segera ia meninggalkan majelis dan pergi ke masjid untuk shalat.

Tiba-tiba Nabi SAW berkata, “Siapa yang mau membunuhnya?” Sayyidina Abu Bakar berdiri dan pergi menyusul orang itu. Tidak lama kemudian ia kembali. Ia berkata, “Aku enggan membunuhnya ketika ia sedang shalat. Bukankah Anda melarang kami membunuh orang yang sedang shalat?” Nabi SAW mengulang lagi perintahnya. Kali ini Sayyidina Umar pergi ke masjid. Ia juga kembali beberapa saat kemudian, “Kudapati ia sedang meletakkan dahinya bersujud dengan khusyuk. Aku segan membunuhnya.” Sekali lagi, Nabi SAW mengulang perintahnya. Sekarang Sayyidina Ali yang pergi. Tetapi ia pun kembali. “Ya Rasulullah, aku tidak berhasil menemuinya.” Mendengar itu, Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya, orang itu dan kelompoknya membaca Al-Quran, tetapi bacaan mereka hanya sampai pada tenggorokannya saja. Mereka terlepas dari agama, seperti terlepasnya anak panah dari busurnya. Sekiranya orang itu dibunuh, tidak seorang pun di antara umatku akan pecah.” (Musnad Ahmad)

Jika keberagamaan orang semacam itu yang menyebar, maka akan tampaklah ritualisme agama yang kering dan tidak bermakna. Rasulullah SAW bersabda, “Akan datang kepada manusia, satu zaman, ketika tuhan-tuhan mereka adalah perut, kiblat mereka adalah seks, agama mereka uang, kemuliaan mereka pada kekayaan. Tidak tersisa dari iman, kecuali namanya; tak tersisa dari Islam kecuali upacaranya; tak tersisa dari Al-Quran kecuali pelajarannya. Masjid-masjid mereka ramai, tetapi hati mereka kosong dari petunjuk. Mereka tidak mengenal ulama, kecuali dari pakaian keulamaannya yang bagus. Mereka tidak mengenal Al-Quran, kecuali dari suara bacaannya yang bagus. Mereka duduk rapat di masjid, tetapi zikirnya dunia dan kecintaannya dunia.” (Jami’ al-Akhbar)

Kejumudan berpikir yang dialami berbagai kelompok keagamaan merupakan konsekuensi logis dari keterlambatan kelompok keagamaan yang ada untuk segera merekonstruksi dan mereaktualisasi visi doktrinal keagamaannya. Maka dari itu, agar krisis patologi keagamaan tersebut bisa dihilangkan, maka dialog antar mazhab, antar kelompok dan antar aliran pemikiran harus terus dilanjutkan dengan usaha-usaha revisi dan reformulasi doktrinal keagamaan serta merumuskan metode dakwah yang ditawarkan agar sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan aktual keummatan.

Pengelompokan dan pembedaan umat Islam ke dalam berbagai aliran dan mazhab pemikiran, sesungguhnya merupakan sesuatu yang wajar dan alami. Namun ia akan merosot menjadi sejenis kemusyrikan, jika ia melahirkan chauvinisme golongan dan sektarianisme, dengan indikasi merasa benar sendiri. Dalam hal ini Al-Quran secara tegas mengingatkan, “… Dan janganlah kamu tergolong orang-orang musyrik. Yaitu mereka yang memecah-belah agama mereka, kemudian mereka menjadi bergolong-golongan, setiap kelompok membanggakan apa yang ada pada mereka.” (QS. Ar-Rum (30): 31-32)

Semoga kita bisa keluar dari kondisi patologis ini, sehingga apa yang dianggap oleh Sigmund Freud bahwa agama sebagai universal obsessional neurosis atau teori dari Anton T. Boisen yang mengatakan, “Sebelum orang menghayati agama lebih baik, ia harus menderita sakit jiwa terlebih dahulu, orang beragama harus melewati tahap skizoprenia lebih dahulu”, seluruhnya tidak dapat dibuktikan.” (Redaksi)

 

Berikan Tanggapan Anda

komentar untuk artikel ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.