Tauhid Dzat Tuhan dalam Rumusan Akal Rasional dan Filosofis  

 

Sumber: parokicorneliusmadiun.org

Sumber: parokicorneliusmadiun.org

Islaminesia.com—Dalam ajaran samawi, konsep tentang tauhid keberadaan Eksistensi Tuhan Pencipta menjadi sesuatu yang sangat prinsipal dan mendasar di samping keyakinan terhadap ma’ad (eskatologi) dan nubuwwah (kenabian). Dalam tulisan ini akan disajikan paparan argumen tauhid dzat untuk membuktikan bahwa Eksistensi Tuhan Pencipta secara dzati adalah satu, esa, dan tunggal (Tauhid Dzat Tuhan).

Sebelum kita menjabarkan argumen penetapan dan pengafirmasian tauhid dzat, ada baiknya kita menjelaskan beberapa hal terlebih dahulu.

Tauhid dzat dalam istilah yang berkembang bermakna dzat Tuhan adalah satu, tidak satu pun sekutu  dan serupa dengan-Nya. Akan tetapi, tauhid kadang digunakan dalam makna yang lebih luas di samping makna yang disebutkan di atas, yang juga meliputi kesederhanaan dan simplisitas dzat Tuhan  serta penegasian rangkapan dari dzat Tuhan. Dalam pandangan umum ini, Tauhid dzat meliputi dua permasalahan:  

Pertama : Dzat Tuhan dari segala dimensi adalah sederhana, dan tidak ada sama sekali jalan rangkapan pada-Nya. Tauhid dzat dalam dimensi ini pada dasarnya adalah sama dengan menegasikan segala bentuk multiplisitas pada internal dzat Tuhan.

Kedua: Dzat Tuhan tidak mempunyai setara, sekutu, dan serupa. Tauhid dzat dalam dimensi ini bermakna menegasikan kejamakan pada eksternal dzat; yakni disamping dzat Tuhan, tidak ada dzat lain yang juga adalah Tuhan.

Berdasarkan paparan di atas dapat diketahui bahwa dimensi tauhid dzat yang pertama adalah penafian rangkapan, sedangkan dimensi kedua adalah penafian kejamakan dari dzat Tuhan. Sebagian dari ahli teologi dengan bersandarkan pada ayat dan riwayat, mereka menamakan dimensi pertama adalah tauhid “ahadi” dan dimensi kedua adalah tauhid “waahidi”. Akan tetapi makna yang paling tepat dari tauhid dzat adalah dzat Tuhan tidak hanya tidak berangkap dan jamak, tetapi secara asas dan prinsip mustahil adanya rangkapan dan kejamakan pada dzat Tuhan.

Sebelum meninjau dimensi-dimensi tauhid dzat dan menjelaskan argumen para ahli teologi, pada tempatnya kita memberi penekanan pada poin ini bahwa tauhid dzat sebagaimana yang dipaparkan di dalam Al-Quran dan riwayat-riwayat, memiliki kandungan yang sangat dalam, dan memiliki kisi-kisi serta batin yang bertingkat-tingkat. Sudah jelas untuk memahami kisi-kisi prinsip akidah ini secara lebih dalam, tidak mungkin tanpa mempunyai mukadimah-mukadimah yang dibutuhkan secara niscaya; oleh karena itu senantiasa harus kita ingat bahwa perenungan dan pemikiran yang dalam pada ayat-ayat Al-Quran dan riwayat-riwayat yang mempunyai kandungan tauhid, dapat mengarahkan kita pada kisi-kisi yang lebih dalam dari prinsip akidah ini.

Ketakberangkapan Dzat Tuhan           

Kami sudah utarakan bahwa dalam satu pandangan tauhid dzat terdapat kemestian keyakinan terhadap ketakberangkapan Dzat Tuhan dan penafian rangkapan dari-Nya. Akan tetapi, sebagian dari ahli teologi melebihkan pembahasan ini tidak dalam kandungan pembahasan tauhid dzat, tetapi mengutarakannya dalam bagian sifat-sifat “salbi” (negasi) Tuhan; sebab penegasian rangkapan dapat dipandang sebagai salah satu dari sifat salbi Tuhan.

Apapun  penafsirannya, untuk memahami dimensi-dimensi tauhid ini, sebaiknya pertama-tama kita meninjau pembagian rangkapan terlebih dahulu. Berdasarkan satu penggolongan, rangkapan memiliki tiga jenis:

  1. Rangkapan Akal: Rangkapan ini berada pada suatu kondisi di mana sesuatu memiliki bagian-bagian sesuai dengan analisa akal dan dalam wadah akal (tidak di luar akal). Komposisi sesuatu dari wujud dan adam (ada dan tidak ada),  komposisi maujud-maujud “imkani” (wujud kontingen) dari kuiditas dan eksistensi serta komposisi mahiyah yang tidak sederhana dari genus dan difrensia, merupakan bentuk-bentuk dari rangkapan akal.

  2. Rangkapan Luar: Yang dimaksud dari rangkapan luar ini adalah sesuatu  yang rangkapannya terbangun dari bagian-bagian luar. Komposisi jisim dari materi dan forma serta komposisi benda-benda materi dari unsur-unsur pertama terhitung sebagai rangkapan luar.

  3. Rangkapan Kuantitas: Rangkapan ini terjadi pada sesuatu yang mempunyai ukuran kuantitas (panjang, lebar, dan volume), dan dikarenakan mempunyai kuantitas, maka ia dapat menerima pembagian. Akan tetapi, bagian-bagian ini tidak  dalam bentuk aktual, tetapi  dalam bentuk potensi, dan sesudah sesuatu tersebut terurai baru ia akan mendapatkan bentuk aktual. Perlu diketahui bahwa sebagian dari ahli teologi memandang rangkapan kuantitas termasuk salah satu dari bagian rangkapan luar; sebab wadah wujud dari bagian-bagian kuantitas adanya di luar  akal.  Oleh karena itu, dikarenakan dalil perbedaan rangkapan kuantitas dengan pembagian rangkapan luar lainnya dari sisi aktual dan ketiadaan aktual bagian-bagian, maka kedua jenis rangkapan ini  masing-masing menempati posisi secara berdampingan.

Argumen Pembuktian       

Setelah dijelaskan bagian-bagian rangkapan yang bermacam-macam, saatnya dijelaskan argumen para ahli teologi dalam menafikan dimensi-dimensi rangkapan dari Dzat Tuhan. Tetapi sebelumnya, alangkah baiknya kami isyaratkan satu poin berkenan  bentuk argumen tauhid.

Sebagaimana kita ketahui bahwa pembahasan makrifat Tuhan dan tauhid, di samping dalam ilmu kalam, dalam ilmu-ilmu seperti filsafat dan irfan juga menjadi topik pembahasan dan pengkajian; sebab itu disamping ahli teologi, para filosof dan urafa Islam juga mengutarakan pandangan-pandangan mereka dalam masalah ini. Dan pada bagian-bagian yang membutuhkan argumentasi, masing-masing dari aliran pemikiran ini mengutarakan konstruksi argumen berasaskan prinsip-prinsip dan metode-metode spesifik mereka. Natijah dari usaha yang luas tersebut, di zaman ini kita menjumpai suatu pembahasan tauhid dengan bentuk argumen yang melimpah. Akan tetapi, dalam tulisan ini kita hanya bisa menyajikan sebagian dari argumen-argumen tersebut .

Argumen Ketiadaan Komposisi pada Dzat Tuhan

Untuk menetapkan kesederhanaan mutlak Dzat Tuhan, harus dibuktikan  bahwa tidak ada jalan sedikit pun dari bagian-bagian rangkapan pada Dzat Tuhan. Dengan memperhatikan kejamakan dan keragaman bagian-bagian rangkapan, secara lahir tidak ada satu dalil di tangan yang  dapat menetapkan kemustahilan semua bagian-bagian rangkapan tersebut pada Tuhan dengan hanya memakai pendekatan satu sisi saja; oleh karena itu tidak ada jalan lain kecuali kita membangun konstruksi dalil-dalil yang beragam untuk tujuan di atas. (SYS/FH)

(Bersambung)

Berikan Tanggapan Anda

komentar untuk artikel ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.