Tafsir Surah Al-Ikhlas

Sumber: umi-rizwa.blogspot.com

Sumber: umi-rizwa.blogspot.com

Islaminesia.com—Tak dapat dipungkiri bahwa manusia senantiasa berjalan menuju kesempurnaan. Dalam proses perjalanan tersebut, ada tiga poin penting yang harus dipahami dengan baik, yaitu tauhid, kenabian dan maad. Ketiga poin inilah yang menjadi pondasi perjalanan manusia menuju kesempurnaannya. Jika kita mengamati seluruh ajaran samawi, maka kita akan menemukan bahwa seluruh ajaran sama-sama berpegangan kepada tiga poin tersebut. Dan ketiga poin ini jugalah yang membedakan antara ajaran samawi dengan ajaran ardi

Al-Quran sebagai kitab samawi, penyempurna seluruh kitab-kitab sebelumnya menaruh perhatian penuh pada pembahasan tauhid, kenabian dan maad. Sebagaimana yang kita saksikan dalam Al-Quran, hampir seluruh ayat Al-Quran membicarakan ketiga prinsip tersebut walaupun sekedar mengisyaratkan.

Salah satu surah yang secara terang-terangan menjelaskan makna tauhid adalah Surah Al-Ikhlas, atau yang sering kita dengar dengan sebutan surah At-Tauhid. Seluruh ayat dalam Surah Al-Ikhlas ini murni menjelaskan makna tauhid. Mulai dari ayat pertama sampai ayat terakhir.

Ketika kita memahami makna dari surah ini, maka kita tak butuh lagi sesuatu yang lain untuk menjelaskan siapakah Tuhan seluruh mahluk, karena surah ini secara terang-terangan menjelaskan bahwasanya  Allah SWT adalah tuhan yang Maha Esa, yang mana segala sesuatu butuh kepada-Nya atau dalam istilah filsafatnya adalah wajibul wujud. Ketika seseorang membaca ayat ini, kemudian dalam kehidupan sehari-harinya masih saja menyekutukan Allah SWT, baik dari segi dzat, ibadah, perbuatan ataupun sifat, maka orang tersebut tergolong sebagai salah satu orang yang telah dikunci mata, hati dan pendengarannya oleh Allah SWT.

Sebagian ulama tafsir mengolongkan surah ini sebagai surah makkiah dan sebagiannya lagi mengatakan madaniah. Namun, sebagian besar ulama sepakat bahwa surah ini adalah surah makkiah dengan meninjau sebab turunnya surah ini.

Pada dasarnya Surah Al-Ikhlas ini adalah surah tauhid yang diturunkan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar ketauhidan. Sebagaimana yang disebutkan dalam beberapa kitab tafsir. Salah satunya adalah Tafsir Jalalain halaman 761, bahwa seseorang bertanya kepada Rasulullah SAW tentang tuhan, maka diturunkanlah ayat ini untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Kalau kita mencoba untuk menganalisa terkait gaya bahasa yang digunakan surah ini, maka kita akan menemukan bahwa gaya bahasa yang digunakan adalah gaya bahasa penjelasan. Yakni, pola yang digunakan oleh Allah SWT dalam surah ini murni menjelaskan diri-Nya.

 

قل هو الله احد {١} الله الصمد {٢} لم يلد ولم يولد {٣} ولم يكن له كفوا احد{٤

“Katakanlah bahwa dia itu Allah SWT yang Maha Esa. Allah SWT tempat meminta. Tidak beranak dan tidak pula diberanakkan. Dan tidak ada sesuatu yang setara dengannya.” (QS. Al-Ikhlas: 1-4)

 

قل هو الله احد {١

“Katakanlah bahwa dia itu Allah SWT yang Maha Esa.” (QS. Al-Ikhlas: 1)

Ayat pertama dalam surah ini menjelaskan bahwa Allah SWT itu Esa. Sebagaimana yang kita jelaskan pada pendahuluan bahwa turunnya ayat ini untuk menjawab pertanyaan seputar Tuhan yang diajukan orang yahudi kepada Rasullah SAW. Maka dari itu, Allah SWT menyuruh Rasulullah SAW untuk mengatakan bahwa Tuhan yang kamu pertanyakan itu adalah Allah SWT yang Maha Esa.

Dalam ayat pertama ini Allah SWT menjelaskan bahwa dirinya itu adalah Allah yang Maha Esa. Pengunaan kata اللهdalam ayat ini bertujuan untuk mengkhususkan bahwa hanya Dialah Tuhan semesta alam yang memiliki segala bentuk kesempurnaan. Sebagaimana yang telah kita jelaskan pada tafsir Surah Al-Fatihah, bahwa kata اللهadalah lafaz jalala yang bersifat khusus tapi mencakupi seluruh sifat kesempurnaan Allah SWT. Adapun kata احد  (esa) menunjukkan bahwa Tuhan itu tidak memiliki bagian atau tersusun. Oleh sebab itu kata احد juga menafikkan bahwa Tuhan itu ber-jisim seperti memiliki tangan, kepala, kaki dan sejenisnya.

Sebagaimana yang terdapat dalam Surah Al-An’am ayat 102-103:

 

ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ فَاعْبُدُوهُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيلٌ{١٠٢

ا تُدْرِكُهُ الْأَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْأَبْصَارَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ{١٠٣

“Itulah Allah, Tuhan kalian; tidak ada Tuhan kecuali Dia; Dialah yang menciptakan segala sesuatu, maka sembahlah Dia; Dan Dia pemelihara segala sesuatu. Dia tidak dapat diketahui oleh penglihatan, sedang Dia mengetahui sesuatu yang dilihat dan Dia Maha Halus dan Maha Mengetahui.”

Kedua ayat ini secara terang-terangan menafikkan segala sesuatu yang dianggap Tuhan kecuali Allah SWT. Dan ayat ini juga menjelaskan bahwa Allah SWT tidak dapat dijangkau oleh penglihatan tetapi Dia mengetahui segala sesuatu yang dilihat.

Jika kita menganalisa lebih jauh tentang kalimat “Dia tidak dapat diketahui oleh penglihatan, sedang Dia mengetahui sesuatu yang dilihat” maka kita akan menemukan perbedaan mendasar antara pengetahuan Allah SWT dengan pengetahuan manusia. Manusia sebagai makhluk yang ber-jisim membutuhkan perantaran mata untuk mengetahui sesuatu yang dilihat. Sedang Allah SWT, karena Dia tidak ber-jisim, maka Dia tidak butuh pada perantaraan mata untuk mengetahui sesuatu yang dilihat. (MH/FH)

(Bersambung)

Berikan Tanggapan Anda

komentar untuk artikel ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.