Tafsir Surah Al-Ikhlas (Bag. 2 Selesai)

Sumber: deenislam.co.uk

Sumber: deenislam.co.uk

Islaminesia.com–Sebelum membahas tafsiran ayat kedua dari Surah Al-Ikhlas, terlebih dahulu kita akan menjelaskan perbedaan makna antara kata احد (esa) dan kata واحد (satu) yang disandarkan pada tauhid.

Pada dasarnya kata  احد (esa) yang kita sandarkan pada Allah SWT bermakna bahwa Allah SWT tidak tersusun dan tidak memiliki bagian-bagian. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa segala sesuatu yang tersusun butuh kepada bagian-bagiannya untuk menyusun dirinya agar dia bisa ada. Seperti air yang butuh pada hidrogen dan oksigen untuk mengadakan dirinya. Atau manusia yang membutuhkan jasad dan ruh agar bisa hidup. Begitu juga dengan kesempurnaan, kita sebagai manusia butuh kepada bagian-bagian seperti tangan, kepala, kaki dan sejenisnya untuk menyempurnakan jasad kita. Kalau salah satu diantara bagian-bagian badan yang hilang atau tidak ada, maka secara naluri manusia akan menghukumi bahwa dirinya tidak sempurna. Oleh sebab itulah, kata احد yang kita sandarkan pada Allah SWT bermakna bahwa dia tidak butuh pada bagian-bagian untuk mengadakan dirinya atau menyempurnakan dirinya. Adapun kata  واحد (satu) bermakna bahwa tuhan itu hanya ada satu, yaitu Allah SWT. Tidak ada lagi tuhan selain dia.

Pengakuan kita terhadap keesaan, kesatuan, ketunggalan sifat dan asma tuhan melebur dalam lafaz jalala, yaitu Allah SWT. Maka dari itu, jika seseorang mendengar kata Allah, maka pikirannya tertuju pada satu misdak yang Maha Sempurna.       

Tafsiran Ayat Kedua

الله الصمد

“Allah SWT tempat meminta.”

Pada dasarnya, ayat kedua ini mengindikasikan bahwa segala yang ada bergantung pada dzat Allah SWT. Sebagai ciptaan Allah yang memiliki kekuatan akal dan fitrah, hal ini melazimkan kita membutuhkan banyak hal yang berkaitan dengan kehidupan. Kebutuhan kita akan sesuatu bersandar pada ketidaksempurnaan, hal ini berarti kita butuh sesuatu karena kita tidak sempurna atau tidak memiliki sesuatu tersebut. Oleh sebab itu, kita butuh pada dzat yang tak membutuhkan sesuatu untuk dijadikan tempat memohon.

Penyifatan Allah SWT dengan lafaz الصمد  bermaknah bahwa Allah SWT yang Maha Esa adalah tempat bergantung atau memohon segala kebutuhan-kebutuhan manusia. Sebagaimana yang disebutkan dalam Tafsir Jalalain hal. 761, bahwa الله الصمد bermakna: segala sesuatu butuh kepada-Nya.

Jika kita analisa kata yang digunakan Allah SWT untuk menyifati diri-Nya pada ayat pertama dan kedua, maka kita menemukan perbedaan antara kedua penyifatan tersebut. Pada ayat pertama Allah SWT menyifati diri-Nya dengan sifat dzat, sedang pada ayat kedua Allah SWT menyifati dirinya dengan sifat fi’liah.

Sebagaimana yang disebutkan Allamah Thabathaba’i dalam kitab tafsirnya bahwa pada ayat pertama Allah SWT menyifati diri-Nya dengan sifat dzat, sedang pada ayat kedua Allah SWT menyifati diri-Nya dengan sifat fi’liah (Tafzir Mizan, Juz. 20, hal. 644).

لم يلد ولم يولد .  ولم يكن له كفوا احد 

(Allah) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan-Nya.”

Setelah Allah SWT menyifati diri-Nya dengan احد dan صمد . Dia kemudian menjelaskan bahwa diri-Nya tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Pada dasarnya kalimat tidak beranak menunjukkan bahwa Allah SWT menafikkan segala sesuatu yang mengklaim diri-Nya sebagai anak tuhan, cucu tuhan dan sejenisnya. Kalimat ini mengarah pada makna bahwa Allah SWT adalah tuhan yang esa dan tempat bergantung seluruh mahluk. Dia tidak memiliki keluarga atau keturunan sebagaimana manusia atau hewan.

Adapun kalimat tidak diperanakkan bermaknah bahwa Allah SWT tidak butuh pada sesuatu yang lain di luar dari diri-Nya untuk mengadakan diri-Nya. Selain itu, ayat ini juga menunjukan bahwa Allah SWT tidak didahului oleh ketiadaan. Oleh sebab itu, dalam kajian teologi disebutkan bahwa Allah SWT adalah wajibul wujud, sedangkan yang lain adalah mungkinul wujud. Dan Allah SWT itu qadim dan mahluk itu hudus.

Jika kita menganalisa lebih jauh terkait kedua ayat ini, maka kita akan menemukan bahwa akal yang selama ini dikatakan tak terbatas ternyata memiliki keterbatasan ketika digunakan untuk memahami dzat Allah SWT. Semakin kita mencoba untuk mengkaji dan memahami dzat Allah SWT, maka kita semakin resah bahwa kita tidak mampu memahami Allah SWT. Ketidakmampuan kita memahami dzat Allah SWT karena kapasitas akal yang kita memiliki tidak sampai pada tingkatan memahami dzat Allah SWT. Sampai kapan pun dan sekuat apa pun kita mengerahkan atau memaksimalkan akal yang kita miliki, tetap saja kita tak mampu memahami dzat Allah SWT, karena memang Allah SWT telah mendesain kapasitas akal sebelum dititipkan kepada manusia.

Adapun kalimat tidak ada sesuatu yang setara dengannya mengindikasikan bahwa hanya Allah SWT yang Maha Sempurna. Tak ada sesuatu yang menyaingi kesempurnaa-Nya. Maka dari itulah, hanya kepada-Nya-lah kita harus menyembah dan memohon pertolongan sebagaimana yang kita jelaskan dalam tafsir Al-Fatihah. Wallahu a‘lam bisshawab. (MH/FH)

 

Berikan Tanggapan Anda

komentar untuk artikel ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.