Perempuan: Simpul Peradaban

Sumber: arrhaziemedia.wordpress.com

Sumber: arrhaziemedia.wordpress.com

Islaminesia.com—Wajah zaman saat ini sangat mengerikan dan menakutkan. Orang-orang nampak bagaikan pemama biak yang tak pernah puas mencari mangsa. Kekuatan akal dan hawa nafsu menjadi faktor utama yang menggerakkan orang-orang menuju peradaban bebas, dan menuntut untuk memainkan peran dalam menata masyarakat.

Hari ini, kebebasan berekspresi dianggap sebagai sesuatu yang niscaya. Orang-orang memainkan perannya tanpa memperhatikan lagi nilai-nilai moralitas, sehingga lahirlah manusia-manusia hyper (melampaui batas) yang kehilangan orientasi hidup.

Gerakan Barat yang menyuarakan emansipasi dan kesetaraan gender telah berhasil mengubah paradigma masyarakat tentang perempuan. Perempuan tak lagi dinilai sebagai bahan konsumsi laki-laki, simbol reproduksi belaka, sebagai alat perabot rumah tangga, tapi perempuan memiliki kesempatan dan tanggung jawab untuk membangun kehidupan sosial. Mereka telah mendapatkan tempat yang sejajar dengan pria.

Seiring berjalannya waktu, perempuan dinilai sebagai sosok yang memiliki kemampuan yang seimbang dengan pria, sehingga tanggung jawab sosial yang dulunya hanya dibebankan kepada pria, kini dibebankan juga kepada perempuan. Mereka dibebaskan berekspresi, diberikan ruang untuk menyatakan dirinya sebagai agen perubahan, mendapatkan tempat di seluruh lini pembangunan, mulai dari tingkat bawah (buruh kasar) sampai pada level tertinggi (presiden).

Tapi sangat disayangkan, keterlibatan dalam membangun peradaban dan kebebasan berekspresi itu disalah artikan oleh sebagian perempuan, sehingga mereka kehilangan nilai-nilai keperempuanannya. Keterlibatannya dalam aspek politik, pendidikan, perusahaan dan bahkan selebritis menggeser tanggung jawab utamanya sebagai seorang wanita, khususnya sebagai ibu rumah tangga.

Seorang ibu, yang seharusnya lebih banyak menghabiskan waktunya untuk mendidik dan menciptakan kader-kader terbaik yang bisa menjadi agen perubahan, kini sibuk mengurusi dunia publik, waktunya lebih banyak digunakan untuk urusan pekerjaan daripada bercengkrama dengan keluarga, khususnya sang buah hati.

Selain itu, kebebasan juga menjadi salah satu wadah yang memfasilitasi perempuan untuk mengumbar naluri hewaninya dan mengabaikan hati nurani. Sebagaimana gaya hidup yang kita saksikan sekarang ini, perempuan menjadi alat untuk menghasilkan banyak uang. Mereka secara tidak sadar digiring  keluar dari eksistensinya sebagai simbol kesucian, kelembutan dan kasih sayang Tuhan.

Pada dasarnya Islam juga telah memberikan kebebasan kepada perempuan untuk memainkan peran dalam membangun masyarakat. Akan tetapi, kebebasan tersebut harus bersandar pada kasih sayang dan kelembutan agar tercipta masyarakat yang cinta damai. Para perempuan yang terjun di tengah masyarakat dituntut untuk lebih menggunakan potensi belas kasih, perasaan dan kelembutan agar dapat memajukan masyarakatnya. (MH/FH)

Berikan Tanggapan Anda

komentar untuk artikel ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.