Penjagaan Diri

covering_eyesIslaminesia.com—Barangsiapa yang menjaga hatinya dari kelalaian, menjaga dirinya dari perangkap syahwat serta menjaga akalnya dari kejahilan, maka sungguh dia telah masuk dalam kelompok orang-orang yang sadar. Barangsiapa yang menjaga ilmunya dari hawa nafsu, agamanya dari bid’ah dan hartanya dari yang haram, maka dia sudah tergolong dari kelompok orang-orang yang saleh.

Rasulullah SAW bersabda, “Mencari ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim, baik laki-laki ataupun perempuan.” Yang dimaksud di sini adalah ilmu tentang diri.  Ali bin Abi thalib Kw berkata, “Makrifat yang paling utama adalah pengenalan seseorang terhadap dirinya.” Maka itu, seharusnya diri seorang mukmin dalam setiap hal harus selalu bersyukur atau memohon maaf atas kelalaian dan kelemahan dirinya. Dalam arti, jika Allah sudi menerimanya, maka hal itu merupakan keutamaan baginya, tetapi jika Dia menolaknya, maka itu adalah keadilan baginya. Diri seorang mukmin harus bisa memahami bahwa segala gerak dan langkahnya dalam melaksanakan ketaatan disebabkan karena taufikNya, dan mengetahui bahwa sikap diam dan tidak melakukan kemaksiatan disebabkan karena penjagaanNya.

Semuanya itu bisa terwujud dengan menampakkan kefakiran pada Allah SWT, kebergantungan mutlak kepadaNya, kekhusyukan dan kerendahan diri padaNya. Kuncinya adalah penyerahan diri pada Allah bersama angan yang telah pupus dengan mendawamkan diri mengingat kematian dan menyadari bahwa kita sedang berdiri di hadapan Yang Maha perkasa. Hal tersebut akan membebaskanmu dari penjara hawa nafsu, menyelamatkanmu dari ancaman musuh dan mendamaikan jiwamu. TaufikNya adalah sebab keikhlasan dalam ketaatan.

Pangkal dari semua itu adalah kesadaran bahwa hidup hanyalah sementara. Rasulullah SAW bersabda, “Kehidupan dunia hanyalah sesaat, maka gunakanlah masa itu untuk ketaatan kepada Tuhanmu.”

Pintu dari semua itu adalah pelaziman diri untuk menyendiri dengan senantiasa bertafakkur. Merasa cukup dengan apa yang diberikan oleh Allah dan meninggalkan kehidupan bermewah-mewahan adalah sebab untuk berkhalwat. Ketenangan adalah sebab untuk bertafakkur.

Coba ambillah pelajaran dari apa yang telah berlalu dari dunia, apakah masih tersisa atas seseorang? Atau adakah orang yang hidup kekal di dunia, baik orang yang mulia atau yang hina, yang kaya atau yang miskin, seorang wali atau musuh? Begitu juga apa yang tidak pernah datang pada masa silam, lebih mirip dari air dengan air. Rasulullah SAW bersabda, “Tidak tersisa dari dunia selain bala dan fitnah, tidak selamat yang selamat kecuali karena berlindung dengan benar.”

Nabi Nuh as juga bersabda, “Aku menemukan dunia ini seperti sebuah rumah yang mempunyai dua buah pintu, aku masuk dari salah satunya dan keluar dari pintu yang lain.” Begitulah keadaan orang yang diselamatkan Allah, lalu bagaimana keadaan orang yang merasa tenteram di dalamnya, cenderung kepadanya dan menyia-nyiakan usianya karena memakmurkannya dan merobek-robek agamanya dalam mencari dunia?

Berpikir itu adalah cermin kebaikan, penghapus segala kesalahan, pelita hati, pendorong untuk memberi maaf pada orang lain, pemberi motivasi untuk memperbaiki masa depan akhirat, pembuka jalan guna mengetahui akibat-akibat dan penambah ilmu pengetahuan. Ibadah pada Allah menjadi tiada taranya jika disertai dengan berpikir. Rasulullah SW bersabda, “Berpikir sesaat lebih baik dari beribadah setahun.” Tingkatan tafakkur tidak bisa diraih, kecuali orang yang diistimewakan oleh Allah dengan cahaya makrifat dan tauhid. Allah Azza wa Jalla berfirman, “Hanya orang yang berilmu sajalah di antara hamba-hambanya, yang benar-benar takut kepada Allah.” (QS. Fathir: 28). (EmHR/SS)

Berikan Tanggapan Anda

komentar untuk artikel ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.