Mengenal Filsafat dan Hikmah Islam

Sumber; philosophy.uchicago.edu

Sumber; philosophy.uchicago.edu

Islaminesia.com–Filsafat atau Hikmah Ilahiyyah adalah suatu ilmu yang membahas dan meneliti tentang keadaan dan hukum-hukum maujud mutlak (yakni maujud dari sisi ia maujud); dan subjek yang dibahas dalam disiplin ilmu ini adalah maujud mutlak. Sedangkan tujuan daripada ilmu ini adalah menyajikan pengetahuan universal tentang maujud-maujud dan membedakan mereka yang hakiki dari non hakiki (iktibari).

Sebelum mempelajari suatu disiplin ilmu khusus, terdapat beberapa hal yang mesti jelas sebelumnya bagi para pencari ilmu. Salah satu dari perkara itu adalah definisi ilmu tersebut. Pendefinisian sebuah ilmu akan membawa pencari ilmu mendapatkan sebuah gambaran jelas tentang topik dan masalah yang akan dikaji dan dipaparkan dalam ilmu tersebut serta mengetahui tujuan dari  mempelajari kandungan dan matlab yang ada pada ilmu itu. Dan sebagai natijah-nya pencari ilmu akan keluar dari keadaan ketidaktahuan rangkap dinisbahkan terhadap matlab disiplin ilmu yang dikaji dan mendapatkan tinjauan serta gambaran jelas tentangnya.

Dalam tahap kedua, subjek ilmu tersebut mesti ditentukan dan dijelaskan secara sempurna sehingga segala bentuk ambiguitas dinisbahkan terhadapnya dapat terpecahkan. Pentingnya mengetahui subjek dari sebuah disiplin ilmu dikarenakan subjek sebuah ilmu itu menjadi fokus dari masalah-masalah yang ada dalam ilmu itu dan dari sisi itu ia mempunyai peran penting dalam pendefinisian ilmu tersebut, sampai demikian pengaruhnya sehingga dalam banyak hal sebuah disiplin ilmu khusus teridentifikasi dengan perantara subjek ilmu bersangkutan. Sebagai contoh dalam definisi ilmu matematika disebutkan: Matematika adalah suatu ilmu yang membicarakan tentang bilangan, dan dalam definisi ilmu sharaf dikatakan: Sharaf adalah suatu ilmu yang membahas tentang bangunan kata. Sebagaimana Anda lihat dalam dua definisi tersebut, fokus pengenalan ilmu adalah subjeknya dan ilmu didefinisikan berasaskan subjeknya.

Pada dasarnya, parameter yang paling baik untuk membedakan ilmu yang bermacam-macam ini adalah subjek-subjek daripada mereka. Sebab yang menyebabkan keseluruhan masalah-masalah dari suatu ilmu berada dalam suatu rangkaian bahasan dan suatu ilmu diberikan nama khusus kepadanya, adalah hal yang membicarakan keseluruhan masalah-masalahnya dan menjelaskan hukum-hukum, pengaruh-pengaruh, dan kekhususan-kekhususannya, yang mana ia adalah subjek ilmu tersebut.

Dalam tahap ketiga mesti dijelaskan tujuan ilmu khusus tersebut. Maksud dari tujuan suatu ilmu adalah natijah dan hasil-hasil yang diperoleh dari mempelajari ilmu tersebut. Yang pasti hasil pertama dari mempelajari suatu ilmu yang kembali kepada seseorang adalah informasi dan pengetahuan yang berhubungan dengan sebagian dari hakikat dan bertambahnya informasi serta pengetahuan; dengan kata lain, bergantinya kegelapan kebodohan kepada cahaya ilmu. Dan hal ini sendiri merupakan suatu modal dan keberuntungan, karena itu Al-Quran menyatakan tidak akan pernah sama antara orang yang mengetahui dan orang yang jahil. Akan tetapi untuk memilih suatu disiplin khusus, kadar ini tidaklah cukup, sebab semua ilmu dalam hal itu adalah sama. Berdasarkan ini maka dalam mukaddimah setiap ilmu senantiasa dibicarakan kegunaaan dan pengaruh khusus yang diperoleh dari mempelajari sebuah disiplin khusus. Sebagai contoh dikatakan bahwa tujuan ilmu logika adalah menjaga pemikiran dari kesalahan dan ketergelinciran, atau dikatakan bahwa tujuan ilmu sharaf dan nahwu adalah menjaga perkataan dari kesalahan dan ketidakbenaran lafzhi. Dan pencari ilmu adalah orang yang mencari sesuatu yang hilang (kurang) serta berupaya untuk mendapatkan sesuatu yang menjadi tujuan. Oleh karana itu, ketika dia mengenal tujuan sebuah ilmu dan mendapatkannya sesuai dengan tujuannya, atau terkadang dia memandang terdapat kecocokan dengan dirinya maka menyalalah kobaran api semangat dan kesukaan dalam jiwanya, sehingga dia tidak akan pernah lelah dan berpantang mundur di jalan mencari dan mempelajari ilmu tersebut.

Definisi Filsafat

Filsafat adalah sebuah ilmu yang membahas dan membicarakan tentang keadaan maujud (eksistensi) dari sisi ia adalah maujud (yakni eksistensi secara absolut). Penjelasan hal ini: Suatu maujud mempunyai hukum-hukum yang bermacam-macam. Sebagian dari hukum-hukum ini berhubungan dengan bentuk dan lokus khusus dimana maujud itu mengambil (bentuk) dirinya, dan sebagian lainnya tidak berhubungan dengan bentuk dan lokus khusus maujud itu, akan tetapi berhubungan dengan prinsip keeksistensiannya. Sebagai misal, besi dari dimensi sebagai sebuah maujud dalam lokus ini dan sebagai quiditas khusus serta berbeda dengan maujud-maujud lainnya dan bahkan berbeda dengan logam-logam lainnya, memiliki hukum-hukum khusus sendiri. Ia mempunyai beban dan neraca khusus, memiliki titik lebur dan daya tahan khusus, warna khusus, dan mempunyai puluhan bahkan ratusan hukum, efek, serta keadaan, dimana ini semua berhubungan dengan kebesiannya. Akan tetapi, fenomena ini juga mempunyai hukum-hukum lain seperti; akibat, baharu, mungkin, sumber efek, dan… sejumlah hukum-hukum yang tidak berhubungan dengan kebesian benda ini, tetapi berhubungan dengan keeksistensiannya. Dengan kata lain, benda ini dari dimensi ia maujud mempunyai hukum-hukum ini, bukan dari dimensi ia adalah besi. Dengan menjadi jelasnya dua kelompok dari hukum-hukum ini maka sedikit demi sedikit kita akan mengenal Hikmah Ilahi.

Filsafat adalah suatu ilmu yang membahas tentang kelompok kedua dari hukum-hukum di atas. Yakni ia menjelaskan hukum-hukum dimana maujud dari sisi ia maujud mempunyai kondisi-kondisi tersebut, bukan hukum-hukum yang berhubungan dengan determinasi khusus, yang mana hal demikian hanya terkhususkan bagian khusus dari maujud-maujud, dan ini kebalikan dari ilmu-ilmu eksperimen.

Subjek Filsafat

Pertama harus kita lihat, apa subjek daripada suatu ilmu? Baru kemudian kita membicarakan tentang subjek daripada ilmu filsafat. Biasanya dikatakan bahwa subjek suatu ilmu adalah sesuatu yang dibahas dalam ilmu itu dari aksiden-aksiden dzati-nya (sifat-sifat dzati-nya).

Apa yang dimaksud dengan aradh-aradh dzati (aksiden-aksiden esensial)? Dan mengapa harus dalam suatu ilmu hanya aksiden-aksiden dzati subjek ilmu itu dibicarakan? Terdapat banyak pembahasan dalam masalah ini dimana tidak ada wadah untuk  membahasnya di sini.  Mungkin definisi paling baik yang telah digunakan untuk aradh dzati (essential accident, proper accident) adalah suatu perkara yang tanpa perantara menyifati subjek, apakah perkara itu lebih umum dari subjek, lebih khusus dari subjek, ataukah sama dengan subjek.  Sebagai natijah-nya aradh garib (alien accident, foreign accident) yang berhadapan dengan aksiden esensial adalah suatu perkara yang dengan perantara perkara lain–apakah lebih umum dari subjek, lebih khusus, atau sama dengannya—menyipati subjek.

Oleh karena itu, subjek sebuah ilmu adalah sesuatu yang ilmu itu membicarakan tentang perkara-perkara yang tanpa perantara menjadi sifat atasnya.

Sekarang, setelah kita mengetahui maksud dari subjek ilmu itu apa, dengan memperhatikan definisi filsafat yang telah disebutkan maka dengan mudah dapat mengantarkan kepada subjek ilmu ini. Benar, subjek ilmu filsafat tidak lain adalah maujud mutlak. Seluruh masalah-masalah ilmu ini berkisar seputar fokus ini dan berbicara seputarnya serta memperbincangkan tentang aksiden-aksiden esensialnya, seperti; maujud mutlak adalah satu, maujud mutlak merupakan sumber efek-efek, maujud mutlak adalah wajib atau mungkin. (SYS/FH)

(Bersambung)

Berikan Tanggapan Anda

komentar untuk artikel ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.