Mengenal Filsafat dan Hikmah Islam (Bag. 3 Selesai)

Sumber: pba.edu

Sumber: pba.edu

Falsafah Ûlâ (Primary Philosophy) dan Ilmu A’lâ      

Islaminesia.com—Tentang bentuk penamaan ilmu ini dengan Falsafah Ûlâ dan Ilmu A’lâ harus dikatakan bahwa kata falsafah di awal penemuannya mempunyai makna umum dan mencakup beragam jenis-jenis pengetahuan. Filsafat dalam istilah yang masyhur di kalangan muslimin bukanlah suatu nama ilmu khusus dan pengetahuan khusus. Seluruh ilmu-ilmu rasional dalam berhadapan ilmu-ilmu naqli seperti lugah (ilmu bahasa), nahwu, sharaf, ma’âni, bayân, badî’, tafsir, hadis, fikih, dan ushul, berada di bawah penamaan secara universal filsafat.

Kaum muslimin, ketika mereka ingin menjelaskan pembagian ilmu secara Aristotelian, mereka menggunakan kata filsafat atau hikmah. Mereka menyatakan filsafat terbagi atas dua: teoritis (nazhari) dan praktis (amali).

Filsafat teoritis adalah ilmu yang membahas tentang asyyâ (benda-benda) sebagaimana keberadaan mereka, dan filsafat praktis adalah ilmu yang membahas tentang perbuatan-perbuatan manusia sebagaimana mestinya dan layaknya.

Filsafat teoritis terbagi atas tiga:

Filsafat ûlâ (filsafat pertama), meliputi perkara-perkara umum (metafisika) dan Ilahiyyah bermakna khusus (theologi ketuhanan).

Filsafat wusthâ (filsafat pertengahan), meliputi ilmu-ilmu matematika seperti: aritmatika, geometri, astronomi, dan musik.

Filsafat dunyâ (filsafat rendah), meliputi ilmu-ilmu alam seperti: kosmogoni, minerologi, botani, dan zoologi.

Keseluruhan tiga bagian inilah yang membentuk filsafat teoritis. Dan adapun filsafat praktis tentunya juga mempunyai pembagian sendiri.

Adapun sebab ilmu ini dinamakan ilmu a’lâ, karena ilmu ini dinisbahkan dengan ilmu-ilmu lain yang mempunyai kelebihan khusus, dimana kelebihan ilmu ini dibanding ilmu-ilmu lainnya adalah: pertama, menurut keyakinan ilmuan dahulu, ia lebih argumentatif dan lebih yakin dan pasti dari ilmu-ilmu lainnya. Kedua, ia mengatasi dan menguasai seluruh ilmu-ilmu lainnya, yakni pada hakikatnya ia adalah induknya ilmu-ilmu, sebab seluruh ilmu-ilmu secara universal butuh kepadanya sementara ia secara universal tidak butuh kepada mereka. Ketiga, ia lebih universal dan lebih umum dibanding ilmu-ilmu lainnya.

Meninjau Kembali Tujuan Hikmah Ilahi

Pada bagian ini, kembali diisyaratkan tentang tujuan filsafat serta dijelaskan dua hal sebagai tujuannya: pertama, membedakan maujud hakiki dari non-hakiki; dan kedua, mengenalkan sebab-sebab ‘âliyah (sebab-sebab transenden). Sebelumnya, kita telah membicarakan secara detail tentang pemisahan dan penentuan maujud-maujud hakiki dari non-hakiki. Akan tetapi tentang pengenalan sebab-sebab transenden wujud, khususnya Wajib Ta’âlâ yang merupakan sebab prima, mesti dikatakan bahwa Hikmah Ilahi dibagi kepada dua bagian prinsipal: Pertama, perkara-perkara umum (universal) yang membahas tentang maujud mutlak, hukum-hukum, dan pembagian-pembagiannya yang beragam. Kedua, Ilahiyyât bermakna khusus yang membicarakan tentang Wajib Ta’âlâ, sifat-sifat negasi dan afirmasi-Nya, serta Asmâul Husnâ-Nya.  

Pada hakikatnya, apa yang sampai sekarang dipaparkan tentang definisi, subjek, dan tujuan Hikmah Ilahi, seluruhnya berhubungan dengan perkara-perkara universal, dimana ia mencakup bagian terbesar dari kitab filsafat. Dan bagian lainnya, dimana ia mesti disebut theologi filosofis, subjeknya adalah Wajibul Wujud Ta’âlâ, tujuannya adalah pengenalan kepada Pencipta Eksistensi, sifat-sifat, dan Asmâul Husnâ-Nya. (SYS/FH)

 

Berikan Tanggapan Anda

komentar untuk artikel ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.