Mengenal Filsafat dan Hikmah Islam (2)

Sumber: rusliakhmadjunaedi.blogspot.com

Sumber: rusliakhmadjunaedi.blogspot.com

Tujuan Filsafat  

Islaminesia.com–Tujuan filsafat ada dua: Pertama, mengetahui maujud-maujud secara universal; dan kedua, membedakan maujudmaujud hakiki dari maujud-maujud non-hakiki.

Pada dasarnya, dampak paling pertama yang muncul dari mempelajari Hikmah Ilahi (filsafat)–dalam istilah terhitung sebagai tujuan tanpa perantara—tidak lain adalah pengenalan maujud-maujud dalam bentuk universal. Dan adapun pengenalan maujud hakiki dari non-hakiki pada dasarnya merupakan hasil dan faedah yang muncul dari pengenalan terhadap hukum-hukum universal maujud. Sebab, ketika kita mengenal kekhususan-kekhususan maujud mutlak dan kita mengetahui hukum-hukumnya, maka kita akan memiliki parameter yang dengannya kita dapat membedakan maujud hakiki dari maujud non-hakiki.

Apa yang Dimaksud dalam Bentuk Universal?           

Dari uraian-uraian tentang definisi filsafat yang telah dipaparkan, maka jelaslah apa maksud dari kata “secara universal” yang terdapat dalam penjelasan tujuan Hikmah Ilahi. Sebelumnya dikatakan bahwa dalam ilmu ini akan dibicarakan tentang maujud mutlak dan akan diteliti hukum-hukum yang berhubungan dengannya, bukan keadaan-keadaan yang berhubungan dengan satu jenis dari kekhususan maujud-maujud. Dengan demikian masalah-masalah yang akan dipaparkan dalam ilmu ini adalah umum dan meliputi seluruh maujud-maujud. Dan dengan dalil ini kami katakan: Tujuan Hikmah Ilahi (filsafat) adalah pengenalan maujud-maujud dalam bentuk universal.

Dengan kata lain, keuniversalan masalah-masalah filsafat ditinjau dari dimensi bahwa masalah-masalah tersebut tidak terkhususkan kepada jenis tertentu dari maujud-maujud atau mahiyah khusus dari quiditas-quiditas, sebagaimana ilmu-ilmu lainnya. Sebagai contoh, dalam Hikmah Ilahi dibicarakan tentang “sebab” dan “akibat”, “unitas” dan “multiflisitas”, “aktual” dan “potensial”, dan semisalnya. Dan perkara-perkara ini tidak terkhususkan kepada maujud atau mahiyah tertentu.         

Kebutuhan Kepada Filsafat 

Sesungguhnya manusia mendapati dirinya bahwa dirinya memiliki hakikat dan realitas, dan sesungguhnya di luar dirinya juga terdapat hakikat dan relitas. Manusia juga mendapati bahwa ia harus membenarkan hakikat dan realitas tersebut. Oleh sebab itu, manusia  tidak mencari sesuatu dan tidak menjadi tujuannya kecuali dari sisi bahwa sesuatu itu memiliki realitas, dan manusia tidak lari dari sesuatu dan tidak menghindar dari sesuatu kecuali karena sesuatu itu memiliki hakikat.

Anak kecil (bayi) yang mencari susu ibu, misalnya, sesungguhnya dia mencari sesuatu yang realitasnya adalah susu, bukan sesuatu yang hanya merupakan tawahhum (imajinasi) dan sangkaan begitu saja. Dan manusia yang lari dari singa, sesungguhnya ia lari dari sesuatu yang hakikatnya adalah singa, bukan sesuatu yang hanya tawahhum dan khurafat (supertisi). Akan tetapi manusia terkadang salah dalam pandangannya, ia memandang sesuatu yang tidak benar adalah benar serta memiliki realitas di luar, seperti keberuntungan (lucky) dan raksasa khayalan,  atau sebaliknya manusia meyakini sesuatu yang hak dan memiliki realitas di luar sebagai sesuatu yang batil dan khurafat, seperti jiwa non-materi dan akal non-materi. Oleh sebab itu, setiap kali manusia ingin menghukumi validitas sesuatu dan realitas sesuatu, ia harus dan wajib terlebih dahulu meneliti keadaan-keadaan maujud, sebagaimana ia maujud dan mendapatkan keadaan realitas maujud, sehingga dengan perantaraan itu ia dapat membedakan sesuatu yang  maujud secara hakiki dengan sesuatu yang tidak  maujud secara nyata. Dan ilmu yang membahas masalah ini adalah Hikmah Ilahiyah.

Perkara-Perkara Badihi dan Tidak Teragukan

Terdapat tiga perkara dimana setiap orang baginya adalah terang dan jelas, serta setiap dari mereka tidak memberikan jalan keraguan kepada dirinya tentang hal tersebut. Pertama, bahwa dirinya ada dan mempunyai eksistensi. Kedua, bahwa di luar dirinya terdapat obyek-obyek lain dan mempunyai realitas. Ketiga, bahwa dirinya dapat mengenal mereka dan mempunyai pengetahuan tentang mereka. Tiga perkara ini semuanya adalah swa-bukti (badihi) dan tidak butuh kepada dalil dan burhan serta setiap orang dalam kedalaman hati nuraninya (conscience) yakin terhadap perkara ini.

Oleh karena itu, seseorang yang berkata, “saya meragukan segala sesuatu hatta kepada keberadaan diri saya sendiri (keraguan mutlak)”, suatu ungkapan yang keluar dari mulutnya yang tak berarti dan menyalahi hati nuraninya sendiri. Mesti dikatakan bahwa orang-orang seperti ini, jika dia menyatakan demikian itu dari dimensi kejujuran dan dengan keyakinan—tidak dikarenakan tujuan-tujuan khusus, artinya tidak menyatakannya dalam bentuk lahiriah saja keyakinan ini—maka mereka itu adalah orang-orang yang tertimpa penyakit psikologis dan was-was pemikiran serta harus mendapatkan terapi pengobatan. Sebab, wujud manusia itu sendiri dan wujud alam di luar dirinya merupakan suatu perkara badihi dan  tidak dapat diragukan. Dan juga orang-orang seperti Descartes yang dengan bantuan pikirannya ingin membuktikan wujud dirinya dan berkata, “saya berpikir maka saya ada”, pada dasarnya dia beranjak dari jalan yang salah; sebab pengakuan bahwa saya adalah ada tidak butuh kepada pengargumenan. Di samping itu, dalil yang dia sandarkan kepadanya “saya berpikir maka saya ada” adalah tertolak dan mendapat isykalan.

Demikian pula orang-orang yang mengingkari realitas luar dan berkata, “segala yang ada diringkas dalam imajinasi dan mentalitas saya dan di luar dari pikiran saya tidak ada sesuatu.” Dan juga orang-orang yang tidak mengingkari alam luar tetapi ragu terhadap wujud dan realitasnya dan berkata, “saya tidak tahu apakah ada sesuatu di balik pikiran saya atau kah tidak,” semuanya berangkat pada jalan yang keliru dan menyatakan sesuatu yang menyalahi wijdân (hati nurani) serta swa-bukti akal.   

Dan demikian pula mereka yang mengakui keberadaan alam luar, tetapi mereka memandang jalan pengenalannya secara universal tertutup, dan mereka berkata, “alam luar bagi manusia tidak dapat terkenali dan kita sama sekali tidak dapat menjangkaunya atau minimal kita tidak mengetahui apakah persepsi dan konsepsi kita adalah buatan dan rajutan kita yang tidak mempunyai hubungan dengan alam luar ataukah merupakan temuan-temuan yang sesuai dengannya,” mereka ini menyatakan sesuatu yang menyalahi temuan swa-bukti akal dan hatta mereka sendiri tidak konsisten dalam mengamalkan keyakinannya.  

Dalil atas tiga matlab ini–yakni keberadaan realitas diri manusia, alam di luar dirinya, dan kemungkinan pengenalan terhadapnya serta khususnya matlab kedua dan ketiga—bahwa setiap manusia meyakininya, tidak lain adalah bentuk prilaku dan amal manusia. Dimana manusia ketika mencari sesuatu, ia memandang sesuatu itu sebagai suatu yang memiliki realitas luar, dan juga ketika lari dari sesuatu, ia lari darinya dari dimensi sesuatu itu mempunyai realitas luar. Pengakuan terhadap hakikat-hakikat ini tidak terkhususkan kepada orang-orang dewasa, akan tetapi setiap anak kecil juga menerimanya. Sebab, setiap bayi yang menginginkan air susu ibu, ia mencari sesuatu yang di alam luar adalah air susu, bukan sesuatu yang hanya dalam anggapan dan imajinasinya adalah air susu. (SYS/FH)

(Bersambung)

Berikan Tanggapan Anda

komentar untuk artikel ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.