Islam dan Kesehatan Reproduksi Perempuan

Sumber: medisian.blogspot.com

Sumber: medisian.blogspot.com

Islaminesia.com— Menurut World Health Organization (WHO) kesehatan adalah keadaan sejahtera fisik, mental, dan sosial yang utuh.  Artinya kondisi sehat bukan sekedar tidak ada penyakit ataupun kecacatan, namun kondisi kesejahteraan kondisi psikis dan sosial. Setiap manusia berhak mendapatkan standar kesehatan setinggi-tingginya karena kesehatan merupakan hak asasi manusia yang telah diakui dunia internasional. Istilah reproduksi berasal dari kata “re” artinya kembali dan kata “produksi” artinya membuat atau menghasilkan. Jadi reproduksi memiliki arti suatu proses kehidupan manusia dalam menghasilkan keturunan demi kelestarian hidupnya. Kesehatan reproduksi merupakan suatu bagian dari pembahasan kesehatan yang menjadi penting untuk diperhatikan demi kelangsungan kehidupan. Menurut Depkes RI kesehatan reproduksi adalah suatu keadaan sehat secara menyeluruh mencakup fisik, mental dan kehidupan sosial yang berkaitan dengan alat, fungsi serta proses reproduksi.  

Islam sebagai pandangan hidup yang komprehensif tentu saja memiliki kaitan dan mengatur tentang kesehatan reproduksi. Islam mengajarkan prinsip-prinsip kesehatan, kebersihan dan kesucian lahir dan batin. Sebagaimana Rasulullah s.a.w. bersabda, dalam hadis yang diriwayatkan an-Nasai dari ’Amr bin Maimun dalam kitab As-Sunan al-Kubrâ: ”Perhatikanlah lima perkara ini sebelum datangnya lima perkara: masa mudamu sebelum datang masa tuamu; kesehatanmu sebelum datang sakitmu; kekayaanmu sebelum datang kefakiranmu; kesempatanmu sebelum datang kesibukanmu; hidupmu sebelum datang kematianmu.” Antara kesehatan jasmani dengan kesehatan rohani merupakan kesatuan sistem yang terpadu. Islam mengatur kesehatan reproduksi manusia ditujukan untuk memuliakan, menjunjung tinggi derajat manusia serta memberikan arahan dalam melahirkan generasi.

Disamping kebutuhan sandang, pangan dan papan, kesehatan reproduksi adalah sesuatu yang sangat vital bagi kehidupan manusia. Sistem reproduksi pada manusia merupakan alat untuk menghasilkan keturunan dan melakukan regenarasi. Regenerasi manusia bergantung dari sistem reproduksi yang dimiliki sehingga mampu menghasilkan generasi yang mampu berkarya dan menjadi tonggak perubahan sosial. Al-Quran menjelaskan tentang mekanisme   yang   tepat   dan  menyebutkan tahap-tahap yang pasti dalam reproduksi. “Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik”(QS. Al-Mu’minun: 14).

Organ reproduksi perempuan terdiri atas organ eksternal dan organ internal. Antara kedua organ ini tidak terpisah satu sama lainnya. Salah satu organ reproduksi perempuan yang paling vital bagi perempuan adalah ovarium (indung telur) dan uterus (rahim). Ovarium berfungsi menghasilkan ovum (sel telur) dan hormon (estrogen dan progestron). Jika dibuahi sel telur menuju dan akan tertanam dalam rahim dan jika tidak maka akan meluruh melalui proses menstruasi. Menstruasi adalah masalah biologis dan teologis yang berpengaruh terhadap kesehatan seksual. Peristiwa haid menandakan kematangan organ reproduksi pada perempuan. Islam mengistilahkan menstruasi dengan haid, dalam al-Quran kata haid disebutkan empat kali dalam dua ayat. Surah al-Baqarah [2] ayat 222: “Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: “Haidh itu adalah suatu kotoran”. oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah Suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” Perintah untuk menjauhi dalam ayat di atas bukan berati menjauhi fisik, tetapi menghindarkan diri untuk tidak berhubungan dengan istri yang sedang haid. Mengenai pembersihan diri dari haid, dalam Islam yakni dengan mandi, sekalipun kurang dari tujuh hari, kalau sudah merasa bersih, maka sudah dapat melakukan ibadah secara rutin.

Selain haid, pada perempuan terdapat kondisi yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi perempuan, yakni pada masa hamil dan menyusui. Mengenai kondisi tersebut Islam juga memberikan perhatian kepada pada perempuan untuk mendapatkan perlakuan yang baik dari semua pihak misalnya hak untuk mendapatkan pelayanan kesehatan pada saat hamil dan menyusui. Dalam saat seperti ini suami berkewajiban menjaga istrinya yang sedang hamil atau menyusui agar selalu dalam keadaan sehat, baik secara fisik maupun mental. Bahkan Allah SWT dalam al-Quran menegaskan kondisi perempuan yang hamil dalam keadaan lemah. Oleh karena perhatian yang sangat besar terhadap kondisi tersebut, maka perempuan hamil dan menyusui tidak diwajibkan untuk beribadah puasa. Disamping itu, Islam memberikan memberikan petunjuk kepada perempuan agar reproduksi dilakukan dengan mengatur jarak kelahiran. Hal ini untuk mengantisipasi kemungkinan yang tidak diinginkan seperti meninggal ketika melahirkan karena lemah fisik atau badan tidak sehat. Dan juga untuk memenuhi kebutuhan bayi terhadap ASI, karena ASI itu sendiri sangat besar manfaatnya bagi kesehatan, pertumbuhan dan perkembangan bayi. Isyarat tersebut ada di dalam QS al-Baqarah [2]: 233: ”Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf, seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. …”

Sistem kesehatan dalam Islam tercermin dalam ajaran syariat yang mewajibkan perbuatan membersihkan diri dari kotoran (najis), dari hadats dan dari kotoran hati semua itu berada dalam satu paket ibadah seperti wudhu’, mandi, shalat dan munajat serta ibadah lainnya. Pelarangan mendekati zina dan penganjuran pernikahan merupakan bentuk perlindungan agar reproduksi menjadi sehat dan bertanggungjawab. Ini menunjukkan betapa besar perhatian Islam terhadap kesehatan reproduksi perempuan. Pengetahuan dan pemahaman perempuan akan fungsi dan organ reproduksi akan menjadi kekuatan bagi perempuan sebagai ibu dan calon ibu bagi generasi bangsa. Sebab ketika seorang perempuan senantiasa memberikan asupan yang baik untuk fisik dan jiwanya (biologis dan spiritual), maka dari rahim-rahim merekalah generasi Rabbani akan dilahirkan. (JNH/JN)

Wallahu a’lam

Berikan Tanggapan Anda

komentar untuk artikel ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.