Hati dan Fuad sebagai Alat Persepsi dalam Al-Quran

Sumber: obatqalbu.wordpress.com

Sumber: obatqalbu.wordpress.com

Islaminesia.com—Kata fuâd yang dalam Al-Quran digunakan sinonim dengan qalb (hati), aslinya bermakna organ khusus dalam badan manusia atau hewan yang berperan memompa aliran darah serta berfungsi membersihkannya, namun dalam urf (tradisi dan bahasa umum masyarakat) digunakan dengan makna pusat persepsi, emosi, dan perasaan. Adapun hubungan antara makna leksikalnya dengan makna urf-nya, kemungkinan timbul dari sisi kebanyakan masyarakat mengkonsepsi bahwa persepsi dan perasaan mempunyai hubungan dengan organ khusus ini, dan Al-Quran Al-Karim juga menggunakannya dengan berlandaskan istilah urf-nya tersebut:

“Sesungguhnya penglihatan tidak buta, akan tetapi qulub (hati-hati) yang ada di dalam dada yang buta.”

Mungkin dapat dikatakan bahwa ini adalah suatu hubungan imajinal, namun  mengapa Al-Quran secara terang-terangan mengesahkannya? Dalam menjawabnya dapat dikatakan, sebab Al-Quran diturunkan dalam bahasa masyarakat, berbicara sesuai dengan istilah masyarakat, karena itu ia tidak mengesahkan apa yang masyarakat khayalkan sebagai kenyataan, pada hakikatnya ia berkata: saya tidak mengatakan mata yang ada di kepala kamu itu buta, akan tetapi saya mengatakan mata hati kamu yang ada dalam dada kamu yang buta.

Juga dapat dikatakan, yang dimaksud dengan dada, adalah bukan dada jasmani, tetapi yang dimaksud dengan hati, adalah potensi pemahaman dan yang dimaksud dengan dada, adalah batin manusia.

 “Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui yang ada di dalam dada.”

Tuhan mengetahui apa yang ada di dalam dada, maksudnya kalbu, yang berfungsi sebagai pusat persepsi, dan dada yakni suatu tingkatan dari batin. Dan juga bisa dikatakan, kalbu (hati), kendati pun bukan tempat emosi dan persepsi, ia adalah organ yang  mendahului semua organ lainnya dalam kaitannya dengan ruh dan organ paling akhir yang tidak berfungsi ketika ruh terpisah dari badan. Hubungan ruh dengan badan dalam seluruh organ tubuh tidak dalam satu bentuk hubungan, pada sebagian organ tubuh, seperti hati dan otak, adalah  utama. Dan mungkin hubungan ruh dengan hati dari semua yang lainnya adalah lebih utama.

Dari penelitian ayat-ayat diperoleh penisbahan “persepsi” terhadap kalbu:

  1. “Apakah mereka tidak melakukan perjalanan di muka bumi, dan hati mereka merenungkan tentangnya?”

  2. “Dan sungguh akan Kami isi neraka jahanam banyak  dari kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka memiliki mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah)… .” Dalam ayat ini digunakan ungkapan “fiqh” yang bermakna pemahaman yang dalam dan mendapatkan hakikat, dan ungkapan ini dinisbahkan kepada kalbu. Dari sisi lain, perasaan dan emosi juga dinisbahkan kepada kalbu, apakah itu baik ataukah  buruk.

  3. “Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya.”

  4. “Dan apabila yang disebut nama Allah yang Maha Esa, kesal sekali hati orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat.”

  5. “Dan hati ibu Musa menjadi kosong. Sungguh, hampir saja dia menyatakannya (rahasia tentang Musa), seandainya tidak Kami teguhkan hatinya, agar dia termasuk orang-orang beriman (kepada janji Allah).”  Di ayat ini kita jumpai bahwa kata fuad dan qalb, adalah satu, dan fuad serta qalb ini yang didatangi kondisi kegelisahan atau ketenangan.

  6. “Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong pada kesesatan, mereka mengikuti yang mutasyabihat.”

  7. “Dalam hati mereka ada penyakit lalu Allah menambah penyakitnya itu.”

  8. “Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka. Sekali-kali tidak! Sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Tuhannya.”

Dari ayat-ayat di atas dapat kita ketahui bahwa hati adalah sesuatu yang dapat menyaksikan Tuhan, dan makna serta pengertian seperti ini banyak dijumpai dalam riwayat. Dalam Nahjul Balagah kita dapatkan ungkapan Sayyidina Ali kw: “Mata tidak mempersepsi-Nya dengan penyaksian pandangan, akan tetapi hati yang mempersepsi-Nya dengan hakikat iman”. Jenis persepsi ini adalah ilmu huduri, karena itu dapat dikatakan bahwa hati dari sudut tinjauan Al-Quran adalah suatu maujud yang memiliki ilmu huduri dan juga mempunyai ilmu husuli serta juga dapat dinisbahkan kepadanya perasaan, emosi, kegelisahan dan ketenangan. Oleh karena itu, secara ungkapan filsafat, hati bukanlah suatu potensi khusus. Dalam pembahasan filsafat, dikatakan bahwa setiap bentuk perbuatan yang keluar dari manusia, niscaya keluar dari suatu mabda khusus. Ketika kita menyaksikan beragam  persepsi, maka kita akan mengatakan bahwa masing-masing dari mereka mempunyai satu potensi, seperti hissi (indera), khayal, memori, dan akal. Adapun untuk reaksi jiwa, perasaan, serta emosi jiwa tidak dipandang mempunyai mabda pelaku dan semua itu dinisbahkan kepada jiwa.

Di kalangan filosof terdapat pandangan bahwa akal bukanlah suatu potensi khusus, akan tetapi akal (rasionalitas) adalah pekerjaan jiwa. Pandangan ini dapat dikritik dan dikatakan bahwa akal juga dari sisi mempersepsi konsepsi-konsepsi harus dihitung sebagai suatu potensi. Pada hakikatnya, yang dapat dinisbahkan kepada hakikat nafs adalah ilmu huduri dan pekerjaan ruh adalah menyaksikan realitas, dan ini merupkan gradasi yang lebih tinggi dari persepsi konsepsi-konsepsi.

Dengan demikian, dapat dipahami makna ini, setiap bentuk perbuatan yang bersumber dari ruh maka yang dimaksud adalah suatu potensi khusus. Dengan pandangan ini, ketika kata hati kita jadikan bahan telaah, dengan memperhatikan kepada macam-macam penggunaannya maka berdasarkan istilah ini harus dikatakan: hati bukanlah suatu potensi khusus, sebab kepadanya dinisbahkan bermacam-macam perkara yang dari sisi mahiyah satu sama lain adalah berbeda. Sekelompok dari mereka masuk dalam mahiyah infiâl (affection) dan sekelompok lainnya masuk dalam mahiyah fi’il (act).

Pekerjaan-pekerjaan juga bermacam-macam ragamnya, karena itu hati merupakan jiwa (nafs) manusia dari sudut tinjauan bahwa ia mempunyai persepsi, perasaan, dan emosi. Sehingga di samping itu, Al-Quran juga menisbahkan kepada hati masalah ikhtiar dan pilihan, seperti ayat-ayat:

  • “Allah tidak menghukum kamu karena sumpahmu yang tidak kamu sengaja, tetapi Dia menghukum kamu karena niat (pilihan) yang dilakukan hati kamu.”

  • “Dan tidak ada dosa atasmu jika kamu khilaf tentang itu, tetapi (yang diperhitungkan dosanya) apa yang sengaja oleh hatimu. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”

Dengan demikian, jika kita katakan bahwa dengan memperhatikan perkara-perkara pengungkapan Al-Quran terhadap hati, maka akan diperoleh pandangan bahwa  hati  sinonim dengan ruh atau nafs yang digunakan dalam filsafat. Ungkapan ini bukanlah sebagai suatu ungkapan yang tak berdasar. Satu-satunya hal yang dapat dikatakan yang dapat dinisbahkan kepada nafs tapi tidak dapat dinisbahakan kepada hati adalah pekerjaan-pekerjaan badan. Nafs memiliki suatu potensi kerja yang mana potensi ini mendorong badan kepada gerakan, dan ini tidak pernah dinisbahkan kepada hati. Oleh karena itu, setiap sesuatu yang terkonsepsi memiliki suatu bentuk persepsi di dalamnya, apakah ilmu dan makrifat itu sendiri ataukah kualitas-kualitasnya, semuanya dapat dinisbahkan kepada hati, akan tetapi sesuatu yang tidak memiliki bentuk persepsi di dalamnya maka ia tidak bisa dinisbahkan kepada hati. (SYS/FH)

 

 

Berikan Tanggapan Anda

komentar untuk artikel ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.