Perempuan Bekerja dan ASI Eksklusif

Sumber: dokter.id

Sumber: dokter.id

Islaminesia.com— “Saya hormat terhadap para aktivis perempuan yang gigih memajukan hak-hak perempuan Indonesia”, tulis Presiden RI Joko Widodo dalam akun media sosial tepat peringatan Hari Ibu tanggal 22 Desember 2015. Tentu realisasi “kicauan” beliau tentang rasa hormat tersebut sangat dinantikan demi mendorong kemajuan hak-hak perempuan Indonesia.  Mengingat rentannya posisi manusia dalam proses bermasyarakat, budaya, ekonomi, sosial, adanya Hak Asasi Manusia (HAM) bertujuan memberikan perlindungan. Hak asasi perempuan adalah bagian dari HAM, sebagaimana komitmen internasional dalam Deklarasi PBB 1993: Maka perlindungan, pemenuhan dan penghormatan hak asasi perempuan adalah tanggung jawab semua pihak baik lembaga-lembaga Negara (eksekutif, legislatif, yudikatif) maupun partai politik dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Bahkan warga Negara secara perorangan punya tanggung jawab untuk melindungi dan memenuhi hak asasi perempuan.

Setiap manusia memiliki hak, sejauh mana hak-hak tersebut dipenuhi dalam  praktek, sangat bervariasi dari negara ke negara, termasuk pemenuhan hak perempuan (baca: ibu) dalam memberikan Air Susu Ibu (ASI) secara eksklusif kepada anaknya. Pemberian ASI eksklusif sangat penting karena ASI mengandung gizi tinggi bagi kesehatan bayi. Begitu pentingnya pemberian ASI eksklusif oleh ibu, dalam Islam terdapat landasan hakiki mengenai hal tersebut. Al-Quran surat al- Baqarah [2]: 233 Allah SWT berfirman “Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan”. Riwayat-riwayat dalam islam banyak menekankan keutamaan air susu ibu bagi anak. Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib berkata, “tidak ada air susu yang lebih berbarakah bagi anak bayi dari air susu ibunya sendiri.” Namun, apabila praktek menyusui tidak mungkin dilakukan karena sedikitnya air susu ibu, atau karena ibu sedang sakit, atau ketiadaan ibu karena bercerai atau meninggal dunia, maka dibolehkan mencari ibu susu bagi anak. Sebagaimana riwayat “hati-hatilah kalian dalam memilih ibu susu untuk anak kalian karena air susu yang diminumnya akan mempengaruhi jalan kehidupannya”.

Riset ilmiah telah membuktikan bahwa ASI merupakan makanan terbaik bagi bayi. Dengan menyusui, hubungan cinta dan kasih sayang antara ibu dan anak akan semakin erat dan akan membuat anak merasa tenang dan aman”. Hal ini berpengaruh pada kualitas fisik dan psikologis anak. World Health Organization (WHO), merekomendasikan bayi mendapat ASI eksklusif selama 6 bulan, dengan kemungkinan untuk melanjutkan hingga usia 2 (dua) tahun bersama-sama dengan makanan pendamping Namun, tidak semua perempuan mempunyai kesempatan untuk memberikan ASI eksklusif kepada bayi mereka dikarenakan bekerja.

Perempuan yang menjalankan peran ganda, sebagai tenaga kerja dan sebagai ibu/istri (work-family role) jika tidak mendapat dukungan yang memadai dari pemerintah maupun di tempat kerja akan menimbulkan work-family conflict yang berimbas pada tugas dasarnya sebagai ibu. Selama ±8 jam waktu kerja, para ibu tidak memiliki waktu yang cukup untuk menyusui anaknya. Keadaan tersebut diperparah dengan minimnya kesempatan untuk memerah ASI di tempat kerja, tidak tersedianya ruang ASI, serta kurangnya pengetahuan ibu bekerja tentang manajemen laktasi.

Terdapat peraturan pemerintah yang mendukung pemberian ASI di tempat kerja, seperti UU Kesehatan No.39/2009 pasal 128, UU Ketenagakerjaan No. 13/2009 pasal 83, Peraturan Pemerintah No 33/2012 tentang pemberian ASI Eksklusif dan Peraturan Menteri Kesehatan No. 15 Tahun 2013 tentang Tata Cara Penyediaan Fasilitas Khusus Menyusui dan/atau Memerah Air Susu Ibu. Namun, peraturan yang dibuat pemerintah belum terlaksana secara menyeluruh dan merata serta proporsional sementara itu promosi susu formula dilakukan dengan sangat gencar. Contohnya, aturan mengenai Cuti Bersalin bagi PNS perempuan, hanya selama dua bulan setelah bersalin. Secara faktual, jika ibu sudah harus kembali bekerja, maka akan mengalami kesulitan untuk menyusui. Kesulitan-kesulitan dijalani selama minimal empat bulan dan tidak jarang ibu beralih dengan memberikan susu formula kepada anaknya. Selain itu, kegiatan edukasi, advokasi, dan kampanye terkait pemberian ASI dan makanan pendamping ASI (MP-ASI) juga belum optimal.

Oleh karena itu, pelaksanaan kebijakan pemerintah terkait pemberian ASI eksklusif bagi ibu di tempat kerja perlu dievaluasi dan ditelaah lebih lanjut. Peringatan momentum hari Ibu agar tidak menjadi ceremonial belaka, seluruh elemen masyarakat mesti menciptakan terobosan, ide-ide, program hingga regulasi yang dapat meningkatkan ASI eksklusif. Peran berbagai pihak termasuk dunia industri dalam mendukung pemberian ASI eksklusif sangatlah penting. Selain itu, dukungan terhadap program menyusui di tempat kerja juga merupakan bentuk pencegahan terhadap diskriminasi perempuan di tempat kerja. Pemerintah harus senantiasa mendukung program ASI di tempat kerja dengan memberikan kesempatan bagi ibu bekerja untuk menyusui anaknya selama waktu kerja, dan atau menyediakan tempat untuk memerah ASI berupa ruang  ASI di tempat kerja. Dengan demikian, hak bayi untuk mendapat ASI eksklusif sampai usia 6 bulan dapat diwujudkan, produktivitas pekerja perempuan dapat meningkat dan kualitas attachment ibu-anak dapat terbangun lebih baik demi kualitas generasi bangsa Indonesia di masa mendatang.

Selamat Hari Ibu, 22 Desember 2015

ASR/JN

Berikan Tanggapan Anda

komentar untuk artikel ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.