Mengikuti Jejak Muhammad SAW

Sumber: nabiakhirjaman.wordpress.com

Sumber: nabiakhirjaman.wordpress.com

Islaminesia.com

Sungguh, hati muslim dipatri cinta Nabi
Dialah pangkal kemuliaan, sumber bangga kita semua
Dia tidur diatas tikar kasar, sedangkan umatnya tidur di ranjang raja-raja
Inilah pemimpin bermalam-malam terjaga, sedangkan umatnya mengguncang tahta Kisra
Di gua Hira’ ia bermalam sehingga tegak bangsa, hukum dan negara
Kala salat, pelupuk matanya tergenang air mata
Di medan perang, pedangnya bersimbah darah
Dibukanya pintu dunia dengan kunci agama
Duhai…, belum pernah insan melahirkan putra semacam dia.

 

Di antara sosok manusia agung dan suci yang pernah hidup dalam sejarah manusia adalah Nabi Muhammad SAW. Keagungannya terbentuk karena perpaduan harmonis antara nilai rububiyah Ilahi dengan semangat pembelaan terhadap kemanusiaan. Namun tokoh besar ini sering dipahami secara keliru. Oleh karena itu, sejarah kelahirannya, di antaranya yang diterima oleh masyarakat telah mengalami reduksi yang sedemikian rupa.

Banyak tokoh di dunia ini yang dikagumi, namun tak ada yang seperti Nabi Muhammad SAW. Yang namanya selalu disebut kaum muslimin dalam setiap jejak sajadah terbentang. Tanpa menyebut namanya, ibadah tersebut menjadi sia-sia, dan hanya sekadar gerakan-gerakan lahir tanpa makna ruhani. Menurut Qadhi ‘Iyad, Muhammad SAW adalah manusia yang Allah telah meninggikan derajatnya dan memberinya kebajikan-kebajikan, sifat-sifat terpuji dan hak-hak istimewa tertentu. Dia telah meninggikan derajat dengan cara begitu mengagumkan, sehingga tak sepotong lidah atau pena pun yang cukup memadai untuk menuliskannya. Apa yang ditulis Qadhi ‘Iyad adalah suatu ungkapan yang merupakan wujud demi cintanya kepada Nabi SAW. Ia mengetahui bahwa kehadiran Muhammad SAW ini merupakan rahmat bagi semesta alam, dan tanpa kehadirannya alam ini akan terus berada di dalam kegelapan peradaban. Dengan kehadirannya, alam ini menjadi tercerahkan baik secara spiritual maupun intelektual.

Saat kita berbicara tentang Nabi Muhammad, maka yang terbetik dalam ingatan kita adalah kesempurnaan seorang manusia. Pribadi Muhammad SAW yang sempurna ini merupakan teladan hidup, tidak hanya bagi kaum muslim tetapi bagi seluruh umat manusia. Kejujuran, keadilan, kebenaran, kebaikan dan kasih sayangnya merambah pada semua lapisan manusia. Pada seorang yang tidak beragama Islam pun, Muhammad akan tetap berlaku adil dan bijaksana. Akhlak Muhammad SAW yang agung ini telah memancar bagi segenap alam. Allah berfirman, “Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) memiliki akhlak/budi pekerti yang luhur dan agung.”(QS. Al-Qalam: 4)

Jika kita kaum muslimin meyakini Muhammad sebagai Rasulullah, tentu kita menghadapi konsekuensi dalam mempertanggungjawabkan keyakinan itu. Ini berarti kita harus mengikuti suri teladan beliau dalam seluruh dimensi kehidupan. Karena nabi adalah uswatun hasanah, seperti yang digambarkan dalam Al-Quran, “Sesungguhnya dalam diri Rasulullah terdapat teladan yang baik bagi kamu.”(QS. Al-Ahzab: 21), maka kepatuhan kepadanya merupakan wujud kepatuhan kepada Allah. Nabi adalah representasi dari ajaran Allah itu sendiri, seperti pula yang terdapat dalam sebuah hadis, bahwa akhlak Nabi SAW adalah Al-Quran.

Setelah kita mengetahui kedudukan serta bagaimana akhlak dan kepribadian Rasulullah SAW, lantas bagaimana sikap kita selanjutnya? Apakah sejarah kehidupan Rasulullah tersebut hanya kita simpan sebatas lembaran-lembaran yang tak bermakna? Padahal esensi ajaran Islam terletak pada bagaimana dan seberapa jauh pengenalan kita pada Tuhan (Ma’rifat Allah) dan Rasul-Nya (Ma’rifat ar-Rasul).

Di negeri tercinta ini, berbagai peristiwa dalam kehidupan berbangsa dan bernegara telah terjadi mengiringi suasana Maulid Nabi Besar Muhammad SAW. Pertama, masih maraknya berbagai penyelewengan dan penyalahgunaan kekuasaan yang dilakukan oleh jajaran penguasa dan pemerintahan, yang ironisnya, karena tidak menunjukkan adanya perbaikan dan perubahan ke arah yang lebih baik, tetapi malahan prakteknya sudah semakin terbuka dengan modus operandi yang beragam. Padahal perayaan Maulid sudah dilakukan dari kampung-kampung, kantor pemerintahan, perusahaan swasta, hotel berbintang hingga Istana Negara, yang itu semua telah berlangsung cukup lama di negeri dengan jumlah umat muslim terbesar ini. Tapi mengapa Maulid Nabi tersebut sepertinya tidak dapat mengubah karakter dan moral bangsa ini?

Kedua, masih seringnya terjadi kekerasan atas nama agama yang dilakukan oleh sekelompok orang yang mengklaim sebagai pemilik kebenaran satu-satunya, sekaligus mengaku sebagai pengikut Nabi Muhammad SAW. Kekerasan dilakukan tidak hanya secara fisik, tetapi melalui media massa dan media sosial dengan cara melemparkan tuduhan, tudingan, fitnah, penyesatan dan pengkafiran kepada sesama kaum muslimin. Rasanya belum pernah kami menemukan dalam literatur sejarah Islam, di mana Rasulullah melakukan tindakan kekerasan kepada suatu kaum tanpa alasan yang haq. Adalah suatu hal yang mustahil memang, bila agama sempurna ini, yang dibawa oleh Rasul mulia yang menjadi uswatun hasanah karena memiliki akhlak yang agung, lantas melakukan tindakan-tindakan yang tidak terpuji dan tidak berlandaskan moral yang tinggi. Dalam Al-Quran Surah At-Taubah ayat 128, digambarkan kepribadian Rasulullah SAW dengan begitu indah, “Sungguh, telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, (dia) sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, penyantun dan penyayang terhadap orang-orang.” Pertanyaannya kemudian, apakah setelah kita mengklaim sebagai umat Muhammad SAW, kita akan senantiasa berusaha untuk menggembirakan hati Nabi atau justru membuatnya tidak bisa tersenyum, karena melihat sikap serta akhlak kita yang tercela?

Pencitraan Muhammad atau Rasulullah SAW di hati kita, akan mengungkap siapa kita sebenarnya. Karena Muhammad yang sesungguhnya adalah sosok manusia agung yang melingkupi semua dimensi kemanusiaan dengan warna-warna Ilahiah. Dan karenanya keberadaannya sama dekatnya dengan nadi kehidupan manusia. Maka sejatinya, pembumian nilai-nilai akhlak muhammadi yang menjadi tema sentral gagasan perubahan peradaban Muhammad, akan menentukan keselamatan hidup kita nanti. Sebagai pecinta Muhammad, maka sudah sepantasnya kita semua bertekad menjadikan diri kita sebagaimana Muhammad. Dengan kata lain, mari me-MUHAMMAD-kan diri kita. (Redaksi)

Wallahu a’lam bisshawab

Berikan Tanggapan Anda

komentar untuk artikel ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.