Akhlak Fatimah

Sumber: kedaisastra.com

Sumber: kedaisastra.com

Islaminesia.com—Dekapan angin malam mengetarkan tubuh, debu pasir di padang tandus berhamburan diterpa angin yang berhembus kencang. Pohon kurma menari dengan lincah mengikuti irama angin. Lantunan doa bersuara lirih mengetuk pintu langit, menarik perhatian malaikat yang sedang memuji dan memuja kebesaran Allah SWT. Seorang wanita mendirikan salat malam saat orang di sekitarnya terlelap tidur. Ekspresi kecintaan kepada Tuhannya membuat kakinya membengkak dan tubuhnya membungkuk karena salat malam yang tak pernah ditinggalkan. Di setiap doanya ia selalu mendahulukan orang lain ketimbang keluarganya.

Putranya, Al-Hasan, saat mendengar untaian doa dari lisan suci bundanya bertanya, “Tubuhmu kelihatan lemah, mengapa engkau tidak memohon kepada Allah SWT untuk dirimu juga?” Sang bunda menjawab, “Wahai putraku, tetangga dulu baru keluarga”.

Inilah ajaran cinta yang diajarkan Rasulullah SAW kepada pengikutnya. Fatimah, putri Rasulullah SAW telah membuktikan bahwa ajaran ayahnya adalah ajaran cinta. Mendahulukan orang lain dalam berbagai dimensi kehidupan merupakan kewajiban umat muslim. Pecinta Rasulullah SAW harus berpikir untuk orang lain sebelum berpikir untuk dirinya, harus lebih mencintai orang lain daripada dirinya sendiri. Meskipun begitu banyak masalah yang dihadapi, ia tetap harus mendahulukan orang lain.

Fatimah juga dikenal sebagai perempuan ahli ibadah. Rasulullah SAW bersabda, “Allah SWT telah memenuhi hati, anggota badan, dan bahkan tabiat putriku Fatimah dengan Iman, sehingga ia selalu taat kepada Allah SWT”. (Bihar alanwar, jilid II, hal. 8)

Sejarah mencatat, dalam seluruh aspek kehidupannya, Fatimah Az-Zahra senantiasa mendahulukan orang lain daripada keluarganya sendiri. Ia memahami tugas dan tanggung jawabnya sebagai pengikut ajaran ayahnya, Rasulullah SAW. Ajaran Islam yang diajarkan Rasulullah adalah ajaran cinta yang mengharuskan pengikutnya lebih mendahulukan orang lain ketimbang dirinya sendiri.

Pada dasarnya, mendahulukan dan menghormati orang lain sama halnya menghormati dan mendahulukan Tuhan, karena manusia adalah cerminan dari sifat Allah SWT. Kesempurnaan manusia dari sisi keindahan dan kecerdasan adalah penampakan dari sifat-sifat Allah SWT. Oleh sebab itu, mendahulukan atau menghormati orang lain berarti mendahulukan atau menghormati sifat Allah SWT.

Selain itu, Fatimah Az-Zahra juga dikenal sebagai salah satu perempuan pejuang yang pantang menyerah. Meskipun darah sebagai taruhannya, ia tetap berusaha mempertahankan haknya. Dalam Kehidupan yang relatif singkat, Fatimah berhasil membuktikan kepada umat manusia bahwa wanita yang selama ini direndahkan juga memiliki kekuatan untuk melakukan perlawanan kepada orang-orang zalim. Tidak ada perbedaan antara lelaki dan wanita dalam mempertahankan hak atau membela kaum lemah. Meskipun Islam telah mengatur posisi lelaki dan wanita secara berbeda, bukan berarti wanita hanya tinggal diam di dalam rumahnya menyaksikan haknya dirampas atau membiarkan penindasan terjadi di sekelilingnya, karena secara potensi, lelaki dan wanita memiliki kekuatan untuk melawan dan mempertahankan hak.

Salah satu konsekuensi dalam meyakini ajaran Rasulullah dan mengamalkan kitab suci Al-Quran dalam keseharian adalah kecintaan pada orang lain, sebagaimana yang dilakukan oleh Fatimah Az-Zahra. Orang-orang yang hanya fokus pada ibadah individual (salat, puasa, zakat, dll) dan mengabaikan ibadah sosialnya, atau menjalankan ibadah sosial dan mengabaikan ibadah individual, bagaikan burung yang hanya memiliki satu sayap. Orang-orang yang hanya menjalankan salah satu dari kedua ibadah tersebut akan sulit untuk meraih kesempurnaan sebagai seorang hamba, karena pada hakikatnya ibadah sosial dan ibadah individual harus berjalan berdampingan.

Oleh sebab itu, pecinta Rasulullah SAW harus senantiasa berusaha menyelaraskan ibadah individu dengan ibadah sosial, serta menaruh perhatian besar kepada orang-orang di sekitarnya dan berusaha semaksimal mungkin untuk tidak menyakiti mereka, karena tuhan tidak akan mengampuni dosa yang bersumber dari kesalahan terhadap orang lain sebelum orang tersebut (yang dizalimi) memberi maafnya. (MH/FH)

 

 

Berikan Tanggapan Anda

komentar untuk artikel ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.