7 Nasihat Rasulullah SAW untuk Para Suami

Sumber: keluargabahagia.info
Sumber: keluargabahagia.info
  1. Memberikan Mas Kawin

Islaminesia.com—Rasulullah SAW bersabda, “Pria yang tidak memberikan mas kawin kepada istrinya, dianggap sebagai pezina di sisi Allah. Di hari kiamat, Allah berfirman, ‘Wahai hamba-Ku, Aku telah menikahkan sahaya wanitaku denganmu, tapi kau tidak menunaikan janjimu dan menzalimu istrimu.’ Amal baik orang itu lalu diambil dan diserahkan kepada istrinya sesuai haknya. Jika orang itu tidak memiliki amal baik, dia akan dilemparkan ke neraka karena telah mengingkari janjinya.” (Bihar al-Anwar 73/33; Man La Yahdhuruhu al-Faqih 4/13)

“Barangsiapa yang menzalimi istrinya hingga ia berkata, ‘Tak usah kau berikan maharku agar jiwaku bebas,’ maka Allah tak akan rida dengan azab yang kurang pedih dari api neraka.” (Bihar al-Anwar 74/365; Mustadrak al-Wasail 15/380)

  1. Menjaga Kesucian

Rasulullah SAW melarang para suami berbicara dengan wanita non muhrim jika tidak ada hal darurat. Hal ini demi menjaga keharmonisan rumah tangga.

Rasulullah SAW bersabda, “Pria yang bergurau dengan wanita non muhrim, akan dikurung seribu tahun oleh Allah untuk setiap kata yang diucapkannya.”

Beliau juga bersabda, “Ketahuilah, bahwa tiap kali seorang pria berduaan dengan wanita non muhrim, maka orang ketiga di tengah mereka adalah setan.”

Beliau menghimbau para suami untuk menjaga kesucian agar para isteri mereka melakukan hal serupa. (Al-Jami’ al-Shaghir 2/156; Kanz al-‘Ummal 5/317; al-Mu’jam al Ausath 6/241; Majma’ al-Zawaid 8/81)

  1. Menghormati dan Menyayangi Istri

Kepada kaum laki-laki, Nabi SAW berpesan, “Siapa pun yang mengambil istri, ia harus menghormatinya.” (Sunan Abu Dawud 2/214)

Nabi SAW memustahabkan mencintai istri dan menyatakan cinta ini kepada mereka. Beliau bersabda, “Ketika seorang suami berkata kepada istrinya, ‘aku mencintaimu’, sang istri tak akan pernah melupakannya.” (Ushul alKafi 5/569)

“Tiap kali iman seorang hamba bertambah, ia akan semakin mencintai istrinya.” (Bihar alAnwar 100/228; Da’aim alIslam 2/192; al-Nawadir/114)

“Takutlah kepada Allah terkait para istri. Mereka ibarat tawanan di tangan kalian. Kalian telah mengambil mereka sebagai amanat dari Allah. Mereka memiliki hak atas kalian, sebab tubuh mereka telah dihalalkan untuk kalian manfaatkan. Mereka mengandung anak-anak kalian dalam perut mereka sampai saat melahirkan tiba. Sebab itu, sayangilah mereka agar mereka mendampingi kalian. Jangan rendahkan dan memarahi mereka. Jangan ambil kembali apa yang telah kalian berikan kepada mereka tanpa seizin mereka.” (Mustadrak alWasail 14/252)

“Barangsiapa yang menyakiti istrinya dengan ucapannya, maka Allah tidak akan menerima infak, salat mustahab, dan amal baiknya sampai ia menggembirakan istrinya. Jika dia orang yang berpuasa di siang hari, beribadah di malam hari, dan memerdekakan budak, (tetap saja) dia orang yang pertama kali masuk neraka.” (Bihar al-Anwar 73/334; Tsawab al-A’mal/284)

“Yang terbaik di antara kalian adalah yang menjadi suami terbaik bagi istrinya. Dan aku adalah yang paling baik bagi keluargaku di antara kalian.” (Sunan Ibnu Majah 1/636; Sunan Turmudzi 5/369; ‘Awail al-Laali 1/270; Man La Yahdhuruhu al-Faqih 3/443)

Beliau SAW memustahabkan mencintai istri dan memaklumi kesalahan mereka (Mustadrak alWasail 14/252)

Beliau bersabda, “Jibril begitu sering berwasiat tentang wanita kepadaku, sampai aku menyangka mereka tak boleh diceraikan.” (‘Awail al-Laali 1/254)

  1. Larangan Memukul Istri

Nabi SAW bersabda, “Siapa pun yang menampar istrinya, di hari kiamat kelak Allah akan menyuruh penjaga neraka menamparnya dengan tujuh puluh tamparan api neraka.” (Mustadrak alWasail 14/250)

“Jangan pukul istri-istri kalian dengan kayu, karena itu ada qishash-nya.” (Mustadrak Safinah alBihar 10/47)

  1. Memenuhi Kebutuhan Biologis Istri

Beliau SAW menganggap mustahab berhubungan badan dengan istri pada saat ia menginginkannya.” (Bihar alAnwar 74/109)

Ketika Abu Dzar menanyakan masalah ini kepada Rasulullah SAW, beliau bersabda, “Gaulilah istrimu agar kau mendapat pahala.” Abu Dzar heran dan bertanya, “Wahai Rasulullah! Apakah aku bisa memperoleh pahala dengan menggauli istriku?” Beliau menjawab dengan logis, “Jika kau dihukum ketika melakukannya dengan cara haram, maka kau akan mendapat pahala saat melakukannya dengan cara halal.” (AlMustadrak (Hakim) 2/22; Musnad Ahmad bin Hanbal 6/99)

  1. Mencukupi Kebutuhan Ekonomi

Nabi SAW bersabda, “Terkutuklah orang yang menelantarkan anggota keluarganya. Dosa terbesar di sisi Allah adalah ketika seorang pria tidak menafkahi orang-orang yang dalam tanggungannya.” (Kanz alUmmal 16/284)

Rasul SAW juga bersabda, “Bukan dari golongan kami orang yang berkecukupan, tapi pelit terhadap keluarganya.”

Dalam sebuah riwayat Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada yang masuk surga kecuali tiga orang: …, dan orang yang bersabar meski memiliki tanggungan keluarga yang harus dinafkahi.”

Sayyidina Ali kw bertanya, “Apa arti kesabaran orang tersebut?”

Beliau menjawab, “Yaitu tidak mengungkit-ungkit pengeluaran yang dilakukan untuk keluarga yang dinafkahinya.” (Kanz alUmmal 15/834)

  1. Membantu Pekerjaan Rumah

Nabi SAW berpesan kepada kaum pria, “Bantuan kalian kepada istri-istri kalian dianggap sebagai sedekah.” (Kanz alUmmal 16/408)

Nabi SAW juga bersabda, “Wahai Ali, dengarkan nasihatku. Aku tidak berbicara kecuali yang diperintahkan Allah kepadaku. Barangsiapa yang membantu pekerjaan istrinya di rumah, maka ia akan mendapat pahala satu tahun ibadah sejumlah rambut tubuhnya; satu tahun yang siangnya di isi dengan puasa dan malamnya dengan tahajud.

“Wahai Ali, membantu istri akan menghapus dosa-dosa besar dan memadamkan murka Allah.” (Bihar alAnwar 101/132; Mustadrak alWasail 13/148)

Al-Aswad bin Yazid bertanya kepada Aisyah, “Apa yang biasa dilakukan Nabi SAW di dalam rumah?” Aisyah menjawab, “Beliau biasa membantu pekerjaan istrinya. Bila tiba waktu shalat, beliau pun keluar untuk mengerjakan shalat.” (H.R. Bukhari). (II/FH)

 

Berikan Tanggapan Anda

komentar untuk artikel ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.