Wahai Kaum Muda, Bangkitlah!

pemuda bangkitlahIslaminesia.com—Setiap tahunnya, 28 Oktober dijadikan sebagai hari Sumpah Pemuda. Hari peringatan Sumpah Pemuda tentu tidak terlepas dari kontroversi, sama halnya saat 21 April diperingati sebagai Hari Kartini atau peringatan nasional lainnya. Banyak pihak yang mempertanyakan ada tidaknya momentum tertentu di tanggal tersebut di tahun 1928 yang menandakan ada sumpah nyata dari para pemuda daerah mengaku bertanah Indonesia, berbangsa Indonesia, dan berbahasa satu, yaitu bahasa Indonesia, hari ini tetap menjadi penting. Bahkan ditengarai bahwa Sumpah Pemuda hanyalah sebuah jargon untuk “memasarkan” sebuah pertemuan para pemuda hari itu. Untuk hal ini, sewajarnya kita kembali menelisik sejarah bangsa dari berbagai perspektif.

Terlepas dari kontroversi yang mengekor di belakangnya, hari ini seharusnya tetaplah dianggap penting. Paling tidak, untuk mereka yang mengaku dirinya sebagai pemuda. Mengapa? Karena hadirnya peringatan ini, menandakan negara mengakui eksistensi dan peran penting pemuda dalam peradaban manusia, dan secara khusus bagi kemerdekaan dan perkembangan Indonesia. Lalu apakah benar, pemuda telah banyak berkontribusi di sepanjang perjalanan sejarah manusia? Mari kita tengok beberapa nama orang-orang yang di usia mudanya telah banyak melakukan sesuatu atas nama kebenaran dan kemanusiaan.

Nabi Muhammad SAW yang disebut oleh Michael H. Hart (1978) sebagai manusia paling berpengaruh di dunia telah memulai kiprahnya di masyarakat sejak usia muda. Tidak ada satu orang pun yang meragukan kejujuran dan kearifannya dalam melihat sebuah permasalahan, sebut saja saat peletakan batu Hajar Aswad. Di usia mudanya, beliau telah dipercaya oleh kaumnya untuk mengambil keputusan kelompok sipa yang layak meletakkan Hajar Aswad kembali di sisi Ka’bah.

Banyak tokoh muslim lainnya yang mengikuti jejak manusia teladan sepanjang masa dan memilih berbuat sesuatu sejak usia mudanya, seperti Ali bin Abi Thalib, Ja’far bin Abi Thalib, Usman bin Zaid dan masih banyak lagi yang lain. Bagi mereka, usia muda adalah waktu terbaik untuk berbuat banyak kepada orang lain demi agama dan kemanusiaan. Tidak ada alasan menghabiskan usia muda untuk bersenang-senang dan hidup dalam gemerlap dunia.

Berbicara dalam konteks ke-Indonesia-an, tentu saja pemuda memberi warna tersendiri. Semaun di usianya yang masih sangat muda telah berhasil menjadi pimpinan tertinggi Sarekat Islam kala itu. Semaun adalah pemuda dengan penuh semangat melawan imperialisme dan berpihak kepada masyarakat lemah.

Tidak ada yang tidak mengetahui peristiwa Rengasdengklok, dimana terjadi “penculikan” kaum tua (Soekarno, Hatta, dan kawan-kawan) oleh kaum muda (Soekarni, Wikana, dan beberapa orang lainnya) demi mempercepat kemerdekaan Republik Indonesia. Andai peristiwa tersebut tidak terjadi, dapat dikatakan kemerdekaan yang dinikmati hari ini hanyalah sebagai bentuk kado indah dari Jepang.

Lalu apa yang harus dilakukan pemuda Indonesia masa kini untuk mewarnai zamannya, agar eksistensinya tetap diakui?

Masih relevankah mengangkat bambu runcing melawan kolonial, seperti di masa penjajahan? Mungkin pemuda hanya menjadi bahan lelucon, jika melakukan hal tersebut hari ini.

Para kaum muda bisa menjadi manusia muda kebanyakan dengan mempertontonkan ke-alay-annya. Mungkin pemuda model ini hanya akan berakhir menjadi boyband atau girlband atau sekedar menjadi penggembira yang tidak begitu diharapkan kemunculannya.

Para kaum muda juga bisa menjadi seseorang dengan kesibukan mengejar kehidupan pribadinya. Kaum muda macam ini hanya akan melakukan sesuatu, jika sesuatu tersebut memiliki pengaruh besar dan positif dalam hidupnya sendiri. Harta dan ilmu hanya menjadi alat untuk mencapai popularitas. Kaum muda semacam ini mungkin tidak layak untuk menjadi orang penting di negeri ini, karena tidak akan ada orang yang peduli dengan penderitaan dan kemiskinan orang lain. Hidupmu adalah hidupmu, hidupku adalah hidupku. Uangku untuk hidupku, bukan untuk hidupmu.

Mungkin gaya ini lebih berguna, meski berat dan begitu terjal rintangan yang akan dihadapi. Kaum muda bisa menjadi agen pembaharu, layaknya tokoh-tokoh berpengaruh di masanya masing-masing. Meniru semangat Che Guevara dalam melakukan pembaharuan di Kuba, misalnya. Dengan kemampuan dan pengetahuan yang dimiliki melakukan hal-hal kecil untuk lingkungan sekitar, atas nama kemanusiaan tentunya. Kaum muda seperti ini menjadi idaman setiap peradaban dengan kemampuannya menjadi problem solver.

Selemah-lemahnya usaha dan iman, jika tidak mampu menjadi pemuda yang berguna bagi nusa dan bangsa. Paling tidak, pemuda hari ini tidak memilih menjadi pemuda yang beringas, pemuda yang mengingkari perbedaan sebagai nilai kemanusiaan. Pemuda jenis ini dengan pengetahuan agama yang apa adanya sibuk menjatuhkan orang yang memiliki keyakinan berbeda dengannya. Bahkan dengan gadget yang dimilikinya hanya digunakan untuk membagi berita aneh dari situs penebar kebencian. Memiliki mimpi besar untuk berjihad demi bertemu bidadari-bidadari surga.

Namun, semua kembali ke pribadi masing-masing. Mau menjadikan usia muda lebih berguna hanya untuk diri sendiri, demi popularitas, berguna untuk kemanusiaan, atau menikmati usia muda dengan penuh kedengkian.

Semua terserah anda, wahai kaum muda.

Silahkan pilih mana suka.

Bangkitlah! 

Berikan Tanggapan Anda

komentar untuk artikel ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.