Penuturan Pastor Selama Menjadi Tawanan ISIS

1Islaminesia.com – Jack Murad seorang pastor di suriah sulit percaya dirinya masih bisa menghirup udara bebas setelah menjadi tawanan kelompok radikal yang menamakan dirinya Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).

Ia bersama asistennya yang bekerja di biara kota al-Qaryatain pada Mei lalu, yang dibawa dengan kendaraan menuju kamp ISIS di Raqqa dan ditempatkan bersama tawanan lainnya.

Ia menuturkan bahwa berbagai hal sulit dilalui selama menjadi tawanan ISIS, terlebih gelombang pelecehan verbal dari para milisi ISIS yang menyebut tawanan sebagai orang kafir.

Murad juga menceritakan, berkali-kali para milisi ISIS mencoba mengajaknya diskusi tetang konsep trinitas dalam kristen. Namun ia mengatakan “Saya tak menjawab diskusi ini karena menurut saya tak ada gunanya” dikutip dari bbc.com.

Para tawanan berkali-kali di teror dengan ancaman eksekusi apabila mereka tidak memeluk Islam, ia tetap kukuh untuk tidak berpindah ke Islam dan menyatakan siap untuk di eksekusi.

Setelah 84 hari ditawan, sejumlah petinggi ISIS menemui Murad dan menawarkan kesepakatan bahwa pemeluk Kristen bisa menetap di wilayah kekuasaan ISIS asal membayar pajak kepada ISIS.

Kesepakatan inilah yang membuat radikal ISIS melepaskan tawanan Kristen dan kembali ke al-Qaryatain.

Murad sendiri memutuskan meninggalkan kota asalnya karena alasan keamanan, walau tidak sedikit dari mereka memutuskan untuk menetap. (II/TF)

Berikan Tanggapan Anda

komentar untuk artikel ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.