Mengapa Poligami Dibolehkan Bagi Pria, Tidak Bagi Wanita?

Sumber: butterflyslife.wordpress.com

Sumber: butterflyslife.wordpress.com

Islaminesia.com -Al-Quran membenarkan adanya poligami atau beristri lebih dari satu. Poligami adalah jenis lain dari beberapa kemitraan. Islam tidak menghapus sama sekali poligami, tetapi melakukan demikian terhadap poliandri. Melihat keadaan lingkungan yang sangat varian sebelum adanya Islam dengan poligami pada masa itu, dan tidak terbatas serta merupakan hal lumrah di kalangan masyarakat. Sebagai gantinya Islam membatasinya. Islam menghapus kondisi poligami yang tidak terbatas.

Undang-undang dalam Islam didasarkan atas kebutuhan riil manusia, bukan berdasarkan desakan lahiriah saja. Sehingga masalah poligami mendapat perhatian khusus dalam Islam. Adapun beberapa alasan logis terkait poligami dalam Islam bahwa. Pertama, adanya fase atau periode bulanan perempuan (menstruasi) menyebabkan ketidakmampuan untuk melakukan hubungan seksual, serta keterbatasan usia perempuan dalam melahirkan dan mempunyai anak (hari-hari nifas), menyebabkan ketidaksatabilan pada kondisi perempuan. Kecendrungan seksual  laki-laki dan tidak adanya kesangggupan para istri untuk memenuhi kebutuhan suaminya, maka suami terpaksa menyerah dan melakukan pernikahan kedua. Artinya kejadian menopause merupakan salah satu penyebab poligami. Kedua, tahun-tahun reproduktif seorang perempuan kontras dengan laki-laki, sifatnya yang cenderung untuk tidak menceraikan istri pertamanya, merupakan penyebab, begitu pula dengan kemandulan istri menjadi sebab untuk menikah lagi.

Ketiga, faktor ekonomi juga merupakan salah satu dari penyebab poligami. Zaman dahulu kontras dengan zaman sekarang, di mana memiliki banyak istri dan anak memberikan keuntungan ekonomi bagi laki-laki. “Wa banina syuhudan” (QS.Mudassir: 13).  Di mana laki-laki menjadikan anak dan istri sebagai budak mereka dan terkadang anak-anaknya diperjualbelikan.

Keempat, faktor kuantitas dan suku. Kepentingan untuk punya banyak anak demi jumlah anggota keluarga itu sendiri, kecintaan atau kesenangan akan banyaknya anak serta memperluas hubungan kekeluargaan. Hal tersebut tergambar dalam surah al-Kahfi: 46 dan al-Imran: 14. Ayat ini mengisyaratkan bahwa harta dan anak adalah bagian dari perhiasan dunia. Oleh karena itu, jumlah anak yang dimiliki laki-laki tergantung seberapa jumlah perempuan yang dinikahinya. Bisa saja untuk menurunkan ribuan anak melalui ratusan istri. Sebagaimana diketahui bahwa zaman dahulu jumlah dan suku adalah faktor sosial penting dan kebanggaan masyarakat adalah banyaknya jumlah orang dalam suatu kabilah mereka. Kelima, jumlah perempuan lebih banyak dari laki-laki menyebabkan jumlah perempuan yang siap dinikahi lebih banyak dari laki-laki. Demikian juga laki-laki banyak mengalami kecelakaan dan kematian  apakah karena dimensi kerja atau sosial, seperti keharusan berperang, berburu, berlayar dan beberapa profesi lainnya yang membahayakan jiwa. Oleh karena itu, adanya poligami muncul untuk mengatasi masalah sosial kemasyarakatan, bukan tabiat asli laki-laki yang mengatakan bahwa demikianlah penciptaan laki-laki, bahwa laki-laki adalah pengkhianat, dsb. Jelas bahwa jika dalam masyarakat sosial  tidak ada masalah bertambahnya jumlah perempuan yang membutuhkan laki-laki maka poligami akan berkurang atau menghilang.

Ahli sejarah terkenal asal Prancis Gustave Lebon, menganggap hukum poligami Islam yang bersyarat dan terbatas, merupakan salah satu keistimewaan agama ini. Ketika ia mengkomparasikannya dengan hubungan bebas dan ilegal oleh beberapa pria dan wanita di negara Barat. Namun, tentu saja tidak bisa dipungkiri bahwa ada sebagian muslimin berpikir dangkal akan hakikat hukum Islam ini.

Sebagian bertanya bahwa alasan-alasan di atas banyak berkaitan dengan kaum wanita. Lalu apakah dalam keadaan ini, terdapat izin baginya untuk melakukan poliandri (bersuami banyak)?

Mengenai poligami yang dibenarkan dalam Islam, poliandri malah sebaliknya. Karena ditinjau dari berbagai aspek, poligami yang memenuhi syarat keadilan, tidak menimbulkan problem sosial. Sementara apabila poliandri akan muncul begitu banyak masalah. Masalah yang paling sederhana adalah tidak diketahuinya nasab anak, ke suami manakah akan bersambung. Tentu saja anak yang dilahirkan dalam keadaan ini tidak akan mendapatkan kepedulian sedikit pun dari suami dan kecintaan sedikit dari ibunya. Poliandri juga tidak sesuai dengan desain alam natural bagi laki-laki dan perempuan. Atas pertimbangan ini, poliandri tidak akan pernah didukung oleh alasan logis. Adapun poligami bagi pria dengan memerhatikan terpenuhinya syarat-syarat sahnya poligami, memiliki dasar logis untuk dilaksanakan.

Syarat-syarat atau batasan poligami, yang ditetapkan dalam Islam bukan tidak berdasar. Adanya poligami berkurun-kurun waktu sebelum datangnya Islam, menjadi tradisi tidak serta–merta dihapuskan setelah Islam datang. Hal ini bahkan dijadikan untuk menyelesaikan masalah sosial kemasyarakatan, dan pada saat bersamaan menetapkan syarat-syarat yang ketat untuk poligami. Syarat maksimal telah ditentukan bagi laki-laki dan dizinkan untuk berpoligami adalah tidak lebih dari empat istri. Atau dalam riwayat dikatakan bahwa seorang majusi ketika memeluk Islam, menghampiri Imam Ja’far Shadiq dan bertanya “apa tugas dan kewajiban karena aku memiliki tujuh istri?” Imam menjawab, “bebaskanlah tiga orang itu”. Sebagaimana dalam QS an-Nisa: 3, apabila tidak mampu memenuhi syarat keadilan dan melakukan pengasingan terhadap istri-istri lainnya, maka nikahilah satu orang saja. Maka kapan saja laki-lai memenuhi syarat keadilan dalam semua aspek, maka bisa melakukan poligami. Pada prinsipnya melakukan poligami tidak seharusnya dilakukan atas dasar hawa nafsu dan pemenuhan kebutuhan seksual saja. (FJR/JN)

Berikan Tanggapan Anda

komentar untuk artikel ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.