Warisan Perempuan dalam Islam

Sumber: log.viva.co.id

Sumber: log.viva.co.id

Islaminesia.com -Perempuan dan laki-laki menurut pandangan Islam memiliki hak-hak yang sama diantaranya dalam bekerja, memperoleh harta kepemilikan, serta sama dalam dasar pewarisan. Maka berkaitan dengan hak waris, Islam juga telah mengatur secara bijak dan memberikan independensi kepada perempuan sebagai orang yang memiliki hak. Al-quran surah An-Nisa : 7 “Bagi laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan kedua orang tua dan kerabatnya dan bagi perempuan ada hak bagian (pula) dari harta peninggalan kedua orang tua dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bagian yang telah ditetapkan.”

Asbabun nuzulnya ayat ini adalah seorang penyair terkenal dalam Islam, telah meninggal dunia bernama Abdul Rahman Tsabit Anshari beliau meninggalkan seorang istri dan 3 anak perempuan. Saudara laki-lakinya bernama Suwaid dan Arfajah datang dan membawa serta semua harta almarhum tanpa meninggalkan dan memberikan sedikitpun kepada istri dan anak-anak Tsabit. Sang istri kemudian menceritakan peristiwa tersebut kepada Nabi. Rasulullah SAW bersabda, “Kembalilah engkau ke rumahmu sampai kita tunggu apa yang akan diperintahkan oleh Allah. Setelah itu, ayat di atas turun dan menunjukkan bahwa laki-laki dan perempuan keduanya berhak mendapat warisan.”

Mungkin kebanyakan dari kita berpikir bahwa ketika orang dahulu meninggal, lebih baik harta mereka serahkan di Baitul Mal. Namun, pikiran tersebut masih jauh dari konsep keadilan dalam Islam. Seperti halnya ayah dan ibu, ada sebagian diwariskan kepadaa kita dari sifat-sifat jasmani dan ruhaniyahnya kepada generasi-generasinya. Mengapa harta mereka harus dikecualikan dari aturan ini? Oleh karena itu, dalam Islam jalan yang paling adil adalah ketika kita manusia akan meninggal, harta-harta mereka diserahkan kepada orang-orang yang paling dekat dengannya.

Dengan adanya warisan, maka manusia akan memiliki modal yang cukup untuk kehidupannya sendiri hingga akhir hayatnya. Hal ini juga tidak membuat manusia berlepas tangan dari berusaha dan bekerja untuk meningkatkan produksi serta kinerja. Sebab tujuan mereka adalah menyediakan atau menanggung kebutuhan masa depan anak-anaknya. Dengan adanya qanum (aturan) hak waris akan memberikan kontribusi terhadap kehidupan ekonomi manusia pada khususnya,  dan pada umumnya mampu menggerakkan roda-roda perekonomian suatu negara.

Keberadaan hak waris ini adalah sama antara laki-laki dan perempuan. Keduanya akan mendapat warisan dari harta halal peninggalan apakah itu banyak atau sedikit. Untuk legitimasi mengenai hak waris keduanya adalah ayat dalam Q.S Annisa ayat 7 tersebut.

Syubhat yang hari ini telah terjadi terkait hak waris yaitu mengapa saham warisan laki-laki lebih banyak dari perempuan?Apakah hal ini termasuk penghinaan dan merendahkan perempuan? Ataukah ada filosofi dan hikmah dari perbedaan ini? berikut penjelasannya.

Q.S Annisa :11 menjelaskan tentang warisan laki-laki dua kali lipat dari warisan perempuan. Jika ditelaah lebih jauh, ketentuan tersebut bukanlah hal yang merugikan apalagi menghina perempuan. Tapi dengan sedikit berfikir dan ketelitian, maka akan jelas bahwa dari sisi lain warisan perempuan lebih banyak dari laki-laki. Ini dikarenakan perlindungan dan keberpihakan Islam terhadap perempuan. Adalah tanggung jawab lebih banyak diletakkan kepada laki-laki, dengan memperhatikan bahwa setengah dari pendapatan laki-laki akan dikeluarkan untuk perempuan. Sementara, perempuan dalam hal ini tidak diberikan tanggungjawab untuk mengeluarkan hartanya bagi pihak lain. Lain halnya dengan laki-laki, harus memberikan dan mengeluarkan biaya hidup untuk istri dan anak-anaknya sesuai  dengan kebutuhan mereka. Keperluan rumah tangga yang dimaksud adalah sandang, pangan, dan papan. Oleh karena itu, istri dapat menabung jatah warisannya. Terkadang seorang perempuan mampu melakukan haji dengan hasil warisan yang dia peroleh, dan wajib baginya melakukan ibadah haji apabila pendahuluan-pendahuluan sudah terpenuhi. Sedangkan suami selagi dia mempunyai utang dan kesusahan, maka dia tidak dianjurkan untuk melakukan haji dengan warisan tersebut.

Dalam kitab Ma’ani Al-Akhbar dinukil dari Sayyid Ali Ridha berkaitan dengan warisan tersebut, beliau berkata : saham warisan perempuan adalah separuh dari saham laki-laki dikarenakan bahwa ketika perempuan akan menikah, dia mendapatkan sesuatu berupa “mahar”. Dalam ayat Q.S  Annisa ayat 11 “lidzadzakari mitslu hadzdzin al untsayaain” yang ditafisrkan bahwa perempuanlah yang pertama membawa atau ditetapkan untuk mendapatkan warisan, kemudian warisan laki-laki diperkenalkan dua kali lipat dari warisan perempuan.

Fakta bahwa seorang perempuan mendaptkan sebahagian dari porsi warisan laki-laki disebabkan oleh situasi khusus yaitu, perempuan berhak memperoleh mahar dan nafkah. Dengan kata lain, posisi pewarisan istimewa perempuan dibangun atas posisi khusus yang ditempatinya berkenaan dengan mahar dan nafkah.

Islam mengakui mahar dan nafkah sebagai sebuah faktor penting dalam hubungan interaksi timbal balik suami istri, demi manjaga dan melindungi ketenangan dan kedamaian rumah tangga, memperkuat persatuan antara suami istri,  maka asumsi adanya penghapusan atas mahar dan nafkah akan menggoncangkan pondasi rumah tangga. Islam memandang mahar dan nafkah suatu kewajiban di sisi seorang suami, istri dibebaskan dari tugas menyiapkan anggaran rumah tangga dan keluarganya serta tanggungjawab diserahkan kepada suami. Islam menghendaki tanggungjawab ini mendapatkan balasan dengan kompensasi melalui sistem pewarisan. Oleh karena itu, adanya mahar dan nafkah mengurangi porsi warisan perempuan dan memberikan laki-laki porsi lebih banyak dari perempuan. (FJR/JN)

Berikan Tanggapan Anda

komentar untuk artikel ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.