Sudahkah Kita Mengingat Kematian?

Sumber: nambahiman.blogspot.com

Sumber: nambahiman.blogspot.com

Islaminesia.com -Ihwal datangnya kematian tak seorang pun manusia mampu mengetahuinya. Apakah kedatangannya kepada kita di waktu sakit, sehat, tua, muda, hari ini ataukah esok? Intinya, cepat atau lambat kematian akan menjemput seseorang, dia akan di letakkan dalam kubur, dan anggota tubuhnya akan berubah menjadi tanah. Hubungan-hubungan dengan harta, keluarga dan dunia akan terputus. Lambat laun manusia yang telah meninggal akan terlupakan. Namun, bagi mereka yang telah meninggal, akan tetap bertanggung jawab terhadap apa yang telah diperbuat sebelumnya di dunia.

Seseorang sering kali menyibukkan dirinya hanya dalam urusan-urusan duniawi dan mengabaikan kematian atau kehidupan abadi.  Sehingga, mudah untuk terlibat dalam segala jenis dosa dan kejahatan serta menyerah pada godaan-godaan setan, hawa nafsu dan angan-angan. Faktor paling signifikan untuk menghindarkan diri dari hal tersebut adalah mengingat kematian, tentang ketidakstabilan dunia ini, dan peristiwa-peristiwa yang akan dihadapi di alam selanjutnya.

Sebab-sebab inilah ditekankan dalam hadis-hadis Islam untuk senantiasa mengingat kematian. Rasulullah SAW bersabda, “Zuhud yang paling utama di dunia ini adalah mengingat kematian. Ibadah yang paling utama adalah mengingat kematian. Dan kontemplasi yang paling utama adalah mengingat kematian. Karenanya siapa pun yang banyak mengingat kematian dia akan mendapati kuburnya sebagai taman dari taman-taman surga.”

Ja’far Shadiq berkata, “Mengingat kematian dapat mematikan keinginan-keinginan manusia, memutuskan sumber-sumber kelalaian, menguatkan hati manusia untuk berpegang teguh pada janji-janji Allah, melembutkan tempramen, memadamkan api keserakahan, dan melukiskan dunia sebagai hina dan tak bernilai.” Juga diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib “Hendaklah kalian memperbanyak mengingat kematian, mengingat hari ketika kalian dibangkitkan dari kubur, dan hari ketika kalian berdiri di hadapan Allah, dengan mengingat itu semua akan membuat bencana-bencana dunia kalian menjadi ringan di mata kalian.”

Rasulullah SAW ditanya “Wahai Rasulullah! Siapakah orang yang paling cerdas dan paling mulia?” Beliau menjawab, “Yaitu orang-orang yang paling banyak mengingat kematian dan paling bersiap menghadapinya. Mereka itulah orang-orang yang paling cerdas, mereka meraih keduanya, kemuliaan dunia dan kehormatan akhirat.”

Terdapat dua kelompok manusia dalam mengingat kematian. Pertama, kelompok yang sama sekali tidak mengingat kematian dan inilah orang-orang yang tidak percaya dengan kehidupan akhirat, dan mereka yang perilakunya di dunia tidak terpuji. Padahal mereka mengetahui bahwa dengan kematian, mereka akan kehilangan apa yang telah dimiliki. Kedua, kelompok orang-orang yang tidak takut kematian. Inilah orang–orang yang percaya pada kehidupan akhirat dan nikmat-nikmatnya, yang telah melakukan urusan-urusan mereka sesuai dengan perintah-perintah Allah. Ali bin Abi Thalib berkata, ”Hadiah yang paling utama bagi seorang mukmin adalah kematian.”

Ja’far Shadiq berkata, “Dalam kematian ada keselamatan bagi orang-orang yang ikhlas dan kehancuran bagi para pendosa. Karena alasan inilah, sebagian orang merindukan kematian dan sebagian lainnya membenci kematian.” Rasulullah SAW bersabda, ”Barangsiapa yang mencintai pertemuan dengan Allah, maka Allah pun mencintai pertemuan dengannya, dan barangsiapa yang membenci pertemuan dengan Allah, maka Allah pun membenci pertemuan dengannya.”

Sekalipun seorang manusia mungkin mengingat kematian, namun boleh jadi dia tidak serius, dan tidak merasa yakin. Dalam hal ini, mengingat kematian seperti itu tidak akan mengandung pelajaran. Kenyataan ini terkait dengan orang-orang yang pendosa yang secara verbal mengingat kematian, namun secara batin mereka tidak siap untuk meghadapai kematian. Karena itu, Ali bin Abi Thalib menganjurkan untuk melembutkan hati dengan mengingat kematian. Juga menekankan bahwa hendaknya kita meyakini bahwa dunia ini tidak abadi, hanya sementara. Keyakinan seperti ini akan membuat manusia siap menghadapi perjalanan menuju akhirat. Bagaimana mungkin seorang manusia mempercayai kematian dan perhitungan amalnya di hari kiamat, tetapi pada saat yang sama dia bergembira?

Ali bin Abi Thalib berkata, “Aku heran terhadap orang yang meyakini adanya kematian, bagaimana mungkin ia bisa tertawa; aku heran terhadap orang yang meyakini perhitungan amalan, bagaimana mungkin dia bergembira.” (II/JN)

Berikan Tanggapan Anda

komentar untuk artikel ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.