Status Manusiawi Perempuan dalam Al-Quran

Sumber : jamil21.blogspot.com

Sumber : jamil21.blogspot.com

Islaminesia.com -Bagaimana pandangan kita tentang perempuan? Apakah perempuan adalah unsur dosa, keburukan, setan kecil, atau suatu maujud yang lebih rendah dari laki-laki. Apakah perempuan adalah pendahuluan wujudnya laki-laki dan telah tercipta untuk laki-laki? Apakah perempuan suatu bencana yang tidak dapat dihindari dalam kehidupan? dan …. Apakah kita mengetahuinya demikian atau tidak?

Untuk menjawab pertanyaan dan pernyataan tersebut, kita bahas berdasarkan tinjauan dan sudut pandang al-Quran. Sejumlah ayat-ayat berkenaan dengan pembahasan ini, diantaranya terdapat dalam Q.S An-Nisa ayat 1 “Wahai manusia!  Bertaqwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptkan kamu dari diri yang satu (Adam).

Beberapa mitos tentang penciptaan perempuan,  menganggap bahwa perempuan tercipta dari saripati yang lebih rendah dari laki-laki, atau mengatakan bahwa perempuan adalah dimensi kecil serta mengatakan istri Adam tercipta dari tulang rusuk sebelah kiri Adam, semua perkataan tersebut tidak memiliki sandaran dan tidak mendasar.  Laki-laki dan perempuan keduanya mengemban amanah dan menerima perjanjian primordial dengan Tuhan. Sebagaimana dalam surat al-A’raf: 172 “Dan ingatlah, ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian mereka….”. Sejak awal sejarah manusia dalam Islam tidak mengenal adanya diskriminasi jenis kelamin. Syeikh Ja’far Shadiq  berkata, “Tuhan menciptkan Hawa setelah Adam dalam bentuk kelahiran yang baru.” Surat al-Baqarah: 35 disebutkan, keduanya diciptakan di surga dan memanfaatkan fasilitas surga. Demikian juga al-Quran menolak dengan tegas perkataan bahwa perempuan adalah setan atau ular yang menipu Adam. Berkaitan dengan keadaan Adam dan pasangannya di surga sampai keluar ke bumi, al-Quran selalu menekankan kedua belah pihak secara aktif terlibat, yang merujuk kepada Adam dan Hawa. Keduanya mendapat kualitas godaan yang sama dari syaitan, seperti yang disebutkan dalam surat al- A’raf: 20 “Maka syaitan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka….” Adapun dalam ayat tersebut, al-Quran menggunakan kata dhamir “tasniyah” yang merujuk kepada Adam dan Hawa. “Fawaswasa lahuma asy syaethan” (setan memberi was-was kepada mereka berdua), “Fadallahumaa bi ghuruurin.” (setan menunjukkan tipuan kepada mereka berdua). Penjelasan ini menegaskan bahwa bukan sebab Hawa yang menggoda Adam, melainkan godaan syaitan terhadap keduanya. Mereka sama-sama memakan buah khuldi dan keduanya menerima akibat turun ke bumi, mereka bersama-sama memohon ampunan dan diampuni Tuhan.

Ada juga pandangan bahwa perempuan telah diciptakan untuk laki-laki. Dalam tinjauan al-Quran hal ini tertolak. Al-Quran tidak pernah berkata bahwa perempuan telah tercipta untuk laki-laki, melainkan berkata “Setiap perempuan dan laki-laki telah diciptakan untuk satu sama lainnya.” Surat al-Baqarah ayat 187 berbunyi “… Mereka adalah pakaian bagimu dan kamu adalah pakaian bagi mereka…”. Al-Quran tidak mengatakan bahwa perempuan hanya bala dan tidak dapat dihindari. Bahkan al-Quran berkata bahwa perempuan adalah sumber ketenangan hati, yang ditegaskan dalam Q.S Al-A’raf ayat 189 “Dialah yang menciptakan dari jiwa yang satu (Adam) dan dari padanya Dia menciptakan pasangannya agar dia merasa senang kepadanya….”

Terkadang dijumpai pernyataan bahwa “akal perempuan lebih sedikit daripada laki-laki atau “akal perempuan adalah naqis. Akan tetapi harus dilihat bahwa apa yang dimaksud dari akal ini? apakah perbedaan akal yang dimaksud adalah akal sosial, dalam artian akal dalam pengaturan masalah politik dan ekonomi? Allamah Thabathaba’i berkata “akal yang ada pada laki-laki lebih banyak dari akal perempuan adalah suatu keutamaan tambahan, bukan ukuran keutamaan sebagai manusia, begitupula rasa kasih sayang dan simpati lebih besar pada perempuan adalah suatu keutamaan tambahan, bukan ukuran kemuliaan.

Adapun poin ini harus dimaknai, bahwa al-Quran menegaskan tidak ada perbedaan akal pada laki-laki dan perempuan, bahkan sama. Ibaratnya seperti sekumpulan pengetahuan dan tugas manusia. Dalam hal ini, dikategorikan bahwa orang yang tidak mengetahuinya dengan benar disebut tidak berakal dan yang mengetahuinya disebut alim (yang berilmu), tetapi jika ilmunya tidak diamalkan dia juga tergolong orang tidak berakal. Adapun orang yang mengetahui dan disamping itu juga mengamalkannya, maka dia disebut akil (orang yang berakal). Terkait pengategorian ini, perempuan maupun laki-laki memiliki potensi yang sama. Sebagaimana dahulu dalam sejarah dapat ditemukan sejumlah perempuan-perempuan yang juga memiliki keutamaan.

Bagaimana tentang adanya riwayat mengenai pernyataan cinta kepada perempuan, dan adapula riwayat lain yang mencaci perempuan. Dalam hal ini apakah dapat mencintai seseorang yang telah dicaci dan dihina?

Adalah shahih riwayat tentang menyatakan mahabbah kepada perempuan, demikian juga shahih riwayat lain yang mencaci perempuan. Tetapi tafsiran riwayat keduanya berbeda. Menyatakan mahabbah kepada perempuan maksudnya adalah mahabbah kepada seorang perempuan merupakan muhrim dan orang yang paling dekat dengannya, misal anak kepada ibunya, suami kepada istrinya. Riwayat tentang perempuan yang dicaci adalah riwayat dari Ali bin Abi Thalib “Al Ma’ratu aqrabu hulwatu al lasbati”, yang artinya perempuan memangsa laki-laki dan mangsanya itu adalah manis. Pada dasarnya riwayat ini adalah tidak mencaci perempuan, melainkan memberikan peringatan kepada laki-laki bahwa jangan sampai tertipu oleh perempuan non muhrim. Janganlah kalian laki-laki menjerumuskan diri ke dalam api neraka dengan memandang perempuan non muhrim, karena dalam kemanisan tersebut tersembunyi kepahitan. Demikian juga tabir tentang dunia ini, Sayyidina Ali menulis sebuah surat kepada Salman Al Farisi yang berbunyi “Dunia ini seperti ular, warnanya cantik, kulitnya lembut dan lunak, tetapi bisanya adalah mematikan”. Di sisi lain, Sayyidina Ali berkata “Dunia adalah tempat yang sangat baik untuk melaksanakan pekerjaan-pekerjaan baik, setiap orang yang mencapainya maka dia telah mencapai dunia.” Makna singkatnya yaitu “perempuan adalah kalajengking” artinya mereka yang tertipu oleh nafsu birahinya adalah kalajengking, dan manusia tidak akan mungkin ingin menjadi seperti kalajengking. Oleh karena itu, menyatakan cinta kepada perempuan yang bukan muhrim itu sesuatu yang tercela, sebaliknya mahabbah kepada perempuan yang muhrim adalah suatu akhlak terpuji. 

Salah seorang pakar dalam masalah kekeluargaan, dengan halus dia menjelaskan contoh dari hadis yang diriwayatkan Sayyidina Ali tentang perempuan adalah kalajengking. Pakar ini menjelaskan bahwa perempuan membebankan pengeluaran kepada suami untuk membeli baju baru, sepatu, topi, dll, untuk menghias dirinya demi suami, dan suaminya akan menikmati hiasan tersebut. Ibnu Maitsam pensyarah Nahjul Balaghah menyerupakan riwayat Sayyidina Ali seperti saat menggaruk badan yang gatal, di mana ketika sedang menggaruk badan, manusia merasakan kelezatannya. 

Antara laki-laki dan perempuan hakekat keberadaan keduanya dalam kitab suci al-Quran terangkum dengan jelas dan adil, baik dalam konteks tentang asal penciptaan (Q.S al-Imran: 195), konteks hubungan suami-istri (Q.S an-Nisa:21) maupun dalam kegiatan-kegiatan sosial (Q.S at-Taubah: 71).

Oleh karena itu, adanya bias-bias tentang penciptaan perempuan, dan stigma bahwa perempuan bukan manusia itu suatu bentuk pemahaman yang keliru. Beberapa ayat al-Quran dan hadis yang di atas mengisyaratkan konsep spiritual dan profesional tidak dimonopoli oleh satu jenis kelamin saja. Laki-laki dan perempuan sebagai khalifah memperoleh kesempatan mengaktualkan nilai-nilai luhur kemanusiaan, dan sama-sama berpeluang meraih keberuntungan di surga. (FJR/JN)

Berikan Tanggapan Anda

komentar untuk artikel ini

One Response to "Status Manusiawi Perempuan dalam Al-Quran"

  1. sayyid  23 Februari 2017 at 5:26 pm

    Assalamualaikum wr.wb,

    1. Wanita diciptakan dari tulang rusuk laki-laki.

    Surah An-Nisa` dibuka dengan ayat:

    يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً

    “Wahai sekalian manusia, bertakwalah kepada Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dari jiwa yang satu dan dari jiwa yang satu itu Dia menciptakan pasangannya, dan dari keduanya Dia memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak.” (An-Nisa`: 1)

    Allah tidak menginformasikan dengan ayat ini mengenai penciptaan wanita dari tulang rusuk lelaki!

    sebenarnya dalam kitab yahudi tertera bahwa hawa tercipta dari tulang rusuk adam dan bukan itu saja, bahwa hawa lah penyebab terusirnya adam dari surga.

    padahal dalam kitab kita sendiri yaitu alquran tertera bahwa :

    QS. Thaaha (20) : 115

    Dan sesungguhnya telah Kami perintahkan kepada Adam dahulu, maka ia lupa (akan perintah itu), dan tidak Kami dapati padanya kemauan yang kuat.(115)

    Dan mengenai penciptaan hawa memang benar dari adam tetapi tanggapannya dengan ayat ini :
    (2). إِنَّا خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ نُطْفَةٍ أَمْشَاجٍ نَبْتَلِيهِ فَجَعَلْنَاهُ سَمِيعًا بَصِيرًا
    Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat.

    Dengan ayat ini sangatlah jelas bahwa yg melanggar perintah dan larangan juga adam,hawa beserta keturunannya.

    tahukah kalian bahwa yahudi amat suka meremehkan wanita?

    rasulAllah s.a.w pernah bersaba bahwa sedikit demi sedikit kalian akan mengikuti mereka.

    wassalamualaikum wr.wb,

    ustad sayyid

    Balas

Leave a Reply

Your email address will not be published.