Shalat : Relasi Komunikatif antara Tuhan dan Manusia

Sumber: msulham.wordpress.com

Sumber: msulham.wordpress.com

Islaminesia.com -Kehendak Tuhan untuk membuka komunikasi langsung antara Dia dengan manusia menurut al-Qur’an, terwujud dalam bentuk Dia mengirimkan “ayat-ayat Ilahi”. Komunikasi antara Tuhan dan manusia baik yang bersifat verbal maupun nonverbal bukanlah merupakan fenomena yang sepihak, tetapi bersifat timbal balik. Ada dua tipe pengetahuan timbal balik antara Tuhan dan manusia. Pertama, bersifat linguistik atau verbal, yakni melalui penggunaan bahasa yang dipahami oleh kedua pihak, kedua bersifat non-verbal, yaitu melalui penggunaan “tanda-tanda alam” oleh Tuhan, isyarat dan gerakan tubuh oleh manusia. Menurut Toshihiko Izutsu, Insititute of Islamic Studies, McGill University, Montreal, Kanada terkait dengan jenis komunikasi verbal dari Tuhan kepada manusia, adalah tidak lain berupa wahy (wahyu), du’a (doa), percakapan hati manusia dengan Tuhan, menyeru Tuhan untuk meminta karunia dan pertolongan-Nya. Dengan cara yang sama, komunikasi Ilahiah non-verbal di mana Tuhan menurunkan ayat non-verbal-Nya, maka sebagai imbangannya manusia melakukan ibadah dan amalan agama yang disebut shalat.

Sesungguhnya shalat atau ibadah sangat penting dilihat dari berbagai sudut pandang. Salah satunya shalat dipandang sebagai saran komunikasi  non-linguistik dalam arah yang naik, yaitu dari manusia kepada Tuhan. Sebagai ekpresi formal kekaguman manusia yang mendalam terhadap adanya Yang Maha Kuasa. Manusia bukan hanya sekedar menerima perkataan ayat-ayat Allah secara pasif, tetapi didorong dan diperintahkan untuk menyatakan secara aktif dan positif perasaan kekagumannya melalui suatu siklus tindakan jasmani bersama-sama orang lain yang memiliki perasaan yang sama dengannya. “Sungguh Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan selain Aku, Maka sembahlah Aku dan dirikan sholat untuk mengingat Aku.” (QS. Thaha: 14).

Lebih lanjut, Thoshihiko mengemukakan bahwa shalat juga meliputi unsur-unsur verbal, karena di samping gerakan-gerakan tubuh yang telah ditetapkan, membaca kitab suci mengucapkan iman (syahadah), shalawat bagi nabi dan sebagainya merupakan bagian penting dari ibadah. Tetapi harus ditegaskan bahwa unsur-unsur verbal berbeda dengan verbal dalam doa. Dalam shalat kata-kata tersebut dipergunakan secara ritualistik, semua kata dalam shalat mengandung makna ritualistik, sedangkan dalam doa kata-kata dipergunakan terutama untuk menyatakan ungkapan khusus pribadi pada saat tertentu. Yang paling penting adalah seluruh pola ibadah merupakan suatu yang tidak sekedar verbal. Shalat secara keseluruhan merupakan cara komunikasi non-verbal antara manusia dengan Tuhan, ia merupakan cara manusia untuk melakukan hubungan langsung dengan Tuhan melalui bentuk ritual yang telah ditetapkan.

Dalam ritual gerakan shalat, bisa ditemukan isyarat dari simbol-simbol yang terkandung dalam shalat, yaitu makna gerak. Seorang pribadi muslim wajib bergerak, dinamis, karena hidup tidak selamanya qiyam (berdiri diam). Saat harus ruku’ kemudian bersujud. Sebaliknya, ada shalat tanpa gerak, dia berdiri kemudian salam. Itulah shalat mayit. Ini seakan memberikan isyarat bahwa pribadi yang statis, tidak ada kreativitas gerak, sesungguhnya sedang berada dalam kematian. (al-Muthawi’, 2001: 87). Muhammad Iqbal menyebutnya dengan istilah “Static condition means death. Pada hakekatnya dalam melaksanakan gerakan shalat untuk berkomunikasi dengan Tuhan,  semua elemen pada manusia, baik itu panca indera maupun hati mesti dilibatkan. Memelihara shalat berarti memelihara ibadah secara lahiriah dan rohaniah. “Peliharalah semua shalatmu dan shalat wustho, berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) yang khusuk.” (QS. Al-Baqarah: 238).

Memahami kualitas, baik secara lahir maupun batin berarti memahami daya ruhani dalam pikiran dan hati dalam pelaksanaan shalat, sehingga shalat yang ditujukan untuk berkomunikasi kepada Sang Klalik bisa teraktual dengan benar. Komunikasi ini sekaligus sebagai media untuk mengungkapkan rasa syukur atas segala nikmat. Dengan sering berkomunikasi dengan Tuhan, tentang perasaan, pikiran dan perbuatan seorang hamba, maka dalam psikologi dikenal istilah katarsis, secara sederhana artinya tempat mencurahkan segala apa yang terpendam dalam diri, positif maupun negatif. Sehingga akan melahirkan ketentraman dan ketenangan jiwa.

Ketenangan dan ketentraman jiwa manusia membuat seseorang akan cenderung pada perbuatan amal saleh, dan memelihara diri dari perbuatan keji dan mungkar. Hubungan  komunikatif yang dijalin dengan Tuhan dalam setiap shalatnya benar-benar telah memberikan efek terhadap dirinya. Sebagaimana firman Allah “Kerjakanlah shalat, sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan yang keji/jahat dan mungkar.” (QS. Al- Ankabut: 45).

Oleh karena itu, shalat sebagai ibadah ritual menjadi salah satu institusi penting dalam Islam, dan memperoleh tempat yang sangat penting di antara kewajiban-kewajiban agama sebagai ciri khas bagi umat Islam. Puncak tertinggi dalam berkomunikasi dengan Allah SWT melalui shalat. Shalat inilah mi’raj-nya manusia dengan Sang Pencipta. (HNB/JN)

Wallahu A’lam 

Berikan Tanggapan Anda

komentar untuk artikel ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.