Perempuan dan Periode ‘Iddah dalam Islam

Sumber: mozaik.inilah.com

Sumber: mozaik.inilah.com

Islaminesia.com -Surah al-Baqarah: 228 Allah SWT berfirman “Dan wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri dari (menunggu) tiga kali quru’ (suci).

Maka muncul pertanyaan, apakah makna yang terkandung dalam hukum islam berkaitan dengan ayat tersebut?

Adanya ketidakharmonisan rumah tangga yang terjadi di masyarakat merupakan sebuah fakta menyakitkan dan memprihatinkan. Di zaman modern ini, tidak dipungkiri perceraian marak terjadi. Islam sangat menentang keras perceraian, dan ingin agar perceraian sebisa mungkin dihindari. Islam memberikan jalan ini hanya jika tidak ada pilihan lain kecuali melalui perceraian.  

Sheikh Ja’far ash-Shadiq menukil sabda Nabi SAW “… dan tak ada rumah yang lebih patut mendapatkan murka-Nya selain rumah yang di dalamnya ikatan pernikahan mengalami kehancuran akibat perceraian.” Lebih lanjut beliau menjelaskan bahwa dalam al-Qur’an talak (perceraian) disebut berulang-ulang karena Allah adalah musuh perceraian.

Al-Hasan bin al-Fadh dalam Makarim al-Akhlak menukil dari sabda nabi SAW “menikahlah tapi jangan bercerai, karena takhta Allah bergetar ketika ada perceraian.” Islam meletakkan aturan-aturan untuk menghalangi terberainya ikatan suci rumah tangga hingga tahapan akhir yang mungkin untuk dilakukan. Islam merujuk agar tidak terjadi kehancuran ketentraman hubungan keluarga, maka perlu adanya proses mediasi, keluarga yang dianggap cakap dari pihak suami dan istri untuk mewakili dan bisa menciptakan perujukan ditunjuk sebagai mediator. “Dan jika kamu khawatir ada persengketaan antara keduanya, maka kirimkanlah seorang hakam dari keluarga laki-laki dan hakim dari keluarga perempuan. Jika kedua hakam tersebut bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberikan  taufiq kepada suami-istri itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. An-Nisaa: 35). Selain itu, salah satu hukum yang kuat memperlambat dan menghambat goncangan perceraian adalah kewajiban menjalani masa ‘iddah, yaitu batasan waktu yang telah ditentukan selama tiga quru’ artinya tiga kali suci dari masa haid.

Periode ‘iddah adalah masa di mana selama masa tersebut, menjadi tanggungjawab suami dan selama periode dia dapat menambatalkan perceraian dan kembali pada istrinya. Biaya periode ‘iddah menjadi tanggungan suami, dalam artian suami yang hendak menceraikan istrinya dan ingin menikah lagi dengan perempuan lain berkewajiban memberikan nafkah untuk mantan istrinya selama periode ‘iddah. Suami juga harus bertanggung jawab memikul biaya anak-anaknya yang merupakan buah perkawinan dengan mantan istrinya.

Menurut Prof. Nashir Makarim Syirazi mengenai masa ‘iddah, menjelaskn dua fungsi masa ‘iddah yang perlu dipahami yaitu.

1. Sarana perdamaian dan rujuk kembali

Faktor-faktor yang beragam bisa memicu terjadinya perceraian, dan biasanya perpecahan keluarga, menjadi awal hancurnya kehormatan dan menyebabkan berbagai masalah keluarga. Dalam aturan islam istri tidak diperbolehkan keluar dari rumah selama masa ‘iddah. Aturan ini akan memberikan pengaruh yang sangat baik untuk membangkitkan keinginan menyadari diri dan tentu saja akan memberikan pengaruh kepada perbaikan hubungan dengan suaminya. “… janganlah kamu keluarkan mereka dari rumah mereka …, kamu tidak mengetahui barangkali Allah mengadakan sesuatu yang baru.” (QS. A-Talaq: 1). “dan bila kamu menalak istri-istri kamu, lalu mereka mendekati akhir ‘iddah mereka , maka rujukilah mereka dengan cara yag terhormat, atau ceraikan mereka dengan cara yang terhormat pula….” (QS. Al-Baqarah: 231). Adanya masa ‘iddah hendaknya dimanfaatkan untuk mengenang kembali masa-masa bahagia, dan indahnya kehidupan sebelum perceraian, agar dapat mengembalikan rasa kasih sayang dan kedekatan yang hangat, juga akan memperkuat kecintaan yang telah memudar.

2. Sarana identifikasi keturunan

Bentuk lain dari substansi menjalani masa ‘iddah adalah untuk memperjelas keadaan perempuan dari sisi kehamilan. Benar apabila dikatakan bahwa dengan melihat satu kali haid, umumnya bisa disimpulkan bahwa seorang perempuan tidak sedang hamil. Akan tetapi, seringkali terjadi seorang perempuan mengalami haid diawal kehamilannya. Oleh karena itu, ditetapkan hukum bahwa masa ‘iddah perempuan adalah tiga kali keluarnya darah haid dan suci setelahnya, supaya diketahui bahwa ia tidak sedang mengandung anak dari suami yang lalu. “Dan perempuan-perempuan yang tidak haid lagi (monopause) di antara perempuan-perempuanmu, jika kamu ragu-ragu (tentang masa iddahnya), maka masa iddah mereka adalah tiga bulan, dan begitu pula perempuan-perempun yang tidak haid. Dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu ‘iddah mereka ialah sampai mereka melahirkan kandungnnya. Dan barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (QS. At-Talaq: 4).

Oleh karena itu, ketentuan masa ‘iddah merupakan ihwal yang bisa merintangi terjadinya perceraian. Sebagaimana bahwa dalam islam pernikahan adalah persatuan dan penyatuan, sedangkan perceraian adalah perpisahan dan pemecahan. Islam dalam posisi ini senantiasa mendukung “penyatuan” dan tidak menghendaki “perpisahan”, sehingga menetapkan periode bulanan sebagai sesuatu yang merintangi kehalalan dan keabsahan perceraian. Singkat kata, islam menyambut hangat (mengapresiasi) faktor-faktor yang bisa memengaruhi keutuhan rumah tangga terjalin kembali. (JNH/JN)

Wallahu A’lam Bisshawab

Berikan Tanggapan Anda

komentar untuk artikel ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.